Haji Sibenteng: Maestro yang Menyimpan Luwu dalam Lagu dan Tari

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Haji Sibenteng adalah maestro seni dan budayawan Tana Luwu yang dikenal melalui karya-karya lagu daerah serta kiprahnya dalam melestarikan seni tradisi Rongkong. Sejak aktif berkesenian pada dekade 1970-an, ia menjadikan lagu, bahasa lokal, dan tari sebagai ruang untuk menjaga ingatan, identitas, dan rasa kebudayaan Luwu agar tetap hidup lintas generasi.

Haji Sibenteng: Maestro yang Menyimpan Luwu dalam Lagu dan Tari

Ada tokoh yang dikenang karena jabatan. Ada pula yang dikenang karena karya. Haji Sibenteng termasuk dalam kelompok kedua: sosok yang menanamkan dirinya dalam ingatan Tana Luwu melalui lagu, tari, dan kesetiaan panjang terhadap kebudayaan lokal.

Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam buku-buku sejarah besar. Tetapi bagi banyak orang Luwu, terutama mereka yang tumbuh bersama lagu-lagu daerah, nama Haji Sibenteng memiliki tempat khusus. Ia bukan hanya pencipta lagu. Ia adalah penjaga bunyi. Ia menyimpan kerinduan, lanskap, bahasa, dan rasa kampung halaman ke dalam lirik dan melodi yang terus dinyanyikan.

Di tengah derasnya musik populer dan perubahan selera generasi, karya-karya Haji Sibenteng tetap menjadi penanda identitas. Lagu-lagunya hadir dalam acara budaya, pertemuan warga Luwu, ruang keluarga, panggung seni, bahkan dalam ingatan para perantau yang jauh dari tanah asalnya. Melalui karya-karya itulah Tana Luwu tidak hanya dikenang sebagai wilayah, tetapi sebagai rasa yang bisa dinyanyikan.

Pencipta Lagu Daerah Tana Luwu

Haji Sibenteng dikenal luas sebagai pencipta lagu daerah Tana Luwu. Perjalanan keseniannya berakar dari bakat yang tumbuh sejak masa kanak-kanak, lalu berkembang melalui pengalaman, tradisi lisan, dan pembelajaran yang ia bangun secara tekun.

Ia mulai aktif berkesenian pada awal 1970-an. Sejak masa itu, namanya perlahan menempati ruang penting dalam dunia seni daerah Luwu. Ia menciptakan lagu bukan sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai bentuk pencatatan budaya. Lirik-liriknya mengandung ingatan tentang tanah, kampung, bahasa, dan cara orang Luwu memandang kehidupannya.

Salah satu karya yang paling dikenal adalah “Dimenna Luwu”. Lagu ini menjadi semacam nyanyian tentang tanah asal: tentang Luwu sebagai tempat yang subur, dikenang, dirindukan, dan dipandang sebagai ruang hidup yang menyimpan harapan. Karya ini kemudian menginspirasi pertunjukan budaya dan terus muncul dalam berbagai ruang ekspresi masyarakat Luwu.

Selain “Dimenna Luwu”, nama Haji Sibenteng juga melekat pada lagu-lagu seperti “Lembata Tana Luwu” dan sejumlah lagu daerah lain yang hidup di tengah masyarakat. Bagi perantau asal Luwu, lagu-lagu ini sering menjadi jembatan emosional: ketika jarak membuat kampung terasa jauh, musik menghadirkan kembali halaman rumah, sungai, pegunungan, bahasa ibu, dan ingatan masa kecil.

Bahasa Ibu dalam Lirik

Salah satu kekuatan karya Haji Sibenteng terletak pada penggunaan bahasa lokal. Di dalam lirik-liriknya, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi. Bahasa menjadi rumah — tempat kembali.

Ketika sebuah lagu daerah dinyanyikan dalam bahasa ibu, ia membawa lebih dari arti kata. Ia membawa aksen, rasa, tata nilai, cara memanggil, cara merindu, dan cara mengenali dunia. Inilah yang membuat karya-karya Haji Sibenteng penting dalam konteks pelestarian budaya.

Di masa ketika bahasa ibu semakin terdesak oleh bahasa nasional, bahasa global, dan bahasa digital, lagu-lagu Haji Sibenteng menjadi arsip hidup. Ia membantu menjaga agar bahasa lokal tidak hanya tersisa dalam kamus atau catatan akademik, tetapi tetap bergetar di mulut orang-orang yang menyanyikannya.

Melalui lagu, bahasa menjadi mudah diwariskan. Anak-anak mungkin tidak selalu belajar bahasa daerah lewat kelas formal, tetapi mereka dapat mengenalnya lewat nyanyian. Di situlah karya Haji Sibenteng bekerja secara halus: ia tidak berkhotbah tentang pelestarian bahasa, tetapi membuat bahasa itu terus dipakai, terus dihafal, terus dicintai.

Rongkong, Tari, dan Ingatan Pegunungan

Haji Sibenteng juga dikenal sebagai pelestari tarian tradisional asal Rongkong. Rongkong bukan hanya nama wilayah. Ia adalah salah satu ruang budaya penting dalam lanskap Luwu, dengan kekayaan seni, musik, tari, ritual, dan tradisi lisan yang khas.

Dalam sejumlah catatan tentang kesenian Rongkong, Haji Sibenteng muncul sebagai narasumber dan pelaku penting. Ia memberi perhatian pada keberlangsungan seni tradisional seperti Suling Boloi’, Ma’ Balendo, tari Pa’jaga Lili’, Pa'jaga Kambori, Katendon-tendon, dan ragam ekspresi tradisi lain yang hidup dalam masyarakat Rongkong.

Kepeduliannya terhadap Suling Boloi’ memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: Haji Sibenteng tidak hanya mencipta dari panggung, tetapi juga membaca keadaan kebudayaan di lapangan. Ia menyadari bahwa banyak alat musik dan bentuk seni tradisi terancam berhenti karena tidak ada generasi pelanjut. Di hadapannya, seni bukan benda mati yang cukup dipajang; seni harus dimainkan, diajarkan, dan diwariskan.

Dalam pandangannya, kesenian Rongkong perlu diperhatikan dan diperkenalkan lebih luas. Pesan ini masih sangat relevan hari ini. Banyak seni lokal tidak punah karena tidak bernilai, tetapi karena tidak dicatat, tidak diajarkan, dan tidak diberi ruang untuk tumbuh.

Maestro yang Terlambat Diarsipkan

Pada 2024, kisah hidup dan karya Haji Sibenteng diangkat dalam film dokumenter “Haji Sibenteng: Hikayat Tari dan Lirik-Lirik untuk Penyintas Masa”. Penayangan film ini menjadi salah satu momen penting dalam upaya mengembalikan perhatian publik kepada sosoknya.

Film dokumenter tersebut bukan hanya penghormatan kepada seorang seniman. Ia juga menjadi pengingat bahwa banyak maestro lokal baru diperhatikan setelah mereka tiada. Setelah Haji Sibenteng wafat pada 2015, muncul kesadaran bahwa karya, pengetahuan, dan jejak kreatifnya belum cukup terdokumentasi, dikaji, dan diapresiasi secara layak.

Situasi ini bukan hanya terjadi pada Haji Sibenteng. Banyak seniman daerah mengalami nasib serupa: dikenal oleh masyarakatnya, tetapi kurang tercatat dalam arsip resmi; dicintai melalui karya, tetapi tidak cukup ditulis dalam biografi; hadir dalam panggung dan kaset, tetapi absen dari indeks pengetahuan digital.

Karena itu, pendokumentasian Haji Sibenteng menjadi penting. Ia membuka pintu bagi kerja yang lebih luas: mendata ulang pencipta lagu daerah, merekam kesaksian keluarga dan murid, mengarsipkan rekaman lama, menuliskan lirik dan terjemahan, mencatat konteks penciptaan, serta menjadikan karya-karya maestro lokal sebagai bahan belajar generasi baru.

Lagu sebagai Arsip Perasaan

Arsip tidak selalu berupa dokumen tua, surat kerajaan, naskah lontara, atau foto hitam putih. Lagu juga arsip. Di dalam lagu tersimpan cara suatu masyarakat mengenang dirinya.

Karya Haji Sibenteng menyimpan Luwu sebagai lanskap batin. Ia mencatat tanah, kampung, keindahan alam, kerinduan perantau, kebanggaan daerah, dan relasi manusia dengan tempat asalnya. Dengan cara itu, lagu-lagunya menjadi semacam peta emosional Tana Luwu.

Jika peta geografis menunjukkan sungai, gunung, jalan, dan batas wilayah, maka lagu-lagu Haji Sibenteng menunjukkan rasa. Ia memperlihatkan bagaimana orang Luwu memandang tanahnya, bagaimana mereka merindukannya, dan bagaimana mereka membawa Luwu ketika hidup jauh dari kampung halaman.

Inilah sebabnya lagu daerah tidak boleh diperlakukan sebagai hiburan pinggiran. Di dalamnya ada sejarah rasa. Ada bahasa yang sedang bertahan. Ada identitas yang sedang menjaga dirinya agar tidak larut dalam arus besar budaya populer.

Haji Sibenteng dalam Banua Sappa’ Digital

Dalam ekosistem Banua Sappa’ Digital, Haji Sibenteng layak ditempatkan sebagai salah satu tokoh penting dalam kategori Pelaku Budaya Luwu Raya. Ia dapat dimasukkan dalam subkategori Maestro Musik Daerah, Pencipta Lagu Daerah, Pelestari Seni Rongkong, dan Budayawan Luwu.

Halaman profil Haji Sibenteng sebaiknya tidak hanya memuat biodata singkat, tetapi juga menjadi ruang arsip yang terus berkembang. Di dalamnya dapat dihimpun daftar lagu, rekaman audio, dokumentasi pertunjukan, potongan wawancara, catatan keluarga, tulisan akademik, dokumenter, serta kesaksian seniman yang pernah belajar atau terinspirasi darinya.

Rubrik Rekam Jejak pada profilnya dapat mencatat perjalanan berkarya sejak tahun 1970-an, keterlibatannya dalam pengembangan lagu daerah Luwu, perhatian terhadap seni tradisi Rongkong, peran dalam memperkenalkan Suling Boloi’ dan kesenian Rongkong, hingga pemutaran film dokumenter tentang dirinya pada 2024.

Dengan cara ini, Banua Sappa’ tidak hanya mengenang Haji Sibenteng sebagai nama, tetapi menghidupkannya sebagai simpul pengetahuan. Setiap lagu, setiap catatan, setiap foto, dan setiap kesaksian dapat menjadi pintu bagi generasi muda untuk mengenal kembali Tana Luwu melalui suara.

Penutup

Haji Sibenteng telah wafat, tetapi karyanya belum selesai berbicara. Ia masih hidup dalam lagu yang dinyanyikan, dalam tari yang ditampilkan, dalam bahasa yang dilafalkan, dan dalam kerinduan orang-orang Luwu kepada tanah asalnya.

Ia adalah contoh seniman yang bekerja dari akar. Tidak mengejar panggung besar, tetapi membesarkan panggung tempat masyarakatnya mengenali diri. Tidak sekadar mencipta nada, tetapi menjaga agar Luwu tetap memiliki suara.

Dalam dirinya, kita melihat bahwa kebudayaan tidak selalu dijaga oleh lembaga besar. Kadang ia dijaga oleh seorang maestro yang duduk bersama ingatan kampungnya, mendengar bahasa ibunya, lalu mengubahnya menjadi lagu.

Dan selama lagu-lagu itu masih dinyanyikan, Haji Sibenteng tidak sepenuhnya pergi. Ia tetap berada di antara lirik, nada, dan napas panjang Tana Luwu.