Andi Djemma: Datu Luwu yang Mengangkat Senjata demi Sang Merah Putih
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Ketika Belanda kembali berkuasa di Sulawesi Selatan pada akhir 1945, seorang raja dari Tana Luwu memilih jalan yang jarang ditempuh bangsawan sezamannya: mengangkat senjata. Inilah kisah Andi Djemma, Datu Luwu yang baru mendapat gelar Pahlawan Nasional 37 tahun setelah wafatnya.

Di banyak daerah bekas kerajaan Nusantara, transisi dari zaman kolonial ke era kemerdekaan sering diwarnai sikap menunggu dari kalangan bangsawan lama. Luwu, kedatuan tertua di Sulawesi Selatan, punya kisah berbeda. Datu-nya yang menjabat pada masa revolusi, Andi Djemma, justru memilih berdiri paling depan melawan upaya Belanda menegakkan kembali kekuasaannya, dengan risiko kehilangan takhta, kebebasan, bahkan nyawa.
Dari Meja Wedana ke Singgasana Luwu
Andi Djemma lahir di Palopo pada 15 Januari 1901. Sebagai putra dari lingkungan bangsawan Luwu, ia mengenyam pendidikan formal yang terbatas, hanya hingga sekolah dasar, namun sejak muda sudah ditempa dalam birokrasi pemerintahan swapraja. Antara tahun 1919 hingga 1923 ia bertugas sebagai wedana atau kepala pemerintahan setingkat kawedanan di Kolaka, Sulawesi Tenggara, wilayah yang secara historis berada dalam pengaruh Kedatuan Luwu.
Sepeninggal ayahnya, Andi Djemma menjadi salah satu kandidat kuat pewaris takhta Luwu dan akhirnya dilantik sebagai Datu, kepala pemerintahan Swapraja Luwu, pada masa ketika kekuasaan kolonial Hindia Belanda perlahan mulai goyah oleh pendudukan Jepang dan gelombang nasionalisme yang merambat hingga ke pelosok Sulawesi.
Ultimatum 48 Jam dan Pertempuran Palopo
Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945 dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pasukan Sekutu—dalam hal ini Australia—mendarat di Sulawesi Selatan untuk melucuti tentara Jepang, namun kedatangan mereka dibonceng oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang hendak mengembalikan kekuasaan Belanda. Ketegangan meningkat tajam ketika, atas desakan Belanda, pengibaran bendera Merah Putih di wilayah Luwu dilarang.
Andi Djemma menolak tunduk. Ia melayangkan ultimatum kepada pihak Belanda agar meninggalkan wilayah Luwu dalam waktu 48 jam. Ultimatum itu tidak diindahkan, dan pada 23 Januari 1946 pecahlah pertempuran terbuka di Palopo antara laskar rakyat Luwu dan pasukan Belanda beserta unsur Sekutu. Tanggal ini kelak dikenang sebagai salah satu hari perlawanan rakyat paling heroik di Sulawesi Selatan pada masa awal revolusi.
Untuk mendukung perlawanan, Andi Djemma membentuk laskar rakyat yang salah satunya diberi nama Sukarno Muda, yang belakangan dipimpin oleh putranya sendiri, Andi Makkalau. Laskar-laskar ini pada mulanya menyasar pos-pos senjata peninggalan Jepang sebelum kemudian berhadapan langsung dengan pasukan kolonial yang jauh lebih lengkap persenjataannya.
Benteng Batuputih dan Harga Sebuah Perlawanan
Kekuatan militer Belanda yang superior membuat Palopo akhirnya jatuh. Andi Djemma tidak menyerah; ia memindahkan pusat perlawanan ke wilayah Sulawesi Tenggara dan mendirikan markas pemerintahan darurat di sebuah kubu pertahanan bernama Benteng Batu putih, di kampung Latou. Pada Maret 1946, ia membentuk Pembela Keamanan Rakyat (PKR) Luwu sebagai organisasi perlawanan yang lebih terstruktur.
Benteng itu bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya jatuh setelah Belanda berhasil menyusup dari arah yang tidak terduga. Andi Djemma ditangkap bersama sejumlah pengikutnya, sempat dipindahkan ke Selayar, sebelum akhirnya diasingkan ke Ternate menyusul vonis yang dijatuhkan pada 3 Juli 1948. Ia baru kembali menghirup udara bebas dan pulang ke Makassar pada Maret 1950, setelah Konferensi Meja Bundar mengakhiri kedaulatan Belanda atas Indonesia.
Pengakuan yang Datang Terlambat
Andi Djemma wafat di Makassar pada 23 Februari 1965 dan dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Makam Pahlawan Panaikang. Namun pengakuan resmi negara atas jasanya baru datang jauh setelah itu: pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 073/TK/2002 tertanggal 6 November 2002, tiga puluh tujuh tahun setelah kepergiannya.
Nama Andi Djemma kini diabadikan sebagai nama jalan di Makassar dan Palopo, mengingatkan generasi sekarang bahwa perlawanan terhadap kolonialisme di ujung timur Nusantara tidak hanya digerakkan dari Jawa atau Sumatra. Bagi masyarakat Luwu, kisahnya menjadi penanda penting bahwa lembaga adat Kedatuan Luwu, yang usianya jauh lebih tua dari republik ini, ikut mengambil peran aktif dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Kisah Andi Djemma juga menjadi pengingat bahwa banyak jejak perjuangan di daerah masih menunggu untuk digali, didokumentasikan, dan diceritakan ulang kepada publik yang lebih luas.