Andi Syaifuddin Kaddiraja: Menjaga Siri’ Tana Luwu di Tengah Zaman yang Bergerak
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Tokoh adat Kedatuan Luwu yang menjaga kesinambungan pengetahuan adat, ritus, dan marwah kebudayaan Luwu melalui peran kelembagaan adat, pendidikan budaya, dan dokumentasi sejarah.

Di dalam kebudayaan Luwu, adat bukan sekadar peninggalan masa lampau. Ia hidup dalam ingatan, dalam tata laku, dalam cara masyarakat memberi hormat kepada leluhur, kepada tanah, kepada laut, kepada rumah besar bernama Kedatuan. Adat tidak hanya berada di lontara atau museum. Ia berjalan melalui orang-orang yang bersedia memikulnya.
Salah satu sosok yang berada di simpul itu adalah Andi Syaifuddin Kaddiraja, S.E., tokoh pemangku adat Maddika Bua dalam Kedatuan Luwu, yang dikenal dengan gelar adat Opu To Sattiaraja. Dalam berbagai kesempatan, ia hadir bukan hanya sebagai figur bangsawan, tetapi sebagai penjaga tata nilai, penafsir tradisi, dan penghubung antara ingatan lama dengan generasi baru.
Peran seperti ini tidak selalu riuh. Ia sering hadir dalam ruang-ruang yang sunyi tetapi menentukan: prosesi adat, pertemuan dewan adat, pendidikan budaya, penjelasan tentang tata upacara, hingga penguatan generasi muda agar tidak terputus dari akar budayanya. Di sana, kebudayaan tidak tampil sebagai panggung semata, melainkan sebagai adab.
Salah satu momen yang memperlihatkan perannya terjadi dalam rangkaian Festival Keraton Nusantara XIII di Tana Luwu pada tahun 2019. Dalam prosesi Malekke Wae, yaitu pengambilan air upacara adat di Istana Kedatuan Luwu, rombongan adat diterima oleh Andi Syaifuddin Kaddiraja bersama sejumlah perangkat adat Kedatuan. Sebelum air upacara dibawa ke Belopa, ia menyampaikan pesan kepada panitia dan masyarakat agar bersama-sama menyukseskan kegiatan tersebut karena perhelatan itu menyangkut kehormatan bersama masyarakat Luwu.
Pesan itu penting. Dalam kosmologi sosial Luwu, siri’ bukan sekadar rasa malu dalam pengertian sempit. Ia adalah marwah. Ia adalah kehormatan yang membuat komunitas tetap tegak. Ketika sebuah hajatan adat disebut sebagai “Siri’na Tana Luwu,” maka yang sedang dijaga bukan hanya prosesi, tetapi martabat kolektif sebuah tanah budaya.
Di sisi lain, Andi Syaifuddin Kaddiraja juga menunjukkan perhatian besar pada pendidikan budaya. Pada tahun 2021, ia mengukuhkan 60 alumni Sekolah Budaya Luwu I La Galigo Angkatan VI. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan kebanggaan karena alumni Sekolah Budaya Luwu telah mampu menjadi agen budaya dan ikut mengontrol pelaksanaan adat istiadat di Tana Luwu. Ia juga berharap pengetahuan yang telah diperoleh tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi terus dikembangkan untuk menjaga nilai-nilai luhur budaya Luwu.
Di titik ini, sosok Andi Syaifuddin Kaddiraja menjadi penting bagi Banua Sappa’ Digital. Sebab, salah satu tantangan terbesar kebudayaan hari ini bukan hanya hilangnya benda-benda lama, tetapi melemahnya mata rantai pengetahuan. Banyak tradisi masih dikenal namanya, tetapi tidak lagi dipahami maknanya. Banyak upacara masih bisa dilihat bentuk luarnya, tetapi lapisan etik, simbolik, dan historisnya mulai kabur. Para tokoh adat seperti Andi Syaifuddin Kaddiraja berperan sebagai penjaga jembatan itu.
Ia juga menjadi salah satu rujukan ketika publik membutuhkan penjelasan tentang struktur adat Kedatuan Luwu. Dalam pemberitaan detikSulsel mengenai prosesi pemakaman adat mendiang Syukur Bijak, Andi Syaifuddin Kaddiraja menjelaskan bahwa Tomakaka merupakan salah satu pemangku adat di bawah wilayah Kerajaan Luwu. Ia juga menerangkan bahwa ketika seorang pemangku adat wafat, ada tata cara adat yang harus dijalankan, termasuk musyawarah adat untuk menentukan pengganti sebelum jenazah dikebumikan.
Penjelasan seperti ini memperlihatkan bahwa adat Luwu memiliki struktur, logika, dan mekanisme sosialnya sendiri. Ia bukan sekadar seremoni, melainkan sistem nilai yang mengatur hubungan antara manusia, lembaga adat, keluarga, dan komunitas. Dalam masyarakat modern yang sering mengukur segala sesuatu dengan kecepatan administratif, adat mengingatkan bahwa ada hal-hal yang harus diselesaikan dengan tertib batin, bukan hanya tertib dokumen.
Selain melalui kegiatan adat dan pendidikan budaya, Andi Syaifuddin Kaddiraja juga tercatat sebagai salah satu penulis buku Langkanae Kedatuan Luwu, bersama Suaedi, Andi Saddakati, Hadi Pajarianto, dan Nafsiah Aswawi. Buku tersebut diterbitkan oleh Dewantara Press pada 2021 dan memuat pembahasan mengenai muasal Kedatuan Luwu, seni budaya masyarakat Luwu, arsitektur, benda pusaka, serta peradaban Islam di Tana Luwu.
Keterlibatan dalam dokumentasi semacam ini merupakan kerja kebudayaan yang penting. Sebab, masa depan budaya tidak cukup dijaga dengan ingatan lisan saja. Ia perlu ditulis, diarsipkan, dikatalogkan, dan dibuka kembali untuk generasi yang datang kemudian. Di sinilah kerja adat bertemu dengan kerja literasi.
Dalam sebuah tulisan reflektif UIN Palopo, Andi Syaifuddin Kaddiraja digambarkan sebagai tokoh adat yang tidak hanya memegang gelar kebangsawanan, tetapi juga memikul tanggung jawab spiritual dan kultural bagi masyarakat Bua dan Luwu Raya. Tulisan itu menekankan nilai lempu’, getteng, ade’, siri’, dan pesse sebagai nilai Bugis-Luwu yang tercermin dalam keteladanan tokoh adat.
Bagi Banua Sappa’ Digital, profil Andi Syaifuddin Kaddiraja dapat dibaca sebagai bagian dari peta besar pelaku budaya Luwu. Ia berada pada simpul adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, sejarah Kedatuan, dan pendidikan budaya. Sosok seperti ini perlu dicatat bukan hanya karena gelarnya, tetapi karena perannya dalam menjaga kesinambungan makna.
Di tengah zaman yang bergerak cepat, kebudayaan membutuhkan penjaga ingatan. Bukan penjaga yang membekukan masa lalu menjadi pajangan, tetapi penjaga yang mampu membuat warisan lama tetap berbicara kepada zaman baru. Andi Syaifuddin Kaddiraja berada di ruang itu: ruang antara istana dan masyarakat, antara adat dan pendidikan, antara lisan dan tulisan, antara siri’ masa lalu dan martabat masa depan.