Raja Ali Haji: Ketika Darah Luwu Menulis Bahasa Melayu
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Melalui Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji menelusuri asal-usul leluhur keluarganya hingga Negeri Luwu. Dari akar genealogis tersebut tumbuh seorang pujangga yang tidak hanya membentuk sastra Melayu, tetapi juga meletakkan dasar penting bagi perkembangan bahasa Melayu modern yang kemudian menjadi fondasi Bahasa Indonesia.

"Bahasa menunjukkan bangsa."
Kalimat itu telah lama menjadi salah satu ungkapan paling dikenal dalam khazanah Melayu. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa tokoh yang mengabadikannya adalah seorang pujangga yang dalam karya sejarahnya sendiri menelusuri asal-usul leluhurnya hingga ke Negeri Luwu.
Namanya Raja Ali Haji.
Ia dikenang sebagai pujangga besar Melayu, pengarang Gurindam Dua Belas, penyusun Kitab Pengetahuan Bahasa, sekaligus tokoh yang meletakkan dasar penting bagi perkembangan bahasa Melayu modern yang kelak menjadi fondasi Bahasa Indonesia. Namun, bagi Banua Sappa', Raja Ali Haji juga menyimpan kisah lain yang jarang dibicarakan: kisah tentang bagaimana jejak Kedatuan Luwu mengalir jauh melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, hingga Kepulauan Riau.
Dari Negeri Luwu Menuju Dunia Melayu
Dalam karya monumentalnya, Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji tidak hanya menulis sejarah Kesultanan Johor-Riau-Lingga. Ia juga merekam asal-usul keluarganya sendiri.
Melalui narasi silsilah yang disusunnya, Raja Ali Haji menempatkan leluhur keluarganya sebagai bangsawan Bugis yang berasal dari Negeri Luwu. Dari tanah inilah lahir Opu Daeng Rilakka, tokoh yang kemudian menjadi ayah dari lima bersaudara Bugis yang masyhur dalam sejarah Nusantara: Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Manambun, Opu Daeng Kemasi, dan Opu Daeng Cellak.
Lima bersaudara inilah yang pada awal abad ke-18 berlayar meninggalkan Sulawesi dan mengubah peta politik dunia Melayu. Mereka tidak datang sebagai penakluk semata. Mereka datang membawa jaringan dagang, kemampuan diplomasi, tradisi kepemimpinan Bugis, dan konsep pemerintahan yang kemudian berbaur dengan tradisi kerajaan Melayu.
Ketika Diaspora Mengubah Sejarah
Perjalanan lima Opu Bugis menjadi salah satu diaspora paling berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara.
Di Johor, mereka membantu mengakhiri konflik sukses kerajaan. Di Riau-Lingga, mereka melahirkan institusi Yang Dipertuan Muda, jabatan yang selama beberapa generasi menjadi pusat kekuatan politik Kesultanan Johor-Riau-Lingga. Di Kalimantan Barat, mereka ikut membentuk sejarah Mempawah dan Sambas. Jejak mereka bahkan sampai ke Selangor, Lingga, dan berbagai pelabuhan penting di Semenanjung Melayu.
Di balik semua perjalanan itu, Luwu tetap hadir sebagai tanah asal yang terus diingat dalam tradisi keluarga. Bagi masyarakat Bugis, tanah leluhur bukan sekadar tempat lahir. Ia adalah sumber identitas. Karena itulah Tuhfat al-Nafis tidak memulai kisah keluarga ini dari Riau atau Johor, melainkan dari Negeri Luwu.
Lahirnya Seorang Pujangga
Di Pulau Penyengat, pada tahun 1808, lahirlah Raja Ali Haji. Ayahnya adalah Raja Ahmad, putra dari Raja Haji Fisabilillah, seorang pahlawan besar Melayu yang gugur melawan VOC pada tahun 1784.
Sejak kecil, Raja Ali Haji tumbuh di lingkungan istana yang dipenuhi ulama, cendekiawan, ahli bahasa, dan negarawan. Di sana ia mempelajari bahasa Arab, bahasa Melayu, ilmu agama, sastra, sejarah, hukum, hingga tata pemerintahan.
Lingkungan intelektual Pulau Penyengat menjadikannya bukan sekadar penyair, tetapi seorang pemikir yang memandang bahasa sebagai fondasi peradaban.
Menulis Bangsa Melalui Bahasa
Jika banyak tokoh membangun kerajaan dengan pedang, Raja Ali Haji membangunnya dengan pena.
Karya terkenalnya, Gurindam Dua Belas, bukan sekadar kumpulan syair. Ia merupakan refleksi tentang moral, kepemimpinan, agama, pendidikan, keluarga, dan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya. Setiap fasal berbicara tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup. Tidak mengherankan jika karya itu masih diajarkan hingga hari ini.
Namun, sumbangan Raja Ali Haji tidak berhenti pada sastra. Melalui Kitab Pengetahuan Bahasa, ia menyusun salah satu kamus dan ensiklopedia bahasa Melayu paling awal di Nusantara. Karya ini jauh melampaui daftar kosakata. Ia menjelaskan makna kata, etika berbahasa, penggunaan istilah, hingga hubungan antara bahasa dan kehidupan masyarakat. Dalam banyak hal, kitab ini menjadi tonggak penting dalam kodifikasi bahasa Melayu modern.
Ketika Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan pada tahun 1928, fondasi yang telah diletakkan Raja Ali Haji menjadi salah satu pijakan intelektual yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bahasa nasional.
Warisan Luwu yang Menjelma Peradaban
Menyebut Raja Ali Haji sebagai tokoh Melayu tentu benar. Namun, berhenti di sana berarti mengabaikan satu lapisan sejarah yang lebih luas.
Dalam dirinya bertemu dua dunia. Dunia Bugis yang berakar pada Luwu. Dan dunia Melayu yang berkembang di Riau-Lingga. Pertemuan kedua dunia itu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar identitas keluarga.
Ia melahirkan karya sastra, tata bahasa, historiografi, dan pemikiran yang memengaruhi perjalanan bangsa-bangsa di Nusantara. Luwu hadir bukan sebagai pusat kekuasaan yang menguasai wilayah-wilayah jauh. Luwu hadir melalui manusia-manusianya. Melalui pelayaran. Melalui diplomasi. Melalui jaringan keluarga. Dan pada akhirnya, melalui ilmu pengetahuan.
Mengapa Banua Sappa' Menulis Raja Ali Haji?
Banua Sappa' tidak melihat sejarah Luwu sebagai sejarah yang berhenti di batas geografis Sulawesi Selatan.
Luwu adalah simpul dalam jaringan besar Nusantara. Jejaknya dapat ditemukan di pelabuhan-pelabuhan, manuskrip, kerajaan-kerajaan Melayu, hingga bahasa yang kita gunakan setiap hari.
Raja Ali Haji adalah salah satu bukti paling terang dari jaringan itu. Melalui Tuhfat al-Nafis, ia menjaga ingatan tentang asal-usul keluarganya. Melalui Gurindam Dua Belas, ia mengajarkan kebijaksanaan. Melalui Kitab Pengetahuan Bahasa, ia membangun dasar bahasa Melayu modern. Dan melalui seluruh karya itu, ia menunjukkan bahwa perjalanan sebuah bangsa sering kali dimulai dari kemampuan untuk mengingat asal-usulnya.
Bagi Banua Sappa', Raja Ali Haji bukan hanya pujangga Melayu. Ia adalah salah satu Penjaga Ingatan Luwu yang mewariskan pengaruhnya bukan melalui takhta, melainkan melalui kata-kata. Kata-kata yang melintasi abad, menjelma bahasa, lalu menjadi rumah bersama bagi jutaan manusia di Nusantara.