Kapurung

Warisan Budaya Takbenda

Ringkasan

Kapurung adalah hidangan berbasis sagu yang menjadi penanda kuliner Luwu Raya. Bola-bola sagu disajikan bersama kuah, sayuran, ikan atau sumber protein lain, serta bumbu khas seperti patikala; pengetahuan memilih bahan, mengolah sagu, dan menyusun sajian diwariskan melalui praktik keluarga dan jamuan bersama.

Sejarah

Kapurung menempati posisi penting dalam ingatan kuliner Luwu Raya. Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018 menyebutnya sebagai makanan berbasis sagu yang populer di masyarakat Luwu Raya dan sangat identik dengan orang Luwu/Palopo. Identitas itu bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang bahan pangan yang tumbuh dalam lingkungan ekologis Luwu dan cara mengolahnya menjadi makanan yang dimakan bersama.

Sagu, kuah, dan pengetahuan rasa

Pengetahuan kapurung mencakup pemilihan dan pengolahan sagu, pembentukan adonan, penataan sayuran serta lauk, dan keseimbangan rasa asam, gurih, pedas, dan aromatik. Variasi bahan dapat mengikuti ketersediaan setempat, tetapi prinsip makan bersama dan penggunaan bahan lokal menjadi bagian penting dari keberlanjutannya.

Warisan yang hidup dalam keseharian

Kapurung hadir di rumah, warung, perayaan keluarga, dan kegiatan komunitas. Karena itu, pewarisannya berlangsung melalui keterlibatan langsung: anak belajar dari orang tua, anggota keluarga bekerja bersama, dan tamu mengenal Luwu melalui satu hidangan yang dibagikan. Entri ini mencatat Kapurung sebagai WBTB Indonesia yang telah ditetapkan pada 2018, sambil tetap membuka ruang bagi dokumentasi variasi lokal di empat wilayah Luwu Raya.

Sumber

DAPOBUD/Kementerian Kebudayaan, objek Kapurung (SK 264/M/2018): https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000744; Katalog WBTB Indonesia 2018, No. Reg. 201800774: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f2/Katalog_Warisan_Budaya_Takbenda_Indonesia_2018_%28Buku_2%29.pdf; Rekap Penetapan WBTb 2013–2024: https://indonesiaheritage-cities.org/wp-content/uploads/2025/09/2013-2024-Rekap-Penetapan-WBTb.pdf