Sabandaer di Palopo — Bukti Administrasi Pelabuhan Tertua (1687)

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Dokumen VOC tahun 1687 mencatat keberadaan seorang Sabandaer atau Syahbandar di Palopo, yang menyambut rombongan tamu bersama dua bangsawan. Catatan ini menjadi bukti awal bahwa Palopo telah memiliki administrasi pelabuhan resmi dan berperan penting dalam jaringan maritim Teluk Bone, yang saat itu dilalui ratusan kapal menuju Luwu.

Sabandaer di Palopo — Bukti Administrasi Pelabuhan Tertua (1687)

Salah satu dokumen paling awal yang menyebut Luwu dalam arsip VOC adalah inv.nr 1426, berasal dari tahun 1687. Dokumen ini memuat catatan perjalanan melalui Teluk Bone menuju Luwu — sebuah laporan yang membawa kejutan besar: di kota Palopo terdapat seorang Sabandaer (Syahbandar), pejabat pelabuhan resmi yang menyambut rombongan tamu.

"Voor de stadt palopo, als wanneer wij door den Coningh van Coeloe Versoght wierden aenlant te Comen … soo door den Sabandaer en 2 andere grooten te paert na Een huijs … bij Een riviertie Een weijnigh buijten de Stadt of te negorij palopo digte bij sin hoogh:ts wooninge geleijdt."

— NL-HaNA_1.04.02_1426_0348

Terjemahan: "Di depan kota Palopo, saat kami diundang oleh Raja Luwu untuk datang ke darat … lalu oleh Syahbandar dan 2 orang besar lainnya berkuda, kami dibawa ke sebuah rumah … di tepi anak sungai, sedikit di luar kota atau negeri Palopo, dekat kediaman Yang Mulia."

Catatan ini mengukuhkan Palopo sebagai kota pelabuhan yang memiliki administrasi resmi setidaknya sejak abad ke-17. Syahbandar (Sabandaer) adalah jabatan resmi pengawas pelabuhan, pemungut bea cukai, dan penerima tamu dagang — fungsi yang lazim ditemukan di bandar-bandar besar Nusantara seperti Malaka dan Makassar.

Perjalanan itu sendiri menggambarkan skala lalu lintas laut yang luar biasa:

"int geval tsamen 200 stx kildecke Vaertuijgen, behalven nogh veel anderen die buijten ons gesight waeren, waer van syn hooght Bone als admirael een roode winpel van syn groote mast voerde."

Lebih dari 200 kapal berlapis berlayar bersama melalui Teluk Bone menuju Luwu, dengan raja Bone bertindak sebagai laksamana dengan bendera merah di tiang besar. Jalur Bone–Palopo lewat Teluk Bone bukan sekadar jalur pedalaman — ini adalah urat nadi maritim.