Mattulada: Penyambung Adat yang Menjadikan Warisan sebagai Ilmu
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Prof. Dr. H. Mattulada (Bulukumba, 1928 – Makassar, 2000) adalah antropolog dan budayawan yang menjadikan warisan adat Bugis sebagai ilmu pengetahuan yang bermartabat. Lewat magnum opus-nya, Latoa: Antropologi Politik Orang Bugis, ia meletakkan dasar untuk memahami pangngaderreng, siri', dan kosmologi La Galigo yang menjadi akar peradaban Luwu.

Sebuah editorial mengenang Prof. Dr. H. Mattulada (1928–2000), antropolog yang membaca jiwa orang Bugis dari dalam — dan mewariskan cara memahami dunia La Galigo secara ilmiah.
Ada nama yang sejak lahir sudah menjadi ramalan tentang jalan hidup. Mattola Adeq — begitu ia dipanggil semasa kecil — secara harfiah berarti "penyambung adat". Dan seolah menuruti makna namanya, sepanjang tujuh dekade hidupnya, Prof. Dr. H. Mattulada menyambungkan dua dunia yang jarang bertemu: dunia pangngaderreng — tatanan adat Bugis yang diwariskan turun-temurun — dan dunia ilmu pengetahuan modern yang menuntut jarak, metode, dan bukti.
Lahir di Bulukumba pada 15 November 1928 dan wafat di Makassar, 12 Oktober 2000, Mattulada bukan lahir sebagai ilmuwan. Ia lahir sebagai anak zaman perang. Pada usia belasan, ia telah memanggul senjata sebagai anggota Tentara Pelajar (1945–1950) dan menyandang pangkat letnan di masa Revolusi. Sesudahnya, sempat pula ia berada di lingkungan kepolisian dan satuan penyelidik di Makassar. Namun sejarah mencatatnya bukan karena seragam, melainkan karena keputusannya yang tidak biasa: ia meninggalkan dunia yang menjanjikan kekuasaan untuk memilih dunia yang menuntut kesabaran — ilmu pengetahuan.
Dari ruang kelas ke ruang riset
Perjalanan intelektual Mattulada bergerak menanjak dengan tekun. Ia menuntaskan pendidikan keguruan dan hukum di Makassar, lalu meraih gelar sarjana di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (1964). Kehausannya pada teori membawanya menyeberang benua: ia memperdalam kajian di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda (1970–1972) — pusat tradisi studi Nusantara yang menyimpan sebagian besar naskah dan catatan kolonial tentang Sulawesi.
Puncaknya tiba pada 1 Maret 1975, ketika Mattulada mempertahankan disertasi doktoralnya di Universitas Indonesia, di bawah bimbingan bapak antropologi Indonesia, Prof. Koentjaraningrat. Judulnya kelak menjadi legenda dalam ilmu-ilmu sosial di tanah air:
"Latoa: Suatu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis."
Latoa — membaca cermin para raja
Latoa bukan sekadar disertasi; ia adalah pintu masuk untuk memahami bagaimana orang Bugis membayangkan kekuasaan, keadilan, dan tatanan sosial. Dari lembar-lembar lontara yang selama ini dibaca sebagai wejangan raja-raja, Mattulada menariknya ke meja analisis: ia menunjukkan bahwa di balik nasihat-nasihat kuno itu tersimpan sebuah sistem politik yang utuh dan koheren.
Melalui karyanya, konsep pangngaderreng — dengan lima pilarnya: adé', bicara, rapang, wari', dan sara' — menjadi kosakata ilmiah yang dipakai para peneliti hingga hari ini. Begitu pula siri', harga diri yang menjadi denyut kebudayaan Bugis-Makassar, ia letakkan dalam kerangka yang bisa dipahami akademi tanpa kehilangan kedalaman rohaninya. Mattulada mengajarkan hal yang mendasar: adat bukan benda mati untuk dikenang, melainkan teks hidup yang bisa dibaca, ditafsir, dan diuji.
Pendiri, pemimpin, dan guru
Kepakaran Mattulada berpadu dengan tanggung jawab kelembagaan. Ia menjadi Dekan Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, lalu dipercaya sebagai Rektor pertama Universitas Tadulako di Palu (1981–1990) — meletakkan fondasi bagi sebuah universitas yang kini menjadi tumpuan pendidikan tinggi di Sulawesi Tengah. Sekembalinya ke Makassar, ia mengabdi sebagai Ketua Senat Guru Besar Unhas dan terus mengajar di program pascasarjana hingga akhir hayat. Atas jasanya bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, negara menganugerahinya Bintang Budaya Parama Dharma (2000).
Namun barangkali warisan terbesarnya bukan pada jabatan, melainkan pada cara memandang. Karya-karyanya — antara lain Kebudayaan Bugis-Makassar; Islam di Sulawesi Selatan; dan Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan — menjadi rujukan wajib bagi siapa pun yang hendak memahami Sulawesi Selatan dari dalam, bukan dari luar.
Mengapa Mattulada penting bagi Luwu
Bagi Banua Sappa' dan siapa pun yang menekuni warisan Kedatuan Luwu, Mattulada bukan tokoh yang jauh. Dunia yang ia bedah — pangngaderreng, siri', kosmologi La Galigo, dan figur Sawerigading, sang putra Luwu yang menjadi poros epos terbesar Nusantara — adalah dunia yang sama yang menjadi akar peradaban Luwu. Ketika kita hari ini membaca lontara, menandai jejak Sawerigading, atau menafsir tatanan adat ade', kita berjalan di atas jalan yang telah dirintis Mattulada: jalan yang menjadikan warisan leluhur sebagai ilmu yang bermartabat, bukan sekadar kenangan yang usang.
Ia telah menyambung adat kepada zaman — persis seperti makna namanya. Kini giliran kita menyambungnya lebih jauh.