Prof. Dr. H. Mattulada

Pelaku Budaya

Ringkasan

Prof. Dr. H. Mattulada adalah antropolog, sejarawan, budayawan, pendidik, dan pejuang asal Sulawesi Selatan yang memberikan sumbangan besar bagi kajian masyarakat Bugis-Makassar. Melalui karya monumentalnya, Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis, ia menghubungkan pengetahuan dalam lontara dengan pendekatan antropologi modern untuk menjelaskan adat, kepemimpinan, hukum, kekuasaan, dan hubungan antara penguasa dengan rakyat. Kiprahnya juga mencakup pembangunan pendidikan tinggi, pengembangan Universitas Hasanuddin, kepemimpinan Universitas Tadulako, kesenian, serta penulisan sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan.

Sejarah

Ahmad Mattulada lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 15 November 1928. Ia merupakan putra sulung A. Palellungi Daeng Mattulada dan tumbuh pada masa ketika Sulawesi Selatan mengalami pergolakan kolonial, pendudukan, revolusi, dan pembentukan negara Indonesia. Pengalaman pada masa tersebut kelak membentuk dirinya sebagai pribadi yang tidak memisahkan pengetahuan dari keberanian sosial dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Sebelum dikenal sebagai ilmuwan, Mattulada terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Namanya pernah nyaris masuk dalam daftar korban operasi militer Westerling setelah ia ditahan di Bulukumba pada Januari 1947. Keselamatannya dari masa kekerasan itu menjadi salah satu episode penting dalam perjalanan hidupnya, dari seorang pemuda pejuang menuju guru, mahasiswa, aktivis, dan akademisi.

Setelah masa revolusi, Mattulada menempuh pendidikan keguruan dan ilmu hukum di Makassar. Ia kemudian menjadi bagian dari angkatan pertama Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Hasanuddin. Di lingkungan kampus tersebut, ia tidak hanya belajar, tetapi juga aktif dalam gerakan mahasiswa dan tercatat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang pertama.

Mattulada juga dikenang sebagai salah satu pemuda yang mendorong pendirian perguruan tinggi negeri di Makassar. Dalam sebuah kisah yang hidup dalam ingatan Universitas Hasanuddin, ia bersama rekan-rekannya menghentikan kendaraan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bahder Djohan pada 1956 untuk meminta kepastian tertulis mengenai pembentukan universitas negeri. Beberapa bulan kemudian Universitas Hasanuddin berdiri dan diresmikan sebagai perguruan tinggi negeri di kawasan Indonesia timur.

Karier akademiknya berkembang di Universitas Hasanuddin. Ia menjadi guru, dosen, pemimpin fakultas, dan kemudian guru besar. Universitas Hasanuddin mengenangnya bukan semata sebagai birokrat kampus, tetapi sebagai ilmuwan dan budayawan yang membentuk tradisi intelektual universitas tersebut. Namanya kini digunakan untuk aula di Fakultas Ilmu Budaya sebagai penghormatan terhadap warisan akademiknya.

Pada 1970–1972, Mattulada mengikuti pendidikan pascasarjana di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan perkembangan ilmu antropologi dan kajian Asia Tenggara, sekaligus memperkuat kemampuannya membaca sumber-sumber lokal melalui kerangka akademik yang lebih luas.

Puncak penting perjalanan keilmuannya terjadi ketika ia meraih gelar doktor dalam ilmu antropologi dari Universitas Indonesia pada 1 Maret 1975. Disertasinya berjudul Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis, dengan Prof. Dr. Koentjaraningrat sebagai promotor. Ia disebut sebagai orang kedua di Indonesia yang memperoleh gelar doktor antropologi setelah Koentjaraningrat.

Latoa kemudian menjadi karya Mattulada yang paling dikenal. Karya tersebut tidak sekadar memindahkan isi lontara ke dalam bahasa akademik. Mattulada menggunakannya untuk membaca pandangan politik orang Bugis mengenai adat, kekuasaan, hukum, kepemimpinan, martabat manusia, serta hubungan antara raja dan rakyat. Dalam karyanya, sumber lokal ditempatkan sebagai pusat pengetahuan, bukan hanya pelengkap bagi teori yang datang dari luar.

Melalui Latoa, Mattulada memperlihatkan bahwa lontara dapat dibaca sebagai arsip pemikiran politik dan sosial. Naskah lama tidak hanya memuat silsilah atau kisah masa silam, tetapi menyimpan konsep tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan, bagaimana pemimpin dibatasi oleh adat, serta bagaimana masyarakat memandang keadilan dan tanggung jawab. Pendekatan tersebut menjadikan karyanya terus dirujuk dalam kajian antropologi, sejarah, politik, hukum adat, dan kebudayaan Bugis.

Perhatiannya tidak terbatas pada satu naskah. Dalam Bugis-Makassar: Manusia dan Kebudayaannya, Mattulada membahas sejarah Sulawesi Selatan, sistem kekerabatan, adat istiadat, agama, cerita rakyat, kesusastraan klasik, bentuk kerajaan, dan perkembangan kelompok elite setelah perang dan kemerdekaan. Karya tersebut berawal dari bahan kuliah yang ia sampaikan di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1974.

Mattulada juga menghasilkan berbagai tulisan mengenai penyebaran orang Bugis di Asia Tenggara, sejarah Makassar, kebudayaan Sulawesi Tengah, ekologi manusia, serta masyarakat dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Kumpulan tulisannya dalam Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan membentangkan pembahasan sejarah kawasan tersebut sejak masa kerajaan hingga pertengahan abad ke-20.

Keterlibatannya dalam kebudayaan tidak berhenti di ruang kuliah dan penerbitan ilmiah. Ia pernah memimpin Dewan Kesenian Makassar dan dikenal memiliki perhatian terhadap sastra, musik, serta kehidupan kesenian kota. Bersama H.D. Mangemba, ia juga menciptakan Mars Universitas Hasanuddin pada 1973. Aktivitas ini memperlihatkan bahwa bagi Mattulada, kebudayaan tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga ruang penciptaan dan pengabdian.

Pada 15 Agustus 1981, Mattulada dilantik sebagai rektor pertama Universitas Tadulako. Ia memimpin universitas tersebut hingga 1990 dan berperan dalam meletakkan fondasi kelembagaan pendidikan tinggi di Sulawesi Tengah. Di sana, keahliannya mengenai masyarakat Sulawesi tidak hanya menjadi bahan kajian, tetapi juga dasar untuk membangun perguruan tinggi yang berhubungan dengan lingkungan sosial dan kebudayaan setempat.

Hubungan Mattulada dengan Tana Luwu dapat ditempatkan dalam kerangka kajiannya mengenai sejarah, antropologi politik, adat, dan kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan. Konsep-konsep yang dibahasnya melalui Latoa, termasuk pemerintahan adat, hubungan antara pemimpin dan rakyat, fungsi musyawarah, serta kedudukan orang cendekia dalam kekuasaan, menjadi landasan penting untuk membaca tradisi politik Kedatuan Luwu dan pemikiran tokoh seperti Maccae ri Luwu. Karyanya terus digunakan dalam penelitian mengenai sistem pemerintahan dan kebudayaan Luwu.

Sumbangan Mattulada juga terletak pada kemampuannya mempertemukan dunia akademik dengan pengetahuan masyarakat. Ia tidak memperlakukan adat sebagai peninggalan yang beku, melainkan sebagai sistem gagasan yang dapat berubah, diperdebatkan, dan tetap memberi arah bagi kehidupan masa kini. Dalam pembacaannya, tradisi bukan lawan modernitas. Tradisi merupakan sumber yang perlu dipahami secara kritis agar masyarakat dapat menentukan jalannya sendiri.

Sikap tersebut juga terlihat dalam keterlibatannya memperjuangkan pengembalian nama Kota Ujung Pandang menjadi Makassar. Baginya, nama Makassar memiliki kedalaman sejarah dan dikenal dalam jaringan pelayaran serta peta dunia. Pengembalian nama itu bukan semata perubahan administratif, melainkan pemulihan ingatan sejarah sebuah kota.

Mattulada meninggal dunia di Makassar pada 12 Oktober 2000 dalam usia 71 tahun. Warisannya bertahan melalui buku, makalah, mahasiswa, lembaga pendidikan, ruang kesenian, serta berbagai penelitian yang masih memakai pemikirannya untuk membaca masyarakat Sulawesi Selatan.

Dalam ekosistem Banua Sappa’, Prof. Dr. H. Mattulada ditempatkan sebagai ilmuwan kebudayaan dan penjaga pengetahuan Sulawesi Selatan. Ia membantu membuka lontara sebagai ruang pemikiran, menjadikan adat sebagai bahan analisis ilmiah, serta memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi politik, hukum, sejarah, dan filsafat sosial yang dapat berbicara sejajar dalam dunia ilmu pengetahuan.

Warisan terbesarnya bukan hanya terletak pada banyaknya buku yang ditulis atau jabatan yang pernah diemban. Ia meninggalkan sebuah cara membaca kebudayaan: berangkat dari sumber lokal, mendengarkan bahasa masyarakatnya, lalu membawanya ke ruang ilmiah tanpa mencabut akar tempat pengetahuan itu tumbuh.

Sumber

Riset dan kurasi Banua Sappa’ Digital dari berbagai sumber terbuka.

Bidang

Antropolog, sejarawan, budayawan, dan pengkaji kebudayaan Bugis-Makassar

Komunitas

Universitas Hasanuddin • Universitas Tadulako • Dewan Kesenian Makassar