Pajaga Bone Balla: Tarian Istana Luwu yang Lahir dari Gejolak Hati We Tenriabeng

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Di balik kelembutan gerak yang nyaris tak terlihat bergoyang, Tari Pajaga Bone Balla menyimpan kisah cinta terlarang dalam mitos La Galigo sekaligus menjadi alat sah bagi Kedatuan Luwu untuk menegakkan wibawa seorang Datu.

Pajaga Bone Balla: Tarian Istana Luwu yang Lahir dari Gejolak Hati We Tenriabeng

Di lingkungan istana Kedatuan Luwu, ada satu bentuk kesenian yang dahulu hanya boleh disaksikan oleh kalangan bangsawan: Tari Pajaga Bone Balla. Tarian klasik ini bukan sekadar hiburan istana. Ia adalah teks simbolik yang, menurut penelitian etnokoreologi Nurwahidah dan Andi Taslim Saputra yang dimuat jurnal Panggung (Institut Seni Budaya Indonesia), berfungsi sebagai instrumen legitimasi kekuasaan seorang Datu di mata masyarakat Luwu. Gerak yang tampak sederhana itu ternyata membawa muatan sejarah, struktur sosial, dan ajaran kepemimpinan sekaligus.

Lahir dari Gejolak Hati We Tenriabeng

Riwayat lisan yang berkembang di kalangan sanggar dan masyarakat Luwu menautkan asal-usul tarian ini dengan tokoh We Tenriabeng, saudara kembar Sawerigading dalam epos Sureq Galigo. Dikisahkan, ketika menjabat sebagai Datu Bissu, We Tenriabeng menciptakan gerak-gerak Pajaga sebagai ekspresi meditatif untuk menolak dan menenangkan gejolak perasaan kakaknya sendiri, Sawerigading, yang menaruh cinta terlarang kepada saudara kembarnya itu—kisah yang menjadi salah satu simpul paling terkenal dalam mitologi La Galigo. Dari olah rasa itulah lahir gerak-gerak halus yang kelak dibakukan menjadi tarian istana.

Karena akarnya menautkan diri pada masa sebelum Islam masuk ke Luwu pada awal abad ke-17, para peneliti menempatkan Pajaga Bone Balla sebagai salah satu warisan tari tertua di kawasan ini. Tidak ada satu nama pencipta tunggal yang bisa dipastikan; tarian ini diwariskan turun-temurun lewat ingatan kolektif dan praktik istana, bukan lewat catatan tertulis.

Tari yang Mengukuhkan Wibawa Datu

Nama tarian ini sarat makna. "Pajaga" berarti siaga atau kesiapsiagaan diri dalam mengemban tugas sesuai kedudukan seseorang di masyarakat. "Bone Balla" merujuk pada isi rumah tangga Raja atau Datu—rumah tangga kerajaan itu sendiri. Sementara varian yang dianggap paling sakral, Sulessana, berarti "yang ahli" atau bijaksana, sejalan dengan syair pengiringnya yang menggambarkan betapa orang paling cerdik pun akan merasa kerdil di hadapan kebesaran Sang Pencipta.

Pada masa lampau, tarian ini hanya dipentaskan di lingkungan istana: dalam jamuan kerajaan untuk menghibur tamu dari kerajaan-kerajaan lain, serta dalam rangkaian prosesi adat seperti Mappalesso Sompa (pelepasan nazar) yang disertai jamuan bersama Manre Saperra. Penontonnya pun terbatas pada Datu dan kalangan istana. Para penarinya adalah remaja putri yang secara historis berasal dari garis bangsawan (matasa'); sebelum diizinkan membawakan Sulessana yang sakral, mereka wajib menuntaskan ragam yang lebih sederhana lebih dulu, seperti Pawinru. Posisi berdiri dalam barisan penari pun tidak sembarangan—posisi terdepan disediakan bagi mereka yang berdarah bangsawan, sebuah cerminan langsung dari hierarki sosial Luwu di atas panggung. Kini, seiring waktu, sejumlah sanggar juga membuka pintu bagi penari dari kalangan umum, meski nilai-nilai lama tetap dijaga dalam pengajarannya.

Dua Belas Ragam Gerak yang Berbisik

Secara koreografis, Pajaga Bone Balla tersusun dari dua belas ragam gerak—di antaranya disebut Ma'Palappa, Ma'Camming, dan Ma'Riwa—yang diiringi dua pola tabuhan gendang berbeda, Surru Dayya dan Cakku Ridi, berpadu dengan nyanyian vokal. Ciri utamanya adalah kehalusan yang ekstrem: gerak kaki tidak boleh tampak terangkat, ayunan tangan dan pinggul mengalir lembut, dan seluruh tubuh penari harus tampak nyaris diam meski sebenarnya bergerak dalam kendali penuh.

Filosofi ini diringkas dalam ungkapan lokal "ma'cemme gasing"—seperti gasing yang berputar sangat cepat namun tampak diam di tempatnya. Perumpamaan itu menjadi ajaran kepemimpinan: seorang pemimpin, seperti Datu, harus tampak tenang dan berwibawa meski di baliknya ia bekerja keras dan penuh kewaspadaan. Nilai ini disebut assulessanangeng—kebajikan dan kearifan seorang Datu dalam memayungi serta menyejahterakan rakyatnya.

Kostum yang dikenakan penari juga sarat simbol: pokko', blus pendek dari kain sutra tipis, dipadu sarung berwarna keemasan, perhiasan emas dari kepala hingga ujung jari—terutama subang atau anting tradisional—hiasan bunga simpolong di sanggul, serta kipas sebagai properti tari. Kemewahan busana ini menegaskan kedekatan tarian dengan dunia bangsawan yang menaunginya.

Bertahan di Tengah Zaman yang Berubah

Sepeninggal masa kejayaan Kedatuan Luwu sebagai kekuatan politik, Pajaga Bone Balla tidak sepenuhnya hilang. Di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sanggar Seni Maddika Bua—yang menurut catatan penelitian lokal telah berdiri sejak akhir 1980-an—menjadi salah satu penjaga utama kelangsungan tarian ini, dengan latihan terjadwal dan materi ajar yang disusun sistematis bagi penari baru. Dukungan juga datang dari kelurahan, sekolah, dan pemerintah kabupaten, sementara pihak kedatuan tetap dilibatkan untuk menjaga keaslian bentuk dan makna tarian.

Meski begitu, tantangan pelestarian tetap nyata. Penelitian yang dilakukan di kalangan penari dan masyarakat Luwu mencatat bahwa banyak warga, terutama generasi muda, belum mengenal tarian ini, sementara minat terhadap kesenian tradisional cenderung menurun dan dukungan pendanaan daerah masih terbatas. Di sinilah letak paradoks Pajaga Bone Balla hari ini: sebuah tarian yang pernah menjadi bahasa resmi kekuasaan Kedatuan Luwu, kini bergantung pada ketekunan segelintir sanggar dan keluarga budaya agar gerak-gerak halus warisan We Tenriabeng itu tidak berhenti diwariskan.

Sumber