Anthon Andi Pangerang: Penjaga Ingatan Luwu di Tengah Arus Zaman

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Anthon Andi Pangerang merupakan budayawan, peneliti, dan pemerhati sejarah asal Luwu yang mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian warisan budaya Sulawesi Selatan, khususnya Kedatuan Luwu dan Sureq I La Galigo. Melalui penelitian, dokumentasi, pendampingan kegiatan adat, serta keterlibatannya dalam forum nasional dan internasional, ia berperan sebagai penghubung antara tradisi lisan, dunia akademik, dan masyarakat luas. Kiprahnya menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui seni dan upacara adat, tetapi juga melalui kerja intelektual yang menjaga ingatan kolektif agar tetap hidup lintas generasi.

Anthon Andi Pangerang: Penjaga Ingatan Luwu di Tengah Arus Zaman

Tidak semua warisan budaya dijaga oleh mereka yang berdiri di atas panggung. Sebagian justru bertahan berkat orang-orang yang memilih bekerja dalam ketekunan yang nyaris tak terlihat. Mereka mencatat, meneliti, mendengar kisah para tetua, menghubungkan serpihan sejarah, dan memastikan pengetahuan yang diwariskan secara lisan tidak hilang ditelan zaman. Dalam kebudayaan Luwu, salah satu sosok yang menempuh jalan panjang itu adalah Anthon Andi Pangerang.

Di tengah perubahan sosial, modernisasi, dan berkurangnya ruang hidup tradisi, Anthon Andi Pangerang mengabdikan dirinya sebagai peneliti, budayawan, sekaligus penghubung antara masyarakat adat, dunia akademik, Kedatuan Luwu, dan komunitas internasional. Kiprahnya memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan seni atau upacara adat, tetapi juga melalui penelitian, dokumentasi yang cermat, dan kesediaan menjelaskan makna budaya kepada generasi baru.

Bagi masyarakat Luwu, ia merupakan salah satu penjaga ingatan kolektif yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Tumbuh dari Lingkungan Bangsawan Luwu

Anthon Andi Pangerang lahir di Palopo pada 13 Agustus 1944 dari keluarga bangsawan Kedatuan Luwu. Ia merupakan putra dari Andi Pangerang Opu To Sinilele dan Andi Sitti Johar Opu Da Amirah. Lingkungan keluarga yang lekat dengan adat istiadat dan tradisi kerajaan membentuk kedekatannya dengan sejarah Luwu sejak usia dini.

Namun, kedekatan dengan tradisi tidak membuatnya memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang selesai diwariskan begitu saja. Sebaliknya, ia melihat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memahami, menjelaskan, dan merawatnya kembali sesuai tantangan zamannya.

Pandangan inilah yang kemudian mewarnai hampir seluruh perjalanan hidupnya.

Menempuh Jalan Kebudayaan

Ketika banyak orang memandang kebudayaan sebagai kumpulan peninggalan masa lalu, Anthon Andi Pangerang memilih mendekatinya sebagai sesuatu yang hidup.

Pilihan itu semakin kuat ketika pada tahun 1982 ia mengikuti pelatihan sebagai Research Assistant bidang Antropologi melalui program Southeast Asian Studies di University of California, Santa Cruz, Amerika Serikat. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan pendekatan ilmiah dalam memahami masyarakat, tradisi, dan perubahan budaya.

Keistimewaan Anthon Andi Pangerang terletak pada kemampuannya memadukan dua dunia yang sering dipisahkan. Di satu sisi, ia memahami tradisi dari dalam sebagai bagian dari lingkungan budaya Luwu. Di sisi lain, ia mampu menjelaskan tradisi tersebut melalui pendekatan antropologi, sejarah, dan kajian budaya sehingga dapat dipahami oleh kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Kemampuan menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan dunia akademik inilah yang kemudian menjadikan dirinya banyak dilibatkan dalam berbagai penelitian serta forum ilmiah mengenai kebudayaan Sulawesi Selatan, khususnya Luwu.

Menjadikan Sureq I La Galigo sebagai Misi Kehidupan

Sulit membicarakan kiprah Anthon Andi Pangerang tanpa menyebut Sureq I La Galigo.

Epos yang diakui sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia itu bukan sekadar naskah kuno baginya. Ia memandangnya sebagai rekaman cara pandang masyarakat Bugis terhadap asal-usul kehidupan, hubungan manusia dengan alam, tata pemerintahan, etika, hingga struktur sosial yang berkembang di masa lampau.

Karena itu, selama bertahun-tahun ia aktif menjadi narasumber dalam berbagai seminar, diskusi, dan penelitian mengenai I La Galigo. Dalam setiap kesempatan, ia berupaya menjelaskan bahwa memahami epos tersebut tidak cukup hanya melalui pembacaan teks, tetapi juga melalui pemahaman terhadap tradisi lisan, ritus adat, serta lanskap budaya tempat kisah itu tumbuh.

Peran tersebut mencapai jangkauan internasional ketika produksi teater I La Galigo karya sutradara Amerika Serikat Robert Wilson dipersiapkan untuk dipentaskan di berbagai negara. Dalam proses tersebut, Anthon Andi Pangerang turut memberikan pendampingan budaya agar interpretasi artistik yang dibangun tetap menghormati nilai-nilai dasar yang hidup dalam tradisi Luwu dan Bugis.

Kehadirannya menjadi pengingat bahwa ketika sebuah warisan budaya memasuki panggung dunia, keindahan artistik perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap konteks sejarah dan budaya yang melahirkannya.

Dari Situs Adat hingga Jejak Sejarah

Kontribusi Anthon Andi Pangerang tidak berhenti pada kajian naskah.

Ia juga terlibat dalam berbagai upaya pelestarian situs sejarah, makam tokoh-tokoh penting, serta ruang-ruang budaya yang memiliki makna bagi masyarakat Luwu. Dalam berbagai kesempatan, pandangannya menjadi rujukan mengenai tata ruang tradisional, simbol-simbol adat, hingga aspek historis yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan pemugaran.

Ia memahami bahwa pelestarian situs bukan hanya persoalan menjaga bangunan fisik. Yang jauh lebih penting adalah mempertahankan makna yang hidup di balik tempat tersebut.

Karena itulah, ia sering mengingatkan bahwa sebuah situs sejarah kehilangan sebagian nilainya apabila dipisahkan dari cerita, ritus, dan memori masyarakat yang selama berabad-abad menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pandangan seperti ini memperlihatkan bahwa baginya, pelestarian budaya selalu menyatukan benda, manusia, dan ingatan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Menjadi Jembatan antara Adat dan Akademik

Tidak banyak tokoh budaya yang mampu diterima secara bersamaan oleh masyarakat adat, lembaga pemerintahan, peneliti, arkeolog, antropolog, maupun komunitas internasional.

Anthon Andi Pangerang termasuk sedikit di antaranya.

Ia memahami bahasa adat ketika berdialog dengan para pemangku tradisi, tetapi juga mampu berbicara menggunakan kerangka ilmiah ketika berhadapan dengan kalangan akademisi. Kemampuan ini menjadikannya sering berperan sebagai penghubung dalam berbagai penelitian maupun kegiatan pelestarian budaya.

Peran tersebut sesungguhnya sangat penting, sebab pelestarian kebudayaan memerlukan kepercayaan dari berbagai pihak. Pengetahuan lokal tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek penelitian, sementara pendekatan ilmiah juga tidak semestinya dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi.

Melalui kiprahnya, Anthon Andi Pangerang menunjukkan bahwa keduanya dapat saling menguatkan.

Warisan Pemikiran

Warisan terbesar Anthon Andi Pangerang bukan hanya kumpulan tulisan, seminar, atau penelitian yang pernah diikutinya.

Warisan yang paling penting adalah cara memandang kebudayaan.

Ia memperlihatkan bahwa sejarah Luwu tidak dapat dipahami hanya melalui daftar raja, peperangan, atau kronologi politik. Di balik semua itu terdapat lapisan-lapisan pengetahuan yang tersimpan dalam tradisi lisan, sastra klasik, ritual adat, arsitektur, toponimi, hingga ingatan masyarakat.

Pandangan tersebut memiliki arti penting bagi generasi sekarang.

Di tengah derasnya arus digital, pelestarian budaya tidak lagi cukup dilakukan dengan menyimpan artefak atau mendokumentasikan upacara adat. Yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan antara masyarakat dengan makna yang terkandung dalam warisan budaya itu sendiri.

Dalam pengertian ini, Sureq I La Galigo bukan sekadar manuskrip kuno, melainkan sumber pengetahuan yang terus berbicara kepada setiap generasi yang bersedia membacanya dengan sungguh-sungguh.

Opu Mpelai Sereq Galigona

Anthon Andi Pangerang wafat pada Februari 2022 setelah mengalami sakit. Kepergiannya mengundang penghormatan dari keluarga, masyarakat, tokoh adat, dan mereka yang pernah belajar atau bekerja bersamanya.

Dewan Adat Dua Belas Kedatuan Luwu kemudian melekatkan gelar kematian kepadanya:

Opu Mpelai Sereq Galigona.

Gelar tersebut dapat dipahami sebagai penghormatan kepada seseorang yang pergi meninggalkan Sureq Galigo yang sangat dicintai dan dijaganya.

Ada kesedihan yang tersimpan dalam gelar itu. Namun, ada pula pengakuan.

Puang Anthon memang telah pergi. Akan tetapi, ia meninggalkan jejak dalam makalah, buku, penelitian, bangunan, forum adat, seminar, pementasan, serta ingatan orang-orang yang pernah duduk dan mendengarkan penjelasannya.

Sebagian warisannya dapat ditemukan dalam daftar pustaka.

Sebagian lagi hidup dalam catatan kaki.

Namun, mungkin bagian terbesarnya tersimpan dalam pengetahuan yang ia pindahkan dari satu orang kepada orang lain, dalam percakapan yang tidak pernah direkam, dan dalam jalan-jalan penelitian yang menjadi lebih terang karena ia pernah menunjukkan arahnya.

Penjaga Ingatan untuk Masa Depan

Ketika nama-nama besar dikenang karena memimpin kerajaan atau memenangkan peperangan, Anthon Andi Pangerang memilih jalan yang berbeda. Ia menjaga ingatan.

Di balik seminar, penelitian, pemugaran situs, dokumentasi tradisi, hingga panggung-panggung internasional tempat I La Galigo diperkenalkan kepada dunia, terdapat kerja sunyi seorang budayawan yang memastikan kisah-kisah Luwu tidak terputus oleh pergantian zaman.

Perjalanan hidupnya mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui darah atau gelar, tetapi juga melalui ketekunan untuk mendengar, mencatat, menjelaskan, dan membagikannya kepada orang lain.

Bagi Banua Sappa', Anthon Andi Pangerang layak dikenang bukan semata sebagai seorang budayawan. Ia adalah salah satu penjaga memori kolektif Luwu, sosok yang menunjukkan bahwa masa depan kebudayaan dibangun oleh mereka yang setia merawat ingatan.