Tari Riringgo (Moriringgo)
Warisan Budaya Takbenda
Ringkasan
Tari Riringgo atau Moriringgo adalah tari komunitas Padoe di Luwu Timur yang mengungkapkan syukur, sukacita, dan kemenangan. Tari ini terkait dengan pesta panen Padungku, penyambutan tamu atau pasukan yang pulang, serta iringan gong, gendang, bambu, nyanyian, dan lompatan di antara batang bambu.
Sejarah
Tari Riringgo (Moriringgo) ditetapkan sebagai WBTB Indonesia pada 2020. Penelitian sejarah dan dokumentasi pariwisata daerah menempatkannya di Luwu Timur sebagai warisan komunitas Padoe. Dalam konteks lama, tarian ini dipentaskan pada pesta panen Padungku, penyambutan tamu agung, dan syukuran atas kepulangan orang yang menang atau selesai menjalankan tugas.
Irama, bambu, dan kegembiraan
Pertunjukan memadukan gong, gendang, teriakan penari, pukulan bambu, dan gerak lompatan. Penari harus cekatan bergerak di antara batang bambu yang dibuka dan ditutup secara berirama. Unsur tantangan itu membuat pertunjukan menjadi ruang belajar tubuh sekaligus perayaan komunal.
Perubahan fungsi dan kesinambungan makna
Seiring perubahan sosial, Moriringgo tampil dalam festival, penyambutan pemerintahan, sanggar, dan sekolah. Bentuk penyajiannya dapat beradaptasi, tetapi penelitian mutakhir tetap menemukan inti makna berupa rasa syukur, sukacita, dan kemenangan. Rekap nasional mencatat persebarannya di Luwu Timur; halaman DAPOBUD yang terindeks saat ini menampilkan Kota Makassar sebagai Kota/Kabupaten, sehingga perbedaan metadata itu dicatat untuk verifikasi lanjutan.
Sumber
DAPOBUD/Kementerian Kebudayaan, objek Tari Riringgo (Moriringgo), SK 1044/P/2020: https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001545; Rekap Penetapan WBTb 2013–2024, lokasi persebaran Luwu Timur: https://indonesiaheritage-cities.org/wp-content/uploads/2025/09/2013-2024-Rekap-Penetapan-WBTb.pdf; Jurnal Phinisi Integration Review 2024: https://ojs.unm.ac.id/pir/article/view/59038; Jadesta Kemenpar, atraksi Tari Moriringgo Suku Padoe: https://jadesta.kemenpar.go.id/atraksi/tari_moriringo_suku_padoe