Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung: Cenning Luwu dan Wajah Keibuan Dewan Adat Kedatuan

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung adalah figur adat Kedatuan Luwu yang menduduki posisi sebagai Cenning Luwu, yang bertugas menggantikan peran Datu dalam memimpin pemerintahan, memimpin persidangan, serta mengambil kebijakan apabila Datu sedang berhalangan hadir, sakit, atau dalam masa transisi. Kehadirannya memperlihatkan peran perempuan dalam menjaga tata hormat, martabat, dan kesinambungan adat Luwu di masa modern.

Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung: Cenning Luwu dan Wajah Keibuan Dewan Adat Kedatuan

Di dalam tatanan adat Kedatuan Luwu, tidak semua jabatan berdiri hanya sebagai nama. Ada jabatan yang memikul fungsi, ada yang menyimpan garis sejarah, dan ada pula yang menjadi penanda kepercayaan. Salah satunya adalah Cenning Luwu, posisi adat yang berada dekat dengan pusat kepemimpinan Kedatuan dan memiliki fungsi penting dalam menjaga kesinambungan tata persidangan, komunikasi adat, serta hubungan kelembagaan.

Pada posisi inilah Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung hadir dalam lanskap Kedatuan Luwu masa kini. Namanya kerap muncul dalam berbagai agenda adat dan kebudayaan, terutama dalam peran sebagai Cenning Luwu di lingkungan Dewan Adat Kedatuan Luwu. Kehadirannya memberi warna tersendiri: lembut tetapi berwibawa, tenang tetapi memiliki bobot simbolik, seperti daun hijau tua di antara ukiran emas balairung adat.

Makna Cenning dalam Tatanan Kedatuan Luwu

Dalam struktur tradisional Kedatuan Luwu, Cenning bukan jabatan biasa. Ia berada dalam lingkar dekat kepemimpinan adat dan memiliki fungsi representatif ketika Datu berhalangan. Dalam sejumlah kajian tentang sistem pemerintahan Kedatuan Luwu, Cenning dijelaskan sebagai jabatan khusus yang memerlukan pengetahuan luas tentang adat dan pemerintahan, moral yang baik, serta rekam hidup yang terjaga.

Secara fungsional, Cenning dapat mewakili Datu dalam persidangan adat ketika Datu berhalangan. Ia juga memiliki peran dalam tata komunikasi adat pada situasi-situasi penting. Karena itu, posisi Cenning bukan semata-mata posisi seremonial, melainkan bagian dari mekanisme adat yang menjaga agar tata kelembagaan Kedatuan tetap berjalan dengan tertib.

Di masa kini, ketika Kedatuan Luwu tidak lagi menjalankan pemerintahan formal sebagaimana masa kerajaan, posisi Cenning memperoleh makna baru. Ia menjadi salah satu figur yang menjembatani memori kelembagaan Kedatuan dengan kebutuhan masyarakat modern: menerima tamu kehormatan, hadir dalam agenda kebudayaan, menyematkan tanda kehormatan adat, dan menjadi bagian dari komunikasi antara lembaga adat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Sosok Perempuan dalam Balairung Adat

Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung hadir sebagai salah satu figur perempuan penting dalam lingkungan adat Kedatuan Luwu masa kini. Dalam sejumlah kegiatan publik, ia tampil bukan hanya sebagai pendamping simbolik, tetapi sebagai pemangku peran adat yang menjalankan tugas kelembagaan.

Keberadaannya penting karena memperlihatkan bahwa perempuan dalam tradisi Luwu tidak berada di pinggir sejarah. Dalam ingatan panjang Luwu, perempuan memiliki tempat yang kuat, baik dalam mitologi, struktur sosial, maupun sejarah kedatuan. Nama-nama perempuan dalam naskah dan tradisi Luwu, dari We Nyili Timo hingga figur-figur bangsawan perempuan dalam masa yang lebih kemudian, menunjukkan bahwa perempuan tidak sekadar hadir sebagai ornamen, tetapi juga sebagai pemangku martabat, penjaga garis, dan pengemban nilai.

Dalam konteks itu, Andi Sitti Huzaimah dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi perempuan Luwu yang menjaga adat dengan cara yang tidak selalu riuh, tetapi terasa.

Menyambut Tamu dan Menjaga Tata Hormat

Salah satu peran publik Andi Sitti Huzaimah tampak dalam kegiatan silaturahmi kelembagaan di Istana Datu Luwu. Pada November 2023, ketika Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan Bahtiar Baharuddin berkunjung ke Kedatuan Luwu, ia hadir sebagai Ketua Dewan Adat Kedatuan Luwu sekaligus Cenning Luwu bersama anggota Dewan Adat 12. Kunjungan tersebut disambut dengan tata adat, termasuk penjemputan menggunakan payung kebesaran, kain Lawolo, dan tarian penyambutan.

Peristiwa semacam ini memperlihatkan fungsi Kedatuan sebagai ruang kehormatan. Setiap tamu yang datang tidak hanya diterima secara administratif, tetapi juga melalui tata simbolik yang memiliki bahasa sendiri. Payung, kain, tarian, pin, dan cenderamata bukan sekadar perlengkapan acara, melainkan tanda bahwa adat masih memiliki cara untuk menyapa zaman.

Pada Januari 2024, Andi Sitti Huzaimah juga hadir saat rombongan Bupati Luwu Timur disambut secara adat di Balairung Salassae Kedatuan Luwu menjelang peringatan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu. Dalam kegiatan itu, Cenning Luwu bersama Dewan Adat 12 menerima rombongan pemerintah daerah dan menjadi bagian dari persiapan agenda besar Tana Luwu. Kehadiran tersebut memperlihatkan posisi Kedatuan sebagai simpul yang menghubungkan Palopo, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, bahkan wilayah-wilayah yang memiliki ikatan historis dengan Tana Luwu.

Hadir dalam Momentum Hari Jadi Luwu

Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu bukan hanya agenda seremoni tahunan. Ia adalah panggung ingatan. Di sana sejarah, perjuangan, adat, dan pemerintah daerah bertemu dalam satu kalender budaya.

Pada Januari 2024, Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung hadir dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Luwu ke-756. Ia menyaksikan pengibaran bendera Merah Putih dan bendera Kedatuan Luwu, sebuah prosesi yang dilanjutkan dengan Makkasiwiang, yaitu bentuk pengabdian atau persembahan dalam istilah Kedatuan Luwu.

Pada puncak peringatan Hari Jadi Luwu ke-756 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-78 di Luwu Timur, kehadiran Cenning Luwu juga dicatat dalam agenda resmi. Di hadapannya, Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan menyampaikan perhatian terhadap renovasi kawasan Kedatuan Luwu. Ini menunjukkan bahwa kehadiran tokoh adat bukan hanya simbol masa lalu, tetapi ikut menjadi bagian dari percakapan masa depan kawasan adat dan kebudayaan Luwu.

Mappacokkong Baruga dan Ruang Adat yang Terus Dibangun

Pada September 2024, Andi Sitti Huzaimah hadir dalam prosesi Mappacokkong Baruga, yaitu peletakan batu pertama pembangunan Baruga Datu Opu To Marimari di kompleks Istana Langkanae Luwu, Kota Palopo. Dalam kegiatan tersebut, peletakan batu pertama dilakukan oleh Cenning Luwu mewakili Datu Luwu, kemudian dilanjutkan oleh perwakilan pemerintah daerah.

Baruga memiliki makna penting dalam tradisi. Ia bukan sekadar bangunan, tetapi ruang pertemuan, ruang perhelatan agung, ruang pelantikan, ruang pernikahan adat, dan ruang perjumpaan para tokoh. Dengan kata lain, baruga adalah panggung tempat adat berbicara kepada masyarakat.

Kehadiran Andi Sitti Huzaimah dalam prosesi ini memperlihatkan peran Cenning Luwu dalam menjaga kesinambungan ruang adat. Jika istana adalah rumah ingatan, maka baruga adalah ruang tempat ingatan itu berkumpul, duduk, bermusyawarah, dan merancang kelanjutan hidupnya.

Pin Kedatuan dan Bahasa Simbolik Adat

Salah satu rekam jejak publik Andi Sitti Huzaimah yang cukup menonjol adalah penyematan Pin Kedatuan Luwu kepada pejabat daerah. Pada Agustus 2024, Penjabat Bupati Luwu Muh. Saleh bersama Ketua TP PKK Kabupaten Luwu, Aisyah Saleh, menerima pin Kedatuan Luwu yang disematkan langsung oleh Cenning Luwu.

Di permukaan, penyematan pin mungkin tampak sebagai seremoni sederhana. Namun dalam bahasa adat, tanda seperti ini memiliki kedalaman. Pin menjadi lambang penerimaan, penghormatan, dan penegasan hubungan. Ia kecil secara ukuran, tetapi besar sebagai pesan: bahwa hubungan antara pemerintah modern dan lembaga adat tidak hanya dibangun lewat dokumen, tetapi juga lewat tata hormat.

Dalam konteks Banua Sappa’ Digital, aktivitas semacam ini penting dicatat sebagai bagian dari rekam jejak pelaku budaya. Sebab kebudayaan tidak hanya hidup dalam naskah tua atau benda pusaka, tetapi juga dalam gestur-gestur kecil yang terus dilakukan: menyambut, menyematkan, menerima, mengantar, dan memberi restu.

Penutup

Andi Sitti Huzaimah Mackulau Opu Daeng Ri Pajung adalah salah satu wajah penting Kedatuan Luwu masa kini. Melalui posisinya sebagai Cenning Luwu, ia hadir dalam ruang antara tradisi dan zaman modern: menjaga tata hormat, menjalankan fungsi representatif, dan menjadi bagian dari bahasa adat yang terus berbicara kepada publik.

Dalam dirinya, kita melihat bahwa adat tidak selalu bersuara keras. Kadang adat hadir melalui ketenangan seorang perempuan yang duduk di balairung, menerima tamu dengan martabat, menyematkan pin dengan tangan yang teduh, dan menjaga agar hubungan antara masa lalu dan masa kini tidak putus.

Sebab Kedatuan Luwu tidak hanya dijaga oleh bangunan, gelar, dan benda pusaka. Ia juga dijaga oleh orang-orang yang memahami tata tempat, tata kata, dan tata hormat. Di antara mereka, Cenning Luwu berdiri sebagai simpul halus tetapi penting: penjaga kesinambungan adat di jantung ingatan Luwu.