Wawancara dengan Rhoda Grauer tentang perannya dalam pementasan teaterikal epos I La Galigo 2004

Arsip Budaya

Ringkasan

Wawancara ini merekam penuturan Rhoda Grauer mengenai perannya sebagai dramaturg dalam proses penciptaan pertunjukan I La Galigo. Ia menjelaskan perjalanan riset, kerja bersama penerjemah, akademisi, tokoh adat, komunitas bissu, dan seniman Indonesia, serta tantangan menyusun epos yang sangat panjang menjadi struktur dramatik untuk panggung internasional. Wawancara ini juga memperlihatkan upayanya menjaga keterhubungan produksi dengan masyarakat sumber dan akar kebudayaan Sureq Galigo.

Transkripsi

> **Catatan Penyuntingan.** Dokumen ini merupakan transkrip bersih berbasis subtitle TTML yang dicocokkan secara kontekstual dengan video. Pengulangan akibat sistem rolling captions, jeda teknis, percakapan kru, dan kata pengisi telah diringkas. Urutan gagasan, isi utama, dan nada penuturan dipertahankan. Karena tidak tersedia model pengenal suara lokal untuk pemeriksaan fonetik penuh, beberapa nama khusus diberi catatan verifikasi di bagian akhir.

## Ringkasan Utama

Rhoda Grauer menjelaskan bahwa gagasan pementasan I La Galigo lahir ketika ia meneliti komunitas bissu di Sulawesi Selatan. Kesulitan bahasa Galigo, panjang epos, sedikitnya pembaca yang masih memahami teks, dan belum dikenalnya karya tersebut di panggung dunia mendorongnya mengajak Robert Wilson. Proses praproduksi bertumpu pada tiga perjuangan: memahami dan memadatkan teks bersama Muhammad Salim serta para sarjana; memperoleh legitimasi dari komunitas tradisional Luwu melalui Andi Anthon; dan memastikan produksi tetap berakar di Indonesia melalui pemeran, musik, material, dan mitra kreatif Indonesia. Grauer mengakui kecemasannya sebagai orang luar, tetapi memandang pengenalan I La Galigo kepada dunia memiliki nilai yang lebih besar daripada risiko penyederhanaan atau kontroversi.

## Transkrip Bersih Dwibahasa

### 00:00:35–00:01:55 | Peran Rhoda Grauer dalam produksi

**English (cleaned):** My name is Rhoda Grauer, and my role in I La Galigo is varied. Now that the production is moving forward, I suppose I am what is called a dramaturg: the person who is familiar with the whole story, if such a thing is possible with this story, and then shapes it for the theatre. That is my primary role at this stage. Before that, and continuing now, I have collaborated with Restu Imansari Kusumaningrum in bringing together the Indonesian elements of the production, communicating with scholars in Makassar, and trying to understand the needs of the Indonesian performers so that they can work at their best and feel comfortable and happy.

**Bahasa Indonesia:** Nama saya Rhoda Grauer. Peran saya dalam I La Galigo cukup beragam. Ketika produksi mulai benar-benar berjalan, saya kira peran saya dapat disebut sebagai dramaturg: orang yang mengenal keseluruhan cerita, sejauh hal itu mungkin untuk cerita sebesar ini, lalu membentuknya agar dapat hadir di panggung teater. Itulah peran utama saya pada tahap ini. Sebelumnya, dan masih terus berlangsung, saya bekerja bersama Restu Imansari Kusumaningrum untuk menghimpun seluruh unsur Indonesia dalam produksi, berkomunikasi dengan para sarjana di Makassar, serta memahami kebutuhan para pemain Indonesia agar mereka dapat bekerja sebaik mungkin dengan nyaman dan bahagia.

### 00:01:55–00:04:18 | Pertemuan pertama dengan I La Galigo

**English (cleaned):** This may be the most exciting thing that has ever happened to me. I was working on a film in South Sulawesi about the bissu priests, focusing on Puang Matoa Saidi, who is now in this production. The person helping with my research told me that if I truly wanted to understand the bissu, rather than make a superficial travelogue, I had to know I La Galigo. My first reaction was: what is I La Galigo? He said it was the most important epic of the Bugis people of South Sulawesi. I assumed I could simply buy it, read it, understand it, and then continue my film. That was not the case. I discovered that it was believed to be the longest text in the world, perhaps one and a half or twice the length of the Mahabharata; that it was written in an archaic poetic language, often called Old or Classical Bugis; and that although the script can be sounded out by contemporary Bugis readers, the vocabulary and dense poetry make its meaning difficult to understand. I was also told that fewer than fifty living people could still read and understand it. That began to obsess me. I could not believe that, around the year 2000, such a great epic had not already been translated, analysed, staged, filmed, and introduced to the world. One morning I woke up thinking that it could become a fantastic piece of theatre. The descriptions were intensely visual and charming.

**Bahasa Indonesia:** Proyek ini mungkin merupakan hal paling menggairahkan yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saat itu saya sedang mengerjakan film di Sulawesi Selatan mengenai para bissu, dengan Puang Matoa Saidi sebagai tokoh utama, dan kini ia juga terlibat dalam produksi ini. Orang yang membantu riset saya mengatakan bahwa apabila saya sungguh-sungguh ingin memahami bissu, bukan sekadar membuat film perjalanan yang dangkal, saya harus mengenal I La Galigo. Reaksi pertama saya adalah: apa itu I La Galigo? Ia menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan epos terpenting masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Saya mengira saya tinggal membeli bukunya, membacanya, memahaminya, lalu melanjutkan film. Ternyata tidak sesederhana itu. Saya mengetahui bahwa teks tersebut dianggap sebagai salah satu teks terpanjang di dunia, mungkin satu setengah hingga dua kali panjang Mahabharata; ditulis dalam bahasa puitik arkais yang sering disebut bahasa Bugis Kuno atau Bugis Klasik; dan meskipun aksaranya dapat dilafalkan oleh pembaca Bugis masa kini, kosakata serta kepadatan puisinya membuat maknanya sulit dipahami. Saya juga mendengar bahwa kurang dari lima puluh orang yang masih hidup mampu membaca sekaligus memahaminya. Informasi itu mulai menghantui pikiran saya. Saya tidak percaya bahwa pada sekitar tahun 2000 masih ada sebuah epos besar yang belum diterjemahkan, dianalisis, dipentaskan, difilmkan, dan diperkenalkan secara luas kepada dunia. Suatu pagi saya terbangun dengan pikiran bahwa karya ini dapat menjadi pertunjukan teater yang luar biasa. Deskripsi-deskripsinya sangat visual dan memikat.

### 00:04:18–00:06:59 | Mengajak Robert Wilson dan mencari produser

**English (cleaned):** I immediately thought of approaching Robert Wilson. I had lived in Indonesia since 1997 and had worked with Bob in America many years earlier. I knew that he loved Indonesia and visited regularly. The final piece was my friend Restu. She had recently been in one of Bob's productions, was close to him, and had the Bali Purnati Center for the Arts. I asked whether she thought this was a good idea. She said it was great and that we should try. When Bob came to Indonesia for Christmas, we invited him to lunch and gave him the world's shortest version of the world's longest text. He loved it. He warned us that he was booked for four years and that we had no producer, money, or technical theatre team, but he said we should try to find them. He invited Restu and me to the Watermill Center on Long Island, where we presented the story, culture, and background. Elisabetta di Mambro of Change Performing Arts introduced herself afterward. She had produced many of Bob's works and offered to present the project to her partner. From there, it simply kept moving forward. I am naturally cynical and always expected it to collapse at the next stage, but thankfully it continued.

**Bahasa Indonesia:** Saya segera berpikir untuk mendekati Robert Wilson. Saya telah tinggal di Indonesia sejak 1997 dan pernah bekerja bersama Bob di Amerika bertahun-tahun sebelumnya. Saya mengetahui kecintaannya kepada Indonesia dan kebiasaannya datang ke sini. Mata rantai terakhir adalah sahabat saya, Restu. Ia baru saja terlibat dalam salah satu produksi Bob, memiliki hubungan dekat dengannya, dan mengelola Bali Purnati Center for the Arts. Saya bertanya apakah gagasan ini masuk akal. Ia menjawab bahwa gagasan itu sangat baik dan harus dicoba. Ketika Bob datang ke Indonesia untuk liburan Natal, kami mengundangnya makan siang dan menyampaikan versi terpendek di dunia dari teks terpanjang di dunia. Ia menyukainya. Ia memperingatkan bahwa jadwalnya telah penuh selama empat tahun dan kami belum memiliki produser, dana, maupun tenaga teknis teater, tetapi ia mengatakan agar kami mencoba menemukannya. Bob mengundang saya dan Restu ke Watermill Center di Long Island. Di sana kami mempresentasikan cerita, kebudayaan, dan latar belakang I La Galigo. Setelah itu, Elisabetta di Mambro dari Change Performing Arts memperkenalkan diri. Ia telah memproduksi banyak karya Bob dan menawarkan untuk membawa proyek ini kepada mitranya. Sejak saat itu, proyek terus bergulir. Saya cenderung sinis dan selalu menduga proyek akan runtuh pada tahap berikutnya, tetapi syukurlah ia terus berjalan.

### 00:06:59–00:09:36 | Tantangan pertama: bahasa, teks, dan tanggung jawab terhadap pemilik tradisi

**English (cleaned):** There were perhaps three major hurdles. The first was the text itself. In its entirety, it exists only in its old language, sometimes called the Galigo language. Very little had been translated even into Indonesian, and nothing substantial was available in English. I was fortunate to meet Muhammad Salim, probably the living person who had translated more of I La Galigo than anyone else. This had been his life's work. With extraordinary generosity, he opened everything he had to me, creating a strong sense of responsibility toward him and toward the text. He translated material for me, told me the story, and reviewed my condensation of what, in his telling, would have taken three years to stage. The challenge was not only to make the story theatrically effective and capable of holding an audience, but also to make it right in the eyes of the people who, in a sense, own it: the people of South Sulawesi. Muhammad Salim was one among many scholars who assisted us, including Fachruddin Ambo Enre and researchers in South Sulawesi and Europe. Their knowledge helped us navigate the story and text.

**Bahasa Indonesia:** Terdapat kira-kira tiga rintangan besar. Rintangan pertama adalah teks itu sendiri. Dalam bentuk lengkapnya, teks tersebut hanya tersedia dalam bahasa lamanya, yang kadang disebut bahasa Galigo. Hanya sebagian kecil yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan hampir tidak tersedia bahan yang memadai dalam bahasa Inggris. Saya sangat beruntung dipertemukan dengan Muhammad Salim, mungkin orang yang masih hidup dan telah menerjemahkan bagian I La Galigo lebih banyak daripada siapa pun. Pekerjaan ini telah menjadi pengabdian hidupnya. Dengan kemurahan hati yang luar biasa, ia membuka seluruh bahan yang dimilikinya kepada saya. Hal itu menumbuhkan rasa tanggung jawab besar, baik terhadap dirinya maupun terhadap teks tersebut. Ia menerjemahkan bahan untuk saya, menuturkan ceritanya, dan meninjau kembali ringkasan yang saya susun dari kisah yang menurut penuturannya akan membutuhkan tiga tahun untuk dipentaskan. Tantangannya bukan hanya membuat cerita itu bekerja secara teatrikal dan mampu mempertahankan perhatian penonton, tetapi juga membuatnya benar di mata masyarakat yang, dalam pengertian tertentu, memilikinya: masyarakat Sulawesi Selatan. Muhammad Salim adalah salah satu dari banyak sarjana yang membantu, termasuk Fachruddin Ambo Enre serta sejumlah peneliti di Sulawesi Selatan dan Eropa. Pengetahuan mereka membantu kami menavigasi cerita dan teks.

### 00:09:36–00:11:26 | Tantangan kedua: meminta izin kepada komunitas tradisional Luwu

**English (cleaned):** The next issue was permission. The scholars welcomed the project because someone was finally doing something with the body of literature to which they had devoted their professional lives. But we also needed permission from the traditional community. Restu took the lead because there is a world of mysticism and traditional belief that, no matter how long I live in Indonesia, I will never fully understand. She found Andi Anthon in Luwu, the place of origin of I La Galigo, where a traditional mystical community still exists. Andi Anthon took us there and introduced us to a traditional priestly figure, a woman addressed as Puang. We asked permission from the ancestors and the people of Luwu to work with the text. She remained silent for some time while we waited, then said, 'Yes, it is good. Please do it.' At that point, we felt that both the scholars and the community were on our side and believed the work should be shared with the rest of the world.

**Bahasa Indonesia:** Persoalan berikutnya adalah izin. Para sarjana menyambut proyek ini karena akhirnya ada pihak yang melakukan sesuatu terhadap khazanah sastra yang telah mereka tekuni sepanjang karier. Namun, kami juga membutuhkan izin dari komunitas tradisional. Restu berada di garis depan karena terdapat dunia mistisisme dan kepercayaan tradisional yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya saya pahami, betapapun lamanya saya tinggal di Indonesia. Ia menemukan Andi Anthon di Luwu, wilayah yang dipandang sebagai tempat asal I La Galigo dan masih memiliki komunitas mistik tradisional. Andi Anthon membawa kami ke sana dan memperkenalkan kami kepada seorang tokoh ritual perempuan yang disapa Pua. Kami memohon izin kepada leluhur dan masyarakat Luwu untuk mengolah teks tersebut. Ia terdiam cukup lama sementara kami menunggu, kemudian berkata, 'Ya, ini baik. Silakan lakukan.' Pada saat itulah kami merasa bahwa para sarjana dan komunitas sama-sama berada di pihak kami serta percaya bahwa karya ini patut dibagikan kepada dunia.

### 00:11:26–00:13:44 | Tantangan ketiga: memastikan produksi berakar di Indonesia

**English (cleaned):** The third challenge was persuading the producers and Bob that the production should be created in Indonesia, with an Indonesian cast, sourced and researched in Indonesia. Bob has an extraordinary international team of collaborators and naturally feels comfortable working with them. Restu and I took the position that if something genuinely could not be provided in Indonesia, we would gladly work with non-Indonesians; but whenever it could be done here, we wanted it done here. We recommended several composers, and after listening, Bob selected Rahayu Supanggah. In areas such as lighting, where young Indonesian designers had not yet worked in enormous theatres with hundreds of lights and thousands of cues, we paired international specialists with Indonesian counterparts. The same approach applied to costumes: Bob's longtime German costume designer worked with Bin House, which provided Indonesian fabrics. This required persuasion, but Change Performing Arts and Bob were extraordinarily supportive and open. That openness was fortunate for Indonesia and Indonesian arts.

**Bahasa Indonesia:** Tantangan ketiga adalah meyakinkan produser dan Bob bahwa produksi ini harus dikerjakan di Indonesia, dengan pemeran Indonesia, serta bertumpu pada sumber dan penelitian di Indonesia. Bob memiliki tim kolaborator internasional yang luar biasa dan tentu nyaman bekerja bersama mereka. Saya dan Restu mengambil sikap bahwa apabila suatu kebutuhan benar-benar tidak dapat disediakan di Indonesia, kami bersedia bekerja dengan tenaga non-Indonesia. Namun, selama dapat dikerjakan di sini, kami ingin melakukannya di sini. Kami merekomendasikan beberapa komponis dan setelah mendengarkan karya mereka, Bob memilih Rahayu Supanggah. Dalam bidang seperti tata cahaya, ketika para perancang muda Indonesia belum berpengalaman bekerja di teater sangat besar dengan ratusan lampu dan ribuan isyarat teknis, kami memasangkan tenaga internasional dengan mitra Indonesia. Pendekatan serupa diterapkan pada kostum: perancang kostum asal Jerman yang lama bekerja bersama Bob dipasangkan dengan Bin House sebagai penyedia kain Indonesia. Proses ini membutuhkan upaya meyakinkan, tetapi Change Performing Arts dan Bob menunjukkan dukungan serta keterbukaan yang luar biasa. Keterbukaan tersebut merupakan keberuntungan bagi Indonesia dan kesenian Indonesia.

### 00:13:44–00:15:13 | Lokakarya, audisi, dan pertemuan dua sistem kerja

**English (cleaned):** Once the workshops began, the process felt almost magical. Restu was wise and sensitive in selecting the artists to present to Bob. More than eighty performers were invited to the first workshop, knowing that the final company would be around forty. Bob and associate director Ann-Christin Rommen were remarkably perceptive in making their selections. Had they been able, they might have kept all eighty. After the process started, the collaboration between the Indonesian performers and the international creative team did not present the problems we had feared.

**Bahasa Indonesia:** Setelah lokakarya dimulai, prosesnya terasa nyaris ajaib. Restu sangat bijaksana dan peka dalam memilih seniman yang akan diperkenalkan kepada Bob. Lebih dari delapan puluh pemain diundang ke lokakarya pertama, dengan kesadaran bahwa kelompok akhir akan berjumlah sekitar empat puluh orang. Bob dan sutradara pendamping Ann-Christin Rommen menunjukkan ketajaman luar biasa dalam memilih. Seandainya mungkin, barangkali mereka ingin mempertahankan kedelapan puluh orang tersebut. Setelah proses berjalan, kolaborasi antara para pemain Indonesia dan tim kreatif internasional ternyata tidak menimbulkan persoalan sebesar yang semula kami khawatirkan.

### 00:15:13–00:18:21 | Meringkas ribuan halaman menjadi struktur teater

**English (cleaned):** It took a long time to shape the story. Looking at the result now, it seems simple and linear, but I could not have written an outline when Bob first asked for one two and a half years earlier. I needed sustained work with people who knew the story. One option was to take a single episode from the more than fifty episodes, each of which can run for hundreds or even a thousand pages. Some scholars recommended that approach. But for me, the epic quality of I La Galigo lies in the cycle: the beginning of the ruling order in the Middle World, the first seven generations of the descendants of the gods, the end of those seven generations, and the beginning of another cycle. That was also why Robert Wilson seemed the ideal interpreter: his visual imagination could create and destroy a world on stage. Once we decided to begin at the beginning and end at the end of the epic, the next decision was to center Sawerigading as the hero. In the original cycle he is not born until almost a third of the way through, and the story continues long after he is united with his destined wife, We Cudai. I condensed the material leading to his birth, devoted substantial time to his story, and then compressed the generations from the birth of their child, I La Galigo, to the conclusion. My version contains four generations where the full cycle has seven.

**Bahasa Indonesia:** Membentuk cerita itu membutuhkan waktu panjang. Ketika melihat hasil akhirnya, alurnya tampak sederhana dan linear, tetapi saya tidak sanggup menyusun kerangka cerita ketika Bob pertama kali memintanya dua setengah tahun sebelumnya. Saya membutuhkan proses panjang bersama orang-orang yang benar-benar mengenal kisah tersebut. Salah satu pilihan adalah mengambil hanya satu dari lebih dari lima puluh episode, yang masing-masing dapat mencapai ratusan bahkan seribu halaman. Sejumlah sarjana menyarankan cara itu. Namun bagi saya, sifat epik I La Galigo justru berada pada siklusnya: awal terbentuknya tatanan kekuasaan di Dunia Tengah, tujuh generasi pertama keturunan para dewa, berakhirnya tujuh generasi itu, lalu dimulainya siklus baru. Inilah alasan lain mengapa Robert Wilson tampak sebagai penafsir yang ideal. Imajinasi visualnya memungkinkan dunia diciptakan dan dihancurkan di atas panggung. Setelah diputuskan bahwa pertunjukan akan dimulai dari awal dan berakhir pada penghujung epos, keputusan berikutnya adalah menempatkan Sawerigading sebagai tokoh utama. Dalam siklus aslinya, ia baru lahir setelah hampir sepertiga cerita berjalan, dan kisah masih berlanjut panjang setelah ia bersatu dengan pasangan yang ditakdirkan baginya, We Cudai. Saya memadatkan bagian menuju kelahirannya, memberi ruang besar pada kisah Sawerigading, lalu meringkas perjalanan generasi sejak kelahiran anak mereka, I La Galigo, hingga akhir cerita. Versi saya memuat empat generasi, sedangkan siklus lengkapnya mencakup tujuh.

### 00:18:21–00:22:23 | Kecemasan, risiko, dan nilai membawa I La Galigo ke dunia

**English (cleaned):** I have probably never been more nervous about anything in my life. I try not to dwell on it because the fear could stop me or stop the project. About ninety percent of the people we met in South Sulawesi wanted the story shared. They believed it was a great work of world literature and wanted the rest of the world to know it. People in traditional communities in Luwu also felt that international recognition could make their sacred relationship with the text easier to understand within Indonesia. They would be less likely to be dismissed as a pagan subculture and more likely to be seen as a people connected to something as great, in their own terms, as the Bible or the Qur'an. Still, there will inevitably be people in South Sulawesi and elsewhere who are unhappy. In theatre and film, no matter how carefully one works, someone will be disappointed and mistakes will be made. Yet Muhammad Salim, the other scholars, Restu, Bob, and I believed that the value of launching this story into the world would far outweigh the possible harm. We were frightened, but we believed we were doing something valuable. As for being an outsider, outsiders often notice what local people no longer see because familiarity has made it invisible. Cultures have repeatedly been renewed through such encounters. I have experienced this project as a gift.

**Bahasa Indonesia:** Saya mungkin tidak pernah merasa secemas ini terhadap sesuatu sepanjang hidup. Saya berusaha tidak terus memikirkannya karena ketakutan itu dapat menghentikan saya atau menghentikan seluruh proyek. Sekitar sembilan puluh persen orang yang kami temui di Sulawesi Selatan menginginkan cerita ini dibagikan. Mereka percaya bahwa I La Galigo adalah karya besar sastra dunia dan ingin dunia mengenalnya. Masyarakat tradisional di Luwu juga merasa bahwa pengakuan internasional dapat membantu hubungan sakral mereka dengan teks tersebut lebih mudah dipahami di Indonesia. Mereka tidak lagi mudah dipandang sebagai subkultur pagan, tetapi sebagai masyarakat yang terhubung dengan sesuatu yang, menurut ukuran mereka sendiri, sama agungnya dengan Alkitab atau Al-Qur'an. Meskipun demikian, pasti akan ada orang di Sulawesi Selatan maupun tempat lain yang tidak puas. Dalam teater dan film, betapapun hati-hatinya kita bekerja, selalu ada orang yang kecewa dan kesalahan tetap mungkin terjadi. Namun Muhammad Salim, para sarjana lain, Restu, Bob, dan saya percaya bahwa manfaat membawa kisah ini ke dunia jauh melampaui kemungkinan dampak buruknya. Kami takut, tetapi kami juga percaya sedang melakukan sesuatu yang bernilai. Mengenai posisi saya sebagai orang luar, orang dari luar suatu kebudayaan kerap melihat sesuatu yang tidak lagi tampak bagi masyarakat setempat karena telah terlalu akrab dengannya. Dalam sejarah, kebudayaan berulang kali memperoleh kehidupan baru melalui perjumpaan semacam itu. Saya mengalami proyek ini sebagai sebuah anugerah.

## Kutipan Pendek yang Berguna untuk Artikel

- **00:02:55** — "Saya berpikir: mungkinkah pada tahun 2000 masih ada sebuah epos besar yang belum diterjemahkan, dianalisis, dipentaskan, difilmkan, dan diolah dunia?" *Original: "I thought: is it possible that in the year 2000 there is a great epic poem that the whole world hasn't already translated, analysed, staged, filmed, everything?"* - **00:04:55** — "Kami memberi Robert Wilson versi terpendek di dunia dari teks terpanjang di dunia." *Original: "We gave him the world's shortest version of the world's longest text."* - **00:08:05** — "Kisah itu harus bekerja secara teatrikal, tetapi juga harus benar di mata masyarakat yang, dalam pengertian tertentu, memilikinya." *Original: "It had to be theatrical, but also right in the eyes of the people who, in a sense, own this."* - **00:10:40** — "Kami meminta izin kepada leluhur dan masyarakat Luwu untuk mengolah teks ini." *Original: "We asked permission of the ancestors and the people of Luwu to work with this text."* - **00:16:20** — "Sifat epik I La Galigo berada pada siklusnya." *Original: "The epic nature of I La Galigo is the cycle."* - **00:20:45** — "Manfaat membawa kisah ini ke dunia akan jauh melampaui kemungkinan dampak buruknya." *Original: "The upside of launching this story into the world will outweigh by far the potential downside."*

## Tema Editorial yang Muncul

- **Penemuan yang bermula dari riset bissu:** I La Galigo masuk ke dalam hidup Grauer bukan melalui proyek teater, melainkan melalui kebutuhan memahami asal-usul dan kosmologi bissu. - **Dramaturgi sebagai kerja penerjemahan budaya:** Grauer tidak sekadar memotong cerita. Ia berusaha menyeimbangkan kebutuhan teater dengan tanggung jawab kepada masyarakat sumber. - **Andi Anthon sebagai penjaga pintu budaya:** Kesaksian Grauer menempatkan Andi Anthon sebagai penghubung menuju komunitas tradisional Luwu dan proses permohonan izin. - **Produksi internasional yang diperjuangkan agar tetap Indonesia:** Pemeran, komposer, tekstil, riset, dan mitra kreatif Indonesia bukan aksesori, melainkan prinsip produksi yang diperjuangkan Grauer dan Restu. - **Siklus, bukan satu episode:** Keputusan dramaturgis terpenting adalah mempertahankan sifat siklik epos, dari turunnya generasi dewa sampai berakhirnya satu zaman. - **Ketegangan posisi orang luar:** Grauer mengakui potensi kritik, kesalahan, dan kekecewaan, tetapi melihat orang luar juga dapat menemukan kembali sesuatu yang telah menjadi tidak terlihat karena terlalu akrab.

---

*Sumber: video wawancara tahun 2004 dan subtitle TTML yang diunggah pengguna.*

Jenis arsip

video

Lokasi

Bali, Indonesia

Periode

2004