Rhoda Grauer

Pelaku Budaya

Ringkasan

Rhoda Grauer adalah antropolog, pembuat film dokumenter, dan produser budaya asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai penggagas utama lahirnya pementasan teater I La Galigo di panggung internasional. Ketertarikannya terhadap komunitas Bissu di Sulawesi Selatan membawanya pada penemuan Sureq I La Galigo, sebuah epos Bugis yang kemudian ia yakini layak diperkenalkan kepada dunia. Berbekal pendekatan antropologi dan jejaring internasional, Rhoda membangun kolaborasi yang mempertemukan budayawan Luwu, akademisi, seniman Indonesia, dan sutradara Robert Wilson dalam sebuah produksi teater yang menghormati akar budaya masyarakat Bugis. Kontribusinya tidak hanya membuka jalan bagi I La Galigo di panggung dunia, tetapi juga memperluas perhatian internasional terhadap kebudayaan Luwu sebagai salah satu warisan budaya penting Nusantara.

Sejarah

Rhoda Grauer lahir pada tahun 1944 di Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai salah satu produser perintis yang membawa tari dan seni pertunjukan ke dalam medium televisi. Kariernya mencakup produksi program-program seni untuk televisi publik Amerika, termasuk keterlibatannya dalam Dance in America dan penciptaan serial dokumenter delapan bagian Dancing yang ditayangkan PBS pada 1993. Serial tersebut direkam di 18 negara pada lima benua dan menempatkan tari bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai pintu untuk memahami agama, identitas, politik, nilai sosial, dan kebudayaan suatu masyarakat.

Pengalaman panjang dalam dokumentasi tari membentuk cara Grauer memandang seni pertunjukan. Baginya, gerak tubuh tidak pernah berdiri sendiri. Di balik tari terdapat sistem nilai, sejarah, aturan sosial, kepercayaan, serta cara suatu masyarakat mengenali dirinya. Pandangan inilah yang kemudian menjadi bekal penting ketika ia berhadapan dengan dunia besar Sureq Galigo.

Pertemuan Grauer dengan I La Galigo tidak bermula dari rencana membuat pertunjukan teater. Sekitar pergantian milenium, ia sedang mengembangkan sebuah film dokumenter di Sulawesi Selatan mengenai komunitas bissu, dengan Puang Matoa Saidi sebagai salah satu tokoh utamanya. Seorang pendamping penelitian mengingatkan bahwa bissu tidak dapat dipahami hanya melalui penampilan ritualnya; untuk memasuki dasar kosmologinya, Grauer harus terlebih dahulu mengenal I La Galigo.

Awalnya ia mengira naskah tersebut dapat dibeli, dibaca, dan dipahami sebagaimana buku biasa. Ia kemudian menemukan kenyataan yang jauh lebih rumit. Sureq Galigo terdiri atas ribuan halaman, ditulis dalam bahasa puitik Bugis yang arkais, dan hanya dapat dipahami secara mendalam oleh sedikit orang. Kesulitan tersebut justru membangkitkan rasa ingin tahunya. Ia merasa heran bahwa epos dengan ukuran, kekayaan visual, humor, kosmologi, dan struktur cerita sebesar itu belum dikenal luas dalam dunia pertunjukan internasional.

Dari kegelisahan itu lahir gagasan untuk membawa I La Galigo ke panggung. Grauer dan Restu Imansari Kusumaningrum kemudian memperkenalkan epos tersebut kepada Robert Wilson. Proyek dikembangkan melalui kerja panjang yang melibatkan Change Performing Arts, Bali Purnati Center for the Arts, tim akademik, penerjemah, tokoh budaya, penata musik, pemain, dan mitra produksi internasional. Kredit resmi menempatkan Grauer sebagai penanggung jawab text adaptation and dramaturgy, sedangkan Wilson menangani penyutradaraan, desain panggung, dan konsep pencahayaan.

Sebagai dramaturg, tugas Grauer bukan sekadar meringkas ribuan halaman menjadi pertunjukan berdurasi beberapa jam. Ia harus memahami keseluruhan siklus cerita, memilih tokoh dan peristiwa, menyusun hubungan dramatik, serta menjaga agar struktur panggung tetap memancarkan watak dasar epos. Dalam wawancara tahun 2004, ia menjelaskan dramaturg sebagai orang yang berusaha mengenal keseluruhan cerita lalu membentuknya agar dapat hadir di dalam teater.

Proses adaptasi berlangsung melalui dialog erat dengan penerjemah dan sarjana Bugis, terutama Muhammad Salim, yang menerjemahkan bagian-bagian Sureq Galigo ke dalam bahasa Indonesia. Grauer kemudian menyusun teks panggung berdasarkan hasil terjemahan, bahan akademik, pembicaraan dengan para ahli, serta kebutuhan visual pertunjukan. Ia tidak memilih satu episode tunggal, tetapi mempertahankan gagasan bahwa I La Galigo merupakan sebuah siklus: sejak turunnya generasi para dewa, kehidupan manusia di Dunia Tengah, perjalanan Sawerigading, sampai berakhirnya suatu zaman.

Grauer juga memandang legitimasi masyarakat sumber sebagai bagian penting dalam proses penciptaan. Bersama Restu Kusumaningrum, ia berhubungan dengan para sarjana di Makassar, pelaku tradisi, komunitas bissu, dan tokoh Kedatuan Luwu. Dalam penuturannya, Andi Anthon Pangerang menjadi salah satu penghubung yang membawa mereka memasuki lingkungan tradisional Luwu dan membicarakan izin serta penerimaan terhadap rencana pementasan.

Kesadaran Grauer terhadap posisinya sebagai orang luar menjadi salah satu ketegangan penting dalam pekerjaannya. Ia menyadari bahwa pengadaptasian sebuah epos sakral dan sangat luas dapat memunculkan kritik, penyederhanaan, atau kekeliruan. Namun, ia juga melihat bahwa suatu kebudayaan kadang membutuhkan pandangan dari luar untuk menyingkap kembali warisan yang telah menjadi terlalu akrab atau semakin tidak terlihat. Menurutnya, manfaat memperkenalkan I La Galigo kepada dunia jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin timbul, selama prosesnya dilakukan dengan penghormatan, konsultasi, dan keterlibatan masyarakat sumber.

Grauer dan Restu turut memperjuangkan agar produksi internasional tersebut tidak hanya memakai kebudayaan Indonesia sebagai bahan cerita. Para pemain berasal dari Indonesia, sebagian besar dari Sulawesi; musik digubah Rahayu Supanggah melalui penelitian terhadap tradisi bunyi Sulawesi Selatan; bahan tekstil, gerak, benda panggung, dan unsur artistiknya melibatkan seniman Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bukan ornamen dalam produksi, melainkan tubuh utama yang membuat pertunjukan itu hidup.

Pertunjukan I La Galigo pertama kali dipentaskan di Esplanade, Singapura, pada 12 Maret 2004. Setelah itu, pertunjukan berkeliling ke Amsterdam, Barcelona, Madrid, Lyon, Ravenna, New York, Jakarta, Melbourne, Milan, Taipei, dan akhirnya Makassar. Dalam perjalanan tersebut, Sureq Galigo memasuki percakapan seni pertunjukan dunia melalui perpaduan antara dramaturgi Grauer, bahasa visual Robert Wilson, musik Rahayu Supanggah, dan kehadiran para seniman Indonesia.

Kontribusi Grauer tidak berhenti pada keberhasilan sebuah produksi teater. Ia membantu menciptakan jalan baru bagi pengenalan Sureq Galigo. Sebelum pertunjukan itu, epos tersebut terutama beredar dalam manuskrip, kajian akademik, pembacaan tradisional, dan pengetahuan komunitas tertentu. Melalui panggung, sebagian kisahnya menemukan bahasa baru yang dapat melintasi batas bahasa dan negara.

Dalam ekosistem Banua Sappa’, Rhoda Grauer dapat ditempatkan sebagai penghubung kebudayaan dan dramaturg warisan Luwu. Ia bukan pewaris langsung tradisi Sureq Galigo, tetapi perannya dalam riset, adaptasi, diplomasi budaya, dan pengorganisasian produksi telah membantu membawa salah satu warisan besar Sulawesi Selatan ke hadapan penonton dunia.

Perannya juga mengingatkan bahwa pelestarian tidak selalu berlangsung dengan menyimpan sesuatu dalam keadaan semula. Terkadang pelestarian bekerja melalui penerjemahan medium: dari sureq menuju naskah dramatik, dari kata menuju gerak, dari manuskrip menuju cahaya panggung. Pada ruang peralihan itulah Rhoda Grauer memberi sumbangan terbesarnya.

Sumber

Riset dan kurasi Banua Sappa’ Digital dari berbagai sumber terbuka.

Bidang

Dramaturgi • Adaptasi Teater • Film Dokumenter • dan Riset Seni Pertunjukan

Komunitas

The Bali Purnati Center For The Arts