Sureq Galigo: Epos Terpanjang di Dunia yang Lahir dari Bumi Luwu

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Dari Tana Luwu di pesisir Teluk Bone, sebuah kisah penciptaan dunia pernah dituturkan turun-temurun sebelum akhirnya dituliskan di atas daun lontar—dan kini diakui UNESCO sebagai salah satu karya sastra paling monumental yang pernah dihasilkan peradaban manusia.

Sureq Galigo: Epos Terpanjang di Dunia yang Lahir dari Bumi Luwu

Banyak orang mengenal Mahabharata dan Ramayana sebagai epos besar Asia. Tidak banyak yang tahu bahwa di Sulawesi Selatan tersimpan sebuah karya yang, dari segi jumlah halaman, disebut para peneliti sebagai salah satu karya sastra paling voluminous di dunia: Sureq Galigo, atau lebih dikenal secara internasional sebagai La Galigo. Naskah ini bukan sekadar dongeng masa lalu—ia adalah kitab kosmologi yang menempatkan Tana Luwu sebagai titik nol penciptaan alam semesta menurut kepercayaan leluhur masyarakat Bugis.

Dari Langit ke Ussu': Awal Mula Batara Guru

Kisah Galigo dibuka dengan sebuah peristiwa kosmik. Batara Guru, dewa dari dunia atas (boting langi'), diturunkan ke dunia tengah untuk menciptakan peradaban manusia. Menurut naskah ini, tempat turunnya Batara Guru adalah Ussu', sebuah wilayah yang kini berada di Kabupaten Luwu Timur dan sering disebut sebagai "Bumi Batara Guru". Dari titik itulah, menurut tradisi lisan yang kemudian dibukukan, kerajaan pertama di jagat Bugis-Luwu didirikan, menjadikan Luwu sebagai rujukan asal-usul bagi banyak kerajaan lain di Sulawesi Selatan.

Batara Guru kemudian menikah dengan We Nyili'timo, sosok yang menurut kisah ini berasal dari dunia bawah laut (buri' liu). Dari perpaduan dunia atas dan dunia bawah inilah lahir garis keturunan yang menjadi tulang punggung seluruh epos: anak-cucu Batara Guru yang kelak menyebar dan membangun jaringan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Sawerigading dan La Galigo: Silsilah yang Mengikat Epos

Tokoh yang paling banyak dikisahkan dalam Sureq Galigo adalah Sawerigading, yang dalam berbagai versi disebut sebagai putra dari garis keturunan Batara Guru di Kerajaan Luwu purba. Sawerigading digambarkan sebagai figur pengembara yang berlayar hingga ke Tiongkok, tempat ia menikahi I We Cudai. Dari pernikahan itu lahir seorang putra bernama I La Galigo—nama yang kemudian diabadikan sebagai judul keseluruhan epos ini, meski I La Galigo sendiri hanyalah salah satu tokoh di dalamnya.

Kisah-kisah dalam Sureq Galigo tidak berhenti pada mitos penciptaan. Naskah ini juga berfungsi sebagai semacam almanak kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis kuno, memuat tata cara ritual, etika sosial, hingga pandangan kosmologis yang menjadi rujukan hidup sebelum masuknya pengaruh Islam ke tanah Luwu pada awal abad ke-17.

Naskah yang Berkelana: Dari Daun Lontar ke Leiden

Awalnya dituturkan secara lisan, kisah Galigo baru mulai dituliskan secara luas di atas daun lontar menggunakan aksara Lontara berbahasa Bugis kuno. Salah satu upaya pembukuan paling penting terjadi pada pertengahan abad ke-19, ketika Colliq Pujié—yang bergelar Arung Pancana Toa, seorang bangsawan perempuan dari Tanete—menyalin dan menyusun naskah ini atas permintaan Benjamin Frederick Matthes, seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Hasil kerja itu kemudian dikenal sebagai naskah NBG 188, terdiri dari dua belas jilid, dan sejak awal abad ke-20 (antara 1905–1915) disimpan sebagai pinjaman permanen di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Naskah Leiden ini disebut sebagai fragmen Galigo paling lengkap dan koheren yang pernah ditemukan, dengan sekitar 2.800 halaman folio. Namun itu baru sebagian dari keseluruhan Sureq Galigo—fragmen-fragmen lain tersebar di berbagai koleksi pribadi di Sulawesi Selatan, Jakarta, London, Manchester, Berlin, hingga Washington DC. Jika seluruh fragmen yang tersisa digabungkan, para peneliti memperkirakan totalnya mencapai sekitar 6.000 halaman atau 300.000 baris syair—sebuah jumlah yang membuat banyak akademisi menyebutnya melampaui panjang Mahabharata maupun Ramayana, meski hingga kini tidak ada satu pun versi yang benar-benar utuh.

Pengakuan Dunia dan Ancaman Kepunahan Bahasa

Pada tahun 2011, Indonesia dan Belanda bersama-sama mengajukan Sureq Galigo ke dalam Memory of the World Register UNESCO, dan pengajuan itu diterima—menjadikannya salah satu warisan dokumenter dunia dari Indonesia. Pengakuan ini menegaskan nilai luar biasa naskah tersebut sebagai warisan sastra pra-Islam yang merekam kosmologi, sistem sosial, dan bahasa Bugis kuno yang kini nyaris tak lagi dipahami.

Ironisnya, di balik pengakuan dunia itu tersimpan kerapuhan yang nyata: bahasa Bugis kuno yang digunakan dalam Sureq Galigo—dengan kosakata dan meteran syair yang khas dan rumit—disebut hanya dipahami secara mendalam oleh kurang dari seratus orang saat ini, sebagian besar adalah pembaca lontar (paqbasa lontaraq) generasi tua. Belum ada pula terjemahan lengkap ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, sehingga sebagian besar isi epos ini masih menunggu untuk benar-benar terbuka bagi publik luas.

Warisan yang Terus Hidup di Tana Luwu

Meski naskah aslinya kini lebih banyak tersimpan di ruang-ruang arsip dan perpustakaan, jejak Sureq Galigo tetap hidup dalam identitas masyarakat Luwu masa kini. Nama-nama tokohnya diabadikan pada berbagai institusi publik di Palopo dan Makassar, kisahnya telah dipentaskan sebagai teater kontemporer di berbagai kota dunia, dan Ussu' di Luwu Timur tetap dikenang sebagai titik mula peradaban dalam ingatan kolektif masyarakat Bugis-Luwu. Bagi Tana Luwu, Sureq Galigo bukan hanya artefak sastra masa lampau, melainkan fondasi naratif yang menjelaskan mengapa wilayah ini selama berabad-abad dipandang sebagai rahim dari banyak kerajaan dan kebudayaan di jazirah Sulawesi Selatan.

Sumber dan Referensi