Bissu dan Biksu: Jejak Buddhis yang Tersimpan di Lidah Orang Bugis

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Artikel ini menelusuri kemungkinan hubungan etimologis antara istilah *bissu* dalam tradisi Bugis dan *biksu* dari bahasa Sanskerta *bhikṣu*. Dengan menelaah pola perubahan bunyi dalam bahasa Bugis, jejak arkeologis Buddhisme di pesisir Sulawesi, serta kemiripan kedudukan ritual bissu dengan *to burake* di Toraja, artikel ini mengajukan hipotesis bahwa nama *bissu* mungkin merupakan hasil asimilasi istilah Buddhis terhadap pranata ritual lokal yang telah lebih dahulu ada. Jika hipotesis ini benar, yang diwarisi masyarakat Bugis dari persentuhan dengan Buddhisme mungkin bukan pranata bissunya, melainkan nama yang hingga kini tersimpan dalam lidah mereka.

Bissu dan Biksu: Jejak Buddhis yang Tersimpan di Lidah Orang Bugis

Maret 2002. Matahari pesisir Barru menyengat tanpa ampun. Angin dari Selat Makassar membawa bau garam dan ikan yang dijemur, tetapi tak cukup untuk mengusir gerah. Di sepanjang jalan desa nelayan Pancana, spanduk-spanduk terbentang dengan tulisan yang membuat warga desa itu sendiri terheran-heran: La Galigo, sastra terpanjang di dunia.

Desa kecil itu sedang menjadi tuan rumah Festival dan Seminar Internasional La Galigo. Sekitar tiga puluh pemakalah, dari budayawan lokal hingga peneliti asing, datang membawa kertas kerja. Pilihan tempatnya bukan kebetulan. Di Pancana inilah, pada pertengahan abad ke-19, Retna Kencana Colliq Pujie, Arung Pancana Toa, menyalin dan menghimpun naskah-naskah La Galigo yang kini tersimpan di Leiden.

Suasananya bukan sekadar perayaan. Ada gairah besar untuk menghidupkan kembali kebudayaan Bugis kuno, yang selama puluhan tahun terpinggirkan. Bahkan pilihan lokasi pun sempat diperdebatkan. Tokoh-tokoh adat dari Luwu resah: mengapa Barru, bukan Luwu, tanah kelahiran Sawerigading, yang menjadi tuan rumah?

Di tengah diskursus revitalisasi itulah, satu sosok kembali mendapat sorotan: bissu, para pendeta Bugis kuno yang melampaui batas laki-laki dan perempuan. Di forum itu pula, sebagaimana dicatat antropolog Sharyn Graham Davies, seorang pembicara menyampaikan sebuah etimologi rakyat (folk etymology). Kata bissu, katanya, berasal dari mabessi, yang dimaknai "bersih" atau "suci".

Tafsir itu kemudian menyebar. Dua tahun setelah festival, ia tercatat dalam buku Halilintar Lathief, Bissu: Pergulatan dan Peranannya dalam Masyarakat Bugis (2004). Sejak itu ia disadur dari satu naskah ilmiah ke naskah berikutnya, hingga kini nyaris menjadi "fakta" yang diulang di jurnal, skripsi, dan artikel populer.

Tetapi benarkah demikian? Ada satu kemungkinan lain yang jauh lebih tua, yang sudah dicatat para sarjana sejak puluhan tahun lalu tetapi tak pernah benar-benar diuji: bahwa bissu adalah gema dari kata yang dibawa para pelaut dan pendeta Buddha berabad-abad silam, yakni biksu.

Pendeta yang Turun Bersama Batara Guru

Untuk memahami mengapa asal-usul sebuah nama begitu penting, kita perlu mengenal lebih dulu siapa para bissu.

Dalam epos La Galigo, bissu hadir sejak awal dunia. Ketika Batara Guru diturunkan dari Botting Langiq (dunia atas) ke tanah Luwu, bumi masih kosong dan alam belum tenang. Badai dan petir menyambar tanpa henti. Para bissu kemudian turun dari langit, dipimpin Puang Matoa dari Lae-Lae, dan bersama kedatangan mereka badai pun reda. Sejak itu bissu menjadi penghubung antara manusia di Lino (dunia tengah) dan para dewata.

Peran itu tidak berhenti di dalam mitos. Di kerajaan-kerajaan Bugis pra-Islam, bissu adalah pendeta istana. Merekalah penjaga arajang, benda-benda pusaka kerajaan, yang tanpanya seorang raja tidak dapat dilantik. Mereka memimpin upacara kerajaan, menentukan hari baik, menuntun ritual tanam padi mappalili, dan berbicara kepada dewata dalam bahasa khusus yang disebut basa To Rilangi, bahasa orang langit. Di Bone pernah ada komunitas yang dikenal sebagai Bissu PatappuloE, empat puluh bissu penjaga pusaka.

Catatan tertulis tertua dari orang luar datang dari seorang pedagang Portugis, Antonio de Paiva, pada 1544. Ia melaporkan bahwa para pendeta raja-raja di negeri itu umumnya disebut bissu, dan menggambarkan mereka berpakaian serta bertutur laksana perempuan.

Inilah ciri yang paling membedakan bissu: mereka bukan laki-laki, bukan pula perempuan. Masyarakat Bugis mengenal lima kategori gender, yakni oroane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai, calalai, dan bissu. Bissu dipandang menghimpun seluruh unsur itu dalam satu diri, dan justru karena keutuhan itulah mereka dianggap layak menjadi perantara dunia manusia dan dunia dewata.

Sejarah modern tidak ramah kepada mereka. Pada 1950-an hingga 1960-an, gerakan DI/TII memaksa para bissu mencukur rambut, membakar rumah pusaka, dan membunuh banyak di antara mereka. Setelah 1965, Operasi Mappatoba kembali menekan mereka untuk meninggalkan ritual leluhur. Yang tersisa kini hidup di beberapa wilayah seperti Segeri (Pangkep), Bone, Soppeng, dan Wajo.

Puang Matoa Saidi (1958–2011), pemimpin bissu Segeri yang ikut tampil dalam pementasan I La Galigo karya Robert Wilson, adalah salah satu sosok yang membawa bissu kembali dikenal dunia. Ia juga, seperti akan kita lihat, punya pendapat sendiri tentang asal-usul namanya.

Dua Tafsir yang Bersaing

Dalam literatur tentang bissu, setidaknya ada dua jawaban atas pertanyaan dari mana nama itu berasal.

Tafsir Mabessi: Bersih dan Suci

Tafsir pertama kini paling dominan. Halilintar Lathief, antropolog dan pembina komunitas bissu, merujuk keterangan dua tokoh adat Bugis, Andi Palinrungi dan Andi Angkong Petta Rala. Menurut mereka, bissu disebut demikian karena mereka mabessi: bersih dan suci, tidak berdarah, tidak menyusui, dan tidak haid.

Puang Matoa Saidi pun menegaskan hal serupa. Ia menolak jika bissu disamakan dengan biksu, meski keduanya sama-sama ahli agama. Menurutnya, dari mabessi lahir bessi, lalu menjadi bissu. Tafsir inilah yang kemudian berulang di banyak jurnal, skripsi, hingga ensiklopedia daring.

Hipotesis Biksu: Jejak Buddhis

Tafsir kedua sebenarnya jauh lebih tua. Dalam Gender Diversity in Indonesia (2010), Davies mencatat bahwa Christian Pelras menyebut penurunan bissu dari kata Sanskerta bhikṣu sebagai "tafsir yang umum" (Pelras, The Bugis, 1996: 71). Davies juga mendaftar sejumlah sarjana yang menyinggung kaitan ini. Di antaranya arkeolog David Bulbeck (1992), indolog Jan Gonda dalam Sanskrit in Indonesia (1973), linguis Roger Mills (1975), dan Ülo Sirk dalam kajiannya tentang bahasa Bugis Kuno dan basa bissu (1975).

Dua catatan lain lebih tegas lagi. Sejarawan Hubert Jacobs (1966), dalam catatan kaki kajiannya tentang surat de Paiva tahun 1544, menyatakan bahwa bissu serumpun (cognate) dengan bhikshu. Barbara Harvey (1978) bahkan menyebut bissu sebagai "pendeta yang berasal dari tradisi Hindu-Buddha".

Davies juga merekam kesaksian dari lapangan. Andi Galib, seorang bangsawan Bugis yang mengelola museum benda-benda pusaka, menjadi yakin bahwa bissu berasal dari Buddhisme setelah dikunjungi seorang biksu beberapa dekade sebelumnya. Budayawan Bugis Dharmawan Mas'ud dan Halilintar Lathief pun, dalam percakapan dengan Davies, menyinggung kemiripan keduanya dalam hal pakaian, upacara, dan ritual.

Namun hipotesis ini juga punya penentang. Masih menurut catatan Lathief, ahli bahasa Adriani berpendapat bahwa kata bissu, yang dipakai dalam berbagai bahasa di Nusantara, tidak berasal dari bhikṣu.

Masalahnya, hipotesis biksu hampir selalu hadir sebagai kutipan singkat: satu kalimat atau satu catatan kaki. Davies sendiri menyimpulkan bahwa etimologi bissu "masih belum jelas". Hipotesis ini nyaris tak pernah ditopang analisis bunyi yang ketat, atau dibaca bersama bukti arkeologis tentang kehadiran Buddhisme di pesisir Sulawesi. Akibatnya, dalam perdebatan populer, ia kalah suara oleh tafsir mabessi yang terdengar lebih "lokal" dan terus diulang.

Masalah dalam Tafsir Mabessi

Sebagai penutur bahasa Bugis, penulis melihat setidaknya tiga persoalan dalam tafsir mabessi.

Pertama, maknanya. Dalam bahasa Bugis sehari-hari, bessi berarti besi. Mabessi secara gramatikal berarti berbesi, menyerupai besi, atau mengeras seperti besi. Untuk menyatakan bersih, orang Bugis memakai kata lain, yaitu mapaccing. Tidak ada jejak pemakaian bessi dalam arti "suci" dalam kosakata hidup masyarakat Bugis.

Kedua, arah sebab-akibatnya tampak terbalik. Ciri paling spektakuler dari bissu di mata orang luar adalah maggiri: menusukkan keris ke tubuh sendiri tanpa terluka. Mereka tampak kebal, seolah tubuhnya membesi. Dari sini lompatan tafsir mudah terjadi. Bissu kebal (mabessi), kekebalan itu dianggap buah kesucian, lalu mabessi sendiri dimaknai "suci". Fenomena ritual tampaknya dipakai untuk menjelaskan kata, bukan sebaliknya.

Ketiga, bunyinya. Dari bessi menjadi bissu, dua vokal harus berubah sekaligus: e menjadi i, dan i menjadi u. Tidak ada hukum bunyi Bugis yang menjelaskan perubahan semacam itu. Sebaliknya, seperti akan kita lihat, jalan dari biksu ke bissu hanya memerlukan satu langkah, dan langkah itu sangat teratur.

Semua ini tidak berarti penjelasan para bissu tentang diri mereka tidak bernilai. Makna bersih dan suci itu nyata dalam kehidupan dan laku mereka. Tetapi makna yang dihayati sebuah komunitas tidak selalu sama dengan asal-usul kata yang mereka warisi. Banyak orang Indonesia memakai kata agama, dosa, dan surga setiap hari tanpa menyadari bahwa ketiganya berasal dari bahasa Sanskerta.

Lidah Bugis dan Hukum Bunyi

Setiap bahasa punya aturan tentang bunyi apa yang boleh berdampingan. Para linguis menyebutnya fonotaktik. Bahasa Bugis termasuk bahasa yang ketat dalam hal ini.

Kata asli Bugis tidak pernah berakhir dengan konsonan selain bunyi sengau -ng dan hentian glotal. Di tengah kata, dua konsonan hanya boleh bertemu dalam dua pola: konsonan kembar seperti -ss- dan -tt-, atau sengau yang diikuti konsonan sejenis seperti -mp- dan -nr-. Gugus seperti -ks- atau -kt- tidak dikenal.

Maka ketika kata asing yang memuat gugus semacam itu masuk ke dalam bahasa Bugis, lidah penuturnya melakukan penyesuaian. Caranya yang paling umum adalah asimilasi regresif total: konsonan pertama melebur dan berubah menjadi sama persis dengan konsonan kedua.

• Asimilasi, karena satu bunyi menjadi sama dengan bunyi di dekatnya.

• Regresif, karena bunyi yang di belakang memengaruhi bunyi yang di depannya.

• Total, karena perubahannya menyeluruh, menghasilkan konsonan kembar.

Polanya dapat dilihat pada kata-kata pinjaman yang sudah lama hidup dalam bahasa Bugis:

Bahasa Indonesia/Melayu

Bahasa Bugis

Perubahan

saksi

sassi

-ks- → -ss-

paksa

passa

-ks- → -ss-

bukti

butti

-kt- → -tt-

waktu

wettu

-kt- → -tt-

Dua contoh pertama layak diperhatikan lebih saksama. Saksi dan paksa bukan sekadar kata Melayu. Keduanya berasal dari bahasa Sanskerta, sākṣin dan pakṣa, yang memuat gugus kṣ. Dengan kata lain, lidah Bugis sudah terbukti memperlakukan gugus kṣ dari Sanskerta dengan cara yang tetap: menjadikannya -ss-.

Sekarang terapkan hukum yang sama pada kata bhikṣu:

1. Bunyi aspirat bh menjadi b, karena bahasa Bugis tidak mengenal konsonan aspirat. Hal yang sama terjadi pada kata Bugis basa (bahasa), dari Sanskerta bhāṣā.

2. Vokal i dan u tetap di tempatnya.

3. Gugus kṣ berasimilasi menjadi -ss-, persis seperti saksi menjadi sassi.

Hasilnya: bissu.

Tidak ada satu bunyi pun yang perlu dijelaskan dengan pengecualian. Bandingkan dengan jalan dari bessi, yang mengharuskan dua vokal berubah tanpa alasan yang jelas.

Sebuah Petunjuk tentang Jalurnya

Analisis ini juga memberi petunjuk tentang dari mana kata itu datang. Dalam bahasa Jawa Kuno, bhikṣu berubah menjadi wiku, sementara dalam bahasa Melayu ia hidup sebagai biksu dan juga biku. Seandainya bahasa Bugis meminjam kata ini melalui Jawa, yang kita dapati semestinya wiku, bukan bissu.

Bentuk bissu hanya mungkin lahir dari sumber yang masih mempertahankan gugus -ks-. Artinya, jika hipotesis ini benar, kata itu kemungkinan besar masuk melalui jalur yang dekat dengan Sanskerta atau bahasa Melayu, yakni jalur maritim, bukan melalui istana-istana Jawa.

Jejak Buddha di Pesisir Sulawesi

Sebuah kata pinjaman membutuhkan perjumpaan. Agar orang Bugis purba meminjam kata biksu, mereka harus pernah bertemu dengan para biksu, atau setidaknya dengan orang-orang yang mengenal mereka. Apakah perjumpaan semacam itu pernah terjadi di Sulawesi?

Sulawesi memang tidak memiliki candi. Tanahnya tidak menyisakan stupa seperti Borobudur atau Muara Takus. Tetapi bukan berarti Buddhisme tak pernah singgah. Jejaknya tersimpan dalam benda-benda kecil berbahan perunggu.

Masa

Temuan

Lokasi

Keterangan

Abad ke-2 hingga ke-7 M

Arca Buddha perunggu, langgam Amarawati

Sikendeng, tepi Sungai Karama, Mamuju

Ditemukan 1921, kini di Museum Nasional; arca Buddha tertua di Indonesia

Abad ke-7 hingga ke-8 M

Tiga arca Buddhis perunggu, termasuk Avalokiteśvara berlengan delapan

Bontonompo, afdeling Bonthain (Gowa–Bantaeng)

Gaya Jawa; kini di Rijksmuseum Amsterdam

Sekitar 1000 M

Dua arca Buddhis perunggu

Sasara, Bontoharu, Selayar

Dicetak secara lokal meniru model Nganjuk, Jawa Timur

Sebelum sekitar 1300 M

Lonceng pendeta perunggu dengan wajra

Makam-makam di pantai selatan Sulawesi Selatan

Model Jawa Timur; sebagian diduga dibuat lokal

Sekitar 1000 M

Peralihan ke kremasi

Pesisir selatan Sulawesi Selatan

Praktik Hindu-Buddha yang diadopsi masyarakat setempat

Arca Sikendeng adalah jenis yang sering disebut Dipangkara, pelindung para pelaut. Karena tak ada bekas permukiman Buddhis di sekitarnya, para arkeolog menduga arca itu tiba bersama pelayaran dari India. Ia bukti kontak paling awal, tetapi belum bukti adanya komunitas.

Temuan-temuan berikutnya berbicara lebih banyak. Arkeolog Ian Caldwell dan Muhammad Nur berpendapat bahwa arca-arca Selayar dan lonceng pendeta itu bukan barang impor, melainkan dicetak oleh pengrajin lokal. Menurut mereka, sekitar tahun 1000 M seseorang dari Sulawesi Selatan agaknya pernah berkunjung ke Jawa Timur, belajar teknik mencetak logam, lalu memenuhi permintaan lokal akan benda-benda ritual Buddhis.

Lonceng pendeta (ghaṇṭā) dengan wajra di pucuknya bukanlah barang dagangan biasa. Ia adalah perlengkapan ritual seorang rohaniwan, alat yang hingga kini masih dipakai para pedanda di Bali. Kehadirannya di makam-makam pesisir selatan Sulawesi menandakan bahwa praktik keagamaan bercorak Hindu-Buddha, beserta para pelakunya, pernah dikenal di wilayah ini.

Itulah konteks yang selama ini hilang dari hipotesis biksu. Pesisir selatan Sulawesi adalah persinggahan alami kapal-kapal yang berlayar ke Maluku. Di bandar-bandar seperti Bantaeng dan Selayar, rohaniwan Buddhis dan para pengikutnya, beserta istilah-istilah keagamaan mereka, dapat bertemu dengan masyarakat setempat.

Saudara di Pegunungan: To Burake

Ada satu petunjuk lain yang menarik, kali ini dari pedalaman. Orang Toraja mengenal pendeta yang disebut to burake. Menurut antropolog Hetty Nooy-Palm, mereka adalah pemimpin ritual untuk upacara-upacara "timur" yang bertalian dengan kehidupan dan kesuburan. Di Toraja utara mereka disebut to burake tattiku', di selatan to burake tambolang. Seperti bissu, banyak di antara mereka melintasi batas gender: laki-laki yang berbusana dan berlaku seperti perempuan.

Kemiripan ini membuka sebuah hipotesis yang lebih luas. Bugis dan Toraja berasal dari rumpun yang sama. Mungkinkah dahulu seluruh Sulawesi Selatan mengenal satu pranata pendeta gender-ketiga dengan nama serumpun burake? Ketika masyarakat pesisir bersentuhan intensif dengan para rohaniwan Buddhis yang juga hidup selibat dan melayani ritual, mereka mungkin meminjam sebutan baru, biksu, untuk pranata lama yang sudah mereka miliki. Lidah Bugis kemudian menjadikannya bissu. Sementara itu, di pegunungan yang terisolasi dari jalur laut, nama lama burake tetap bertahan.

Jika demikian, kata bissu tidak berarti pranatanya diimpor dari luar. Yang dipinjam adalah namanya. Pranatanya sendiri, pendeta yang menghimpun unsur laki-laki dan perempuan, mungkin jauh lebih tua dan sepenuhnya milik Sulawesi.

Pandangan ini sejalan dengan catatan antropolog Greg Acciaioli yang dikutip Davies. Menurutnya, perpaduan unsur laki-laki dan perempuan dalam peran bissu kemungkinan berakar pada tradisi Austronesia. Simbolisme serupa juga ditemukan di pedalaman Kalimantan dan Indonesia timur, yang nyaris tak tersentuh pengaruh Hindu-Buddha. Davies sendiri mengingatkan adanya kecenderungan melebih-lebihkan pengaruh Hindu-Buddha di Sulawesi. Peringatan ini penting: hipotesis biksu adalah hipotesis tentang asal-usul sebuah nama, bukan tentang asal-usul pranatanya.

Payung Kedaulatan

Jejak serupa mungkin juga tersimpan dalam bahasa politik. Dalam kosmologi kekuasaan Hindu-Buddha, payung kebesaran (chattra) adalah lambang kedaulatan tertinggi, salah satu dari delapan lambang suci dalam Buddhisme. Gelar penguasa Luwu, Pajung ri Luwu, "Payung di Luwu", menempatkan sang raja sebagai payung yang menaungi seluruh negerinya. Apakah ini warisan konsep chattra atau simbol Austronesia yang lebih tua, masih perlu kajian tersendiri. Tetapi ia menunjukkan bahwa jejak sejarah tidak selalu berupa batu. Ia juga bisa tersimpan dalam gelar dan kata-kata.

Yang Diingat oleh Bahasa

Mengapa sosok yang bukan laki-laki dan bukan perempuan dianggap paling layak menjadi perantara manusia dan dewata? Pertanyaan ini membawa kita melampaui Sulawesi.

Dalam kosmogoni Bugis kuno, sebagaimana dirangkum sejarawan Leonard Andaya, sang pencipta adalah dewa yang androgini. Dewi bulan, yang berkaitan erat dengan asal-usul bissu, juga digambarkan androgini. Andaya mencatat bahwa androgini adalah rumus purba yang tersebar di banyak kebudayaan dunia untuk melukiskan kepenuhan: bersatunya hal-hal yang berlawanan dalam satu wujud yang sempurna.

Rumus yang sama muncul di tempat-tempat yang berjauhan. Di India, Siwa digambarkan sebagai Ardhanarishvara, separuh tubuhnya laki-laki dan separuh lagi perempuan. Komunitas hijra di Asia Selatan mengaitkan diri dengan wujud ini. Dalam tafsir Yahudi kuno, Midrash Bereshit Rabbah, ada pendapat bahwa Adam pada mulanya diciptakan sebagai makhluk yang memuat unsur laki-laki dan perempuan sekaligus, sebelum keduanya dipisahkan. Di pegunungan Toraja ada to burake, dan di pesisir Bugis ada bissu.

Secara intuitif, penulis melihat benang merah di sini. Seakan-akan ada ingatan purba umat manusia tentang suatu keadaan sebelum segala sesuatu terbelah menjadi dua, dan mereka yang menghimpun kedua unsur itu dianggap lebih dekat dengan asal mula. Ini tentu tafsir, bukan bukti. Tetapi ia membantu kita memahami mengapa, ketika para biksu yang hidup selibat dan menanggalkan hasrat duniawi tiba di pesisir Sulawesi, masyarakat setempat mungkin melihat sesuatu yang akrab pada diri mereka. Cukup akrab untuk meminjam nama mereka.

Tentu, hipotesis ini masih harus diuji lebih jauh. Kita perlu menelusuri apakah kata bissu muncul dalam naskah-naskah lontara tertua dan dalam bentuk apa. Karya-karya yang dirujuk Davies, terutama kajian Sirk (1975) tentang bahasa Bugis Kuno dan basa bissu serta buku Gonda (1973), perlu dibaca langsung. Kita juga perlu memeriksa klaim Adriani bahwa kata ini dipakai di berbagai bahasa Nusantara lain: di bahasa mana saja, dengan makna apa, dan apakah sebarannya mengikuti jalur pengaruh Bugis. Pendapat para bissu sendiri juga layak didengar dengan hormat, sebab merekalah pewaris hidup tradisi ini.

Namun satu hal sudah cukup jelas. Selama dua dekade terakhir, tafsir mabessi diulang dari satu tulisan ke tulisan lain tanpa banyak dipertanyakan, sementara hipotesis biksu dibiarkan sebagai catatan kaki. Padahal hukum bunyi bahasa Bugis sendiri, yang mengubah saksi menjadi sassi dan paksa menjadi passa, menunjuk dengan tegas ke arah biksu. Bukti-bukti arkeologis tentang kehadiran Buddhisme di pesisir selatan Sulawesi pun memberi panggung bagi perjumpaan itu.

Sulawesi tidak meninggalkan candi. Tanahnya yang asam dan langkanya batu andesit tidak memungkinkan monumen besar bertahan. Tetapi sejarah tidak hanya ditulis di atas batu. Ia juga tersimpan dalam lidah, dalam cara sebuah bangsa mengucapkan kata-kata yang diwarisinya.

Dua puluh empat tahun setelah spanduk-spanduk La Galigo terbentang di jalan desa Pancana, barangkali sudah tiba waktunya kita mendengarkan lebih saksama apa yang selama ini diucapkan oleh lidah orang Bugis sendiri. Setiap kali mereka menyebut bissu, mungkin mereka sedang menyebut nama para biksu yang dahulu singgah di pesisir mereka, tanpa menyadarinya.

Sumber

• Sharyn Graham Davies, Gender Diversity in Indonesia: Sexuality, Islam and Queer Selves (Routledge, 2010), bab pendahuluan dan bab tentang bissu di masa lalu (merujuk naskah draf awal)

• Tropical Indigenous Queer as Guardians of Tradition: The Bissu of Bugis Society, Indonesia, Syamsurijal dkk., eTropic 23.2 (2024)

• Beyond Binary: Gender Fluidity in Bugis Traditional Pantheism, Asilatul Hanaa Abdullah, Jurnal Kinabalu 30 (2024)

• Tradisi Mandi Suku Bugis-Makassar Berdasarkan Epik La Galigo, Safrullah Sanre

• Daftar makalah Horst Liebner, termasuk Festival dan Seminar Internasional La Galigo, Barru, Maret 2002

• Arca Buddha Perunggu dari Sulawesi, Jessy Oey-Blom, Amerta 1 (1985)

• Arca Buddha Dipangkara, Artefak Istimewa yang Celaka di Paris, Tirto.id

• Avalokiteshvara (AK-MAK-1234), Rijksmuseum Amsterdam

• Tiga Benda Perunggu Buatan Sulawesi Selatan: Bukti Alih Budaya dari Jawa sekitar 1000 M?, I.A. Caldwell dan M. Nur

• Sa'dan Toraja: Kajian tentang Kehidupan Sosial dan Agama Mereka, Hetty Nooy-Palm (terjemahan LOBO, 2024)

• Peran Bissu di Tengah Modernitas, Hasanuddin Journal of Sociology

• Eksistensi Bissu dalam Kebudayaan Bugis, Palita (IAIN Palopo), merujuk Pelras, Manusia Bugis (2006), hlm. 97–98

• Entri wiku, berdasarkan Zoetmulder, Old Javanese-English Dictionary (1982)