Siklus Epos I La Galigo dari Sulawesi Selatan dan Penyebarannya
Arsip Budaya
Ringkasan
Esai ilmiah karya Andi Zainal Abidin Farid yang memperkenalkan siklus epos I La Galigo — korpus sastra lisan Bugis kuno tentang Batara Guru, Sawerigading, dan I La Galigo — dan menelusuri jejak penyebaran tokoh-tokohnya jauh melampaui Sulawesi Selatan: ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, hingga Malaysia dan Riau. Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh C. C. Macknight, dimuat dalam jurnal Indonesia (Cornell Modern Indonesia Project/Southeast Asia Program), No. 17, April 1974, hlm. 161-169.
Transkripsi
> **Catatan Redaksi:** Ringkasan berikut disusun oleh Tim Redaksi Banua Sappa' Digital berdasarkan artikel ilmiah karya (alm.) Prof. Dr. Andi Zainal Abidin Farid, S.H., "The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and Its Diffusion," diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh C. C. Macknight, dimuat dalam jurnal *Indonesia* (Cornell Modern Indonesia Project / Southeast Asia Program), No. 17 (April 1974), hlm. 161–169. Naskah lengkap (Bahasa Inggris) tersedia di [Cornell eCommons](https://ecommons.cornell.edu/entities/publication/ee79e74f-db4c-4600-bda7-9d4bbfe52fe4).
## Tentang artikel ini
Artikel "The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and Its Diffusion" karya (alm.) Prof. Dr. Andi Zainal Abidin Farid, S.H. adalah salah satu pengantar akademik paling awal dalam bahasa Inggris mengenai siklus epos I La Galigo — korpus sastra Bugis kuno yang oleh R. A. Kern disebut sebagai salah satu himpunan sastra terpanjang di dunia (sekitar 6.000 halaman naskah, tersebar antara perpustakaan Eropa — terutama Universitas Leiden — dan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara di Makassar).
Zainal Abidin membuka tulisannya dengan menegaskan bahwa I La Galigo bukanlah *lontara'* (sebutan umum naskah historiografi Bugis-Makassar), melainkan kisah legendaris yang seluruhnya berlatar sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan bersejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-14 — Gowa, Bone, Soppeng, Wajo', Suppa', dan Luwu'. Inti siklus ini adalah silsilah dewa-raja yang bermula dari La Patiganna (Raja Kayangan) hingga cicitnya, La Tenritatta', datu Luwu' terakhir pada zaman legendaris tersebut. Tokoh sentralnya, Sawerigading — putra Batara Lattu', kembar dari We Tenriyabeng, dan suami We Cudai dari Cina — digambarkan sebagai nakhoda pengembara yang mengarungi hampir seluruh Nusantara, disertai rombongan pengikut dari berbagai penjuru. Putranya, I La Galigo, mewarisi sifat serupa sebagai pengembara dan kesatria.
Bagian terbesar artikel ini menelusuri jejak nama Sawerigading dan I La Galigo jauh di luar Sulawesi Selatan — bukti, menurut penulis, dari persebaran orang Bugis sendiri. Di **Sulawesi Tengah** (lembah Palu, Donggala, dan wilayah Poso/Pamona), keduanya muncul dalam cerita rakyat tentang asal-usul raja-raja setempat. Di **Sulawesi Tenggara**, penguasa-penguasa awal Wolio (Buton) dan Muna mengklaim garis keturunan dari Sawerigading atau We Tenriyabeng, termasuk Sultan Buton pertama yang memeluk Islam, Murhum/Lakilaponto. Di **Gorontalo**, legenda "Sarigade" dan saudarinya Rawe menjelaskan asal-usul aristokrasi lokal di sekitar Teluk Tomini — meski Zainal Abidin menegaskan rincian kisah ini tak bisa diterima sebagai fakta sejarah harfiah, melainkan sebagai pengakuan pengaruh budaya Sulawesi Selatan.
Bagian paling substansial secara historis adalah persebaran ke **Malaysia dan Riau**, yang oleh penulis dikaitkan dengan migrasi nyata orang Bugis-Makassar pasca-Perjanjian Bungaya (1667) dan jatuhnya Tosora (1670). Keturunan Opu Tenriburong Daeng Rilakka' — termasuk Daeng Parani, ayah Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Muda Riau ketiga) — menjadi leluhur para sultan Selangor dan Johor hingga kini. Naskah Melayu *Tuhfat al-Nafis* abad ke-19 bahkan memuat silsilah yang sejajar persis dengan urutan Batara Guru–Batara Lattu'–Sawerigading–La Galigo dalam I La Galigo, meski dengan asal-usul berbeda (dari Putri Balkis, bukan Kayangan).
Zainal Abidin menutup artikelnya dengan menyimpulkan bahwa di balik ragam versi ini, Sawerigading dan I La Galigo secara konsisten diakui sebagai purwarupa perantau Bugis yang pemberani dan pekerja keras — sebuah kisah masa lalu yang menurutnya berfungsi mempersatukan dan meredakan konflik antarkelompok di Sulawesi. Ia menutup dengan harapan agar sketsa perbandingan ini menjadi pijakan bagi analisis antropologis yang lebih mendalam oleh para peneliti Indonesia.
---
*Sitasi: Andi Zainal Abidin, "The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and Its Diffusion," diterjemahkan dan diadaptasi oleh C. C. Macknight,* Indonesia*, No. 17 (April 1974), Cornell Modern Indonesia Project / Southeast Asia Program, hlm. 161–169. [Baca naskah lengkap di Cornell eCommons](https://ecommons.cornell.edu/entities/publication/ee79e74f-db4c-4600-bda7-9d4bbfe52fe4).*
Sumber
Indonesia, No. 17 (April 1974), Cornell Modern Indonesia Project / Southeast Asia Program, hlm. 161-169
Jenis arsip
scientific_publication
Lokasi
Sulawesi Selatan (dengan jejak persebaran ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Malaysia-Riau)
Periode
1974