Dari Salassa ke Museum Batara Guru
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Museum Batara Guru berdiri di kawasan Wara, Palopo, wilayah yang dalam tradisi La Galigo dikaitkan dengan Sawerigading dan asal-usul Kedatuan Luwu. Sebelum menjadi museum, situs ini dikenal sebagai Salassa atau Saoraja, sebutan lama bagi rumah kedatuan yang telah dicatat D.F. van Braam Morris sejak akhir abad ke-19. Setelah bangunan tradisionalnya dirobohkan dan diganti gedung bergaya Eropa pada masa kolonial, kompleks tersebut kemudian diresmikan sebagai Museum Batara Guru pada 26 Juli 1971. Kini, museum ini menyimpan ratusan koleksi pusaka dan menjadi simpul penting yang mempertemukan mitologi, sejarah kedatuan, kolonialisme, serta warisan budaya Luwu dalam satu ruang.

Wara, tanah tempat Sawerigading bersemayam
Nama Batara Guru bukan sekadar nama pajangan. Dalam mitologi La Galigo, Batara Guru adalah tokoh langit yang turun ke bumi dan menjadi datu pertama Luwu — leluhur mitologis yang menurunkan garis kedatuan, termasuk Sawerigading, tokoh sentral epos itu. Menariknya, lokasi museum ini sendiri berada di kawasan yang sejak dahulu disebut Wara, dan nama itu bukan kebetulan. Gubernur Celebes D. F. van Braam Morris, dalam laporannya tahun 1888 (dimuat Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 1889), mencatat bahwa pusat pemerintahan Luwu menyebut diri mereka "Ikang to Wara" (kami orang Wara) — diambil dari nama Wara, ibu kota Palopo, "tempat dahulu kala Saweregading yang agung pernah bersemayam." Jejak nama itu bertahan hingga sekarang sebagai nama kecamatan di Kota Palopo, tempat museum ini berdiri.
Salasa: rumah kedatuan dalam catatan seorang gubernur Belanda
Bagian paling berharga dari catatan van Braam Morris untuk latar belakang Museum Batara Guru justru ada di uraiannya tentang arsitektur rumah adat Luwu. Ia menulis bahwa rumah kedatuan dibedakan tegas dari rumah rakyat biasa:
"Rumah kedatuan di Loehoe menyandang nama megah langkana (istana par excellence), namun biasanya disebut juga sao-danra, sao-radja atau soradja dan salasa (rumah kedatuan). Hanya rumah-rumah kedatuan inilah yang boleh memiliki tangga kebesaran (sampana), serta memiliki tiga susun atap/gevel berturut-turut (timpa-ladja) di depan maupun di belakang; sedangkan kedua ujung bubungan atapnya dihiasi dengan tiruan kepala kerbau lengkap dengan tanduknya."
Catatan ini penting karena membuktikan bahwa "Salassa" bukan nama yang muncul belakangan, melainkan istilah Bugis-Luwu asli untuk rumah kedatuan, yang sudah dipakai jauh sebelum era kolonial modern. Van Braam Morris bahkan mencatat bahwa pada masanya (1887–1888), istana kedatuan yang megah — yang berdiri di atas 84 tiang — "telah roboh dan musnah", sehingga datu yang memerintah saat itu hanya menghuni bangunan yang lebih sederhana, sebuah soradja, karena "untuk disebut langkana, rumah itu tidak cukup besar." Ini menunjukkan bahwa istana kedatuan Luwu sudah beberapa kali dibangun ulang jauh sebelum campur tangan Belanda pada dekade 1920-an.
Saoraja dirobohkan, gedung Eropa didirikan
Struktur yang berdiri di lokasi itu pada awal abad ke-20 — yang oleh warga setempat masih diingat dengan nama Saoraja/Salassa — kemudian dirobohkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sekitar tahun 1920-an. Di atas lahannya, Belanda membangun gedung baru bergaya Eropa: dinding tebal, jendela besar, dan denah simetris — jauh berbeda dari rumah panggung kayu tradisional yang dijelaskan van Braam Morris. Motif pembangunan ini dua sisi mata uang: secara resmi disebut sebagai upaya menjaga hubungan baik dengan penguasa Luwu, namun banyak kalangan bangsawan Luwu memandangnya sebagai simbol pengikisan kedaulatan dan jejak sejarah Kedatuan atas tanah mereka sendiri.
Dari istana kolonial menjadi museum
Gedung peninggalan Belanda itu terus menjadi bagian dari kompleks Istana Kedatuan Luwu hingga pertengahan abad ke-20. Barulah pada 26 Juli 1971, bagian depan bangunan ini diresmikan sebagai Museum Batara Guru oleh Andi Achmad, Bupati Luwu yang juga merupakan keturunan langsung keluarga Kedatuan — sebuah simbol bahwa perawatan warisan kerajaan diambil-alih kembali oleh keturunan pemiliknya sendiri, meski dalam wadah bangunan yang dulunya adalah produk kolonial.
Museum ini kini menyimpan 831 koleksi benda pusaka, terbagi dalam sekitar 16 kategori: regalia dan pusaka kerajaan, alat perang, keramik asing, naskah kuno, numismatik, perlengkapan upacara, lukisan bertema mitologi, hingga potret datu Luwu ke-35. Kompleks Istana Kedatuan Luwu, tempat museum ini berdiri, kini berstatus cagar budaya, sekaligus tetap menjadi ruang hidup — masih digunakan untuk sebagian upacara adat Kedatuan hingga hari ini.
Kenapa situs ini penting
Museum Batara Guru mungkin adalah satu-satunya titik fisik yang menghubungkan tiga lapisan narasi masa lalu Luwu sekaligus: mitologi Sawerigading dan I La Galigo yang menjadikan Wara sebagai pusat kosmologis, kesaksian kolonial abad ke-19 (seperti catatan van Braam Morris) yang merekam istilah "salasa" secara langsung dari mulut masyarakatnya, dan intervensi kolonial abad ke-20 yang mengubah wajah fisik istana tersebut. Nama "Salassa" yang masih diingat warga Palopo untuk situs ini bukan sekadar sebutan lama — ia adalah kata yang sama yang dicatat seorang gubernur Belanda lebih dari satu abad lalu sebagai nama asli rumah para datu Luwu.