Paseng To Ciung Maccae ri Luwu: Ajaran Nurani, Keadilan, dan Persatuan Kedatuan
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
To Ciung Maccae ri Luwu adalah figur bijak legendaris dalam ingatan Kedatuan Luwu — bukan pejabat istana, namun pemberi paseng yang kata-katanya menjadi pedoman. Ajaran-ajarannya tentang nurani, kejujuran, keteguhan, keadilan, dan persatuan terus hidup dalam cara Kedatuan Luwu memerintah dan rakyatnya bermasyarakat.

Dalam ingatan kolektif Kedatuan Luwu, ada satu figur yang tidak menempati kursi di istana, tidak memegang pedang, tidak memimpin pasukan — namun pengaruhnya terasa di setiap sendi kehidupan sosial dan politik kerajaan. Ia adalah To Ciung Maccae ri Luwu, sang bijak legendaris, pemberi paseng yang menjadi pedoman bagi Datu dan rakyat.
Maccae berarti cendekia, orang yang berakal tajam. To Ciung adalah sebutan yang mengandung rasa hormat mendalam — ia yang dikenal bijak, yang kata-katanya ditimbang seperti emas. Kedudukannya bukan jabatan struktural, namun justru di situlah letak kekuatannya: ia berbicara dari nurani, bukan dari kepentingan.
Tentang Paseng
Paseng dalam tradisi Bugis-Luwu bukan sekadar petuah. Ia adalah amanah yang hidup — diwariskan dari mulut ke mulut, diulangi dalam sidang adat, dibisikkan kepada anak cucu sebelum tidur. Paseng To Ciung bukanlah kumpulan aturan kaku, melainkan prinsip hidup yang fleksibel namun tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi moral.
Lima Pilar Ajaran To Ciung
1. Nurani sebagai Kompas Tertinggi
To Ciung mengajarkan bahwa setiap manusia — raja sekalipun — tunduk pada satu kekuasaan yang tidak kasat mata: hati nuraninya sendiri. Ketika keputusan besar harus diambil, pertanyaan pertama bukan apa yang menguntungkan, melainkan apa yang benar.
"Resopa temmangingi namalomo naletei pammase Dewata."
(Hanya kerja keras yang tak kenal lelah yang mendapat rahmat Tuhan.)
Sebuah kalimat yang terus bergema dalam tradisi Luwu: bahwa hasil tidak pernah terpisah dari proses, dan proses tidak pernah terpisah dari niat.
2. Kejujuran sebagai Pondasi Kekuasaan
Bagi To Ciung, pemimpin yang berbohong adalah pemimpin yang sedang meruntuhkan pondasinya sendiri. Kejujuran bukan sekadar nilai moral — ia adalah strategi bertahan jangka panjang. Rakyat dapat memaafkan kekeliruan, namun mereka tidak mudah melupakan pengkhianatan.
Kedatuan yang kuat dibangun bukan dari tembok yang tinggi atau pasukan yang banyak, melainkan dari kepercayaan antara pemimpin dan yang dipimpin.
3. Keteguhan dalam Prinsip
To Ciung mengajarkan bahwa seorang pemimpin boleh berubah pikiran, tapi tidak boleh berubah karakter. Keteguhan bukan berarti keras kepala — ia berarti mengetahui batas-batas yang tidak boleh dilintasi, meski ada tekanan dari luar.
Dalam sidang adat, suara To Ciung sering menjadi penimbang: bukan untuk memihak, melainkan untuk mengembalikan diskusi kepada nilai-nilai yang telah disepakati bersama.
4. Keadilan sebagai Roh Pemerintahan
Tidak ada satu pun ajaran To Ciung yang sering dikutip seperti ajaran tentang keadilan. Baginya, ketidakadilan adalah racun paling lambat tapi paling mematikan bagi sebuah kerajaan.
"Aja mupaoppangi ri olona tau maega narekko dé'na adileng."
(Jangan berdiri di hadapan orang banyak jika tidak bisa berlaku adil.)
Keadilan dalam pandangan To Ciung mencakup keadilan hukum, keadilan ekonomi, dan — yang paling sering dilupakan — keadilan dalam mendengar. Setiap suara rakyat berhak didengar sebelum putusan dijatuhkan.
5. Persatuan sebagai Kekuatan Sejati
To Ciung memahami bahwa Kedatuan Luwu berdiri bukan karena satu orang yang kuat, melainkan karena banyak orang yang bersatu. Perpecahan di kalangan petinggi adalah undangan bagi kehancuran.
Ia mengajarkan agar ade' (adat), bicara (hukum), rapang (norma), dan wari' (aturan kepangkatan) dijaga bersama-sama — bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai kesadaran kolektif bahwa tatanan sosial adalah milik bersama.
Warisan yang Hidup
To Ciung tidak meninggalkan prasasti. Tidak ada makam yang diketahui pasti, tidak ada naskah yang secara eksplisit ditandatangani atas namanya. Namun jejaknya justru ada di mana-mana: dalam cara Datu memerintah, dalam cara sidang adat berlangsung, dalam cara rakyat Luwu memaknai kata macca — cerdas, tapi selalu diiringi lempu' — jujur.
Itulah warisan To Ciung Maccae ri Luwu: bukan bangunan megah, bukan kemenangan perang, melainkan sebuah cara melihat dunia — dengan mata yang jernih, hati yang tulus, dan niat yang tidak pernah jauh dari kebenaran.
Artikel ini merupakan bagian dari seri dokumentasi kearifan Kedatuan Luwu oleh Banua Sappa' Digital.