Rhoda Grauer: Perempuan yang Membawa I La Galigo ke Panggung Dunia

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Rhoda Grauer adalah antropolog, pembuat film dokumenter, dan produser asal Amerika Serikat yang memainkan peran sentral dalam lahirnya pementasan teater I La Galigo di panggung internasional. Berawal dari penelitiannya mengenai komunitas Bissu di Sulawesi Selatan, ia menemukan kekayaan Sureq I La Galigo dan menggagas transformasinya menjadi sebuah karya teater berskala dunia. Melalui kolaborasi dengan Robert Wilson, Anthon Andi Pangerang, Christian Pelras, Muhammad Salim, Fachruddin Ambo Enre, Rahayu Supanggah, Restu Kusumaningrum, serta para budayawan dan seniman Indonesia lainnya, Rhoda membangun jembatan antara penelitian akademik, tradisi Bugis, dan seni pertunjukan kontemporer. Yang membedakan kiprahnya adalah komitmennya untuk menghormati masyarakat pemilik tradisi, termasuk meminta restu kepada tokoh adat di Luwu sebelum I La Galigo dipentaskan. Kontribusinya menjadikan Sureq I La Galigo tidak hanya dikenal sebagai mahakarya sastra Bugis, tetapi juga sebagai bagian dari percakapan budaya dunia.

Rhoda Grauer: Perempuan yang Membawa I La Galigo ke Panggung Dunia

"Setiap pertunjukan memiliki malam pembukaan. Namun, tidak semua orang mengetahui perjalanan panjang sebelum tirai pertama dibuka."

Ketika I La Galigo dipentaskan di Amsterdam pada tahun 2004, publik internasional menyaksikan sebuah mahakarya teater yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Panggung dipenuhi gerak tari, musik, cahaya, dan fragmen-fragmen kisah yang berasal dari salah satu epos terpanjang di dunia.

Namun jauh sebelum tepuk tangan pertama bergema di gedung pertunjukan, kisah itu telah menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang. Perjalanan tersebut tidak dimulai di ruang latihan teater atau studio seni, melainkan di Sulawesi Selatan, melalui penelitian antropologi, perjumpaan dengan para penjaga tradisi, dan dialog yang dibangun atas rasa hormat terhadap warisan budaya Bugis.

Salah satu saksi utama dari perjalanan itu adalah Rhoda Grauer.

Sebagai antropolog, pembuat film dokumenter, dan produser, Rhoda bukan hanya menyaksikan lahirnya pertunjukan I La Galigo. Ia adalah salah satu penggagas yang meletakkan fondasi intelektual, budaya, dan organisasi yang memungkinkan epos tersebut hadir di panggung dunia.

Dari Antropologi Menuju Sebuah Penemuan

Rhoda Grauer telah lama menaruh perhatian pada masyarakat tradisional dan warisan budaya.

Ketertarikannya membawanya ke Sulawesi Selatan untuk membuat film dokumenter mengenai komunitas Bissu, kelompok pendeta adat Bugis yang selama berabad-abad memegang peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat.

Dalam proses penelitian itulah ia mendapat sebuah nasihat sederhana.

Jika ingin memahami para Bissu, katanya, ia harus memahami Sureq I La Galigo.

Nasihat tersebut menjadi titik awal perjalanan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ketika mulai mempelajari naskah tersebut, Rhoda menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut. Ia berhadapan dengan sebuah karya sastra yang panjangnya mencapai ribuan halaman, ditulis dalam bahasa Bugis kuno, dan memuat kosmologi, silsilah, etika, serta pandangan hidup masyarakat Bugis yang berkembang selama berabad-abad.

Yang lebih mengejutkan lagi, mahakarya sebesar itu hampir tidak dikenal oleh masyarakat internasional.

Dalam wawancaranya mengenai proses penciptaan I La Galigo, Rhoda mengingat bagaimana pertanyaan itu terus mengusiknya:

“Saya berpikir: mungkinkah pada tahun 2000 masih ada sebuah epos besar yang belum diterjemahkan, dianalisis, dipentaskan, difilmkan, dan diolah dunia?”

Pertanyaan itulah yang kemudian berkembang menjadi sebuah gagasan besar.

Sebuah Gagasan yang Muncul di Pagi Hari

Tidak ada rapat besar yang melahirkan proyek I La Galigo.

Tidak ada pula lembaga internasional yang lebih dahulu mengusulkannya.

Rhoda Grauer menceritakan bahwa suatu pagi ia terbangun dengan sebuah keyakinan yang terasa begitu jelas.

La Galigo harus dipentaskan sebagai teater.

Dan nama pertama yang muncul di benaknya adalah Robert Wilson, sutradara teater Amerika Serikat yang dikenal melalui pendekatan visualnya yang puitis dan eksperimental.

Gagasan itu terdengar hampir mustahil.

Bagaimana mungkin sebuah manuskrip Bugis yang sangat panjang dapat diterjemahkan menjadi pertunjukan teater? Bagaimana seorang sutradara Barat dapat memahami kisah yang berasal dari tradisi lisan Nusantara? Dan bagaimana menjaga agar proses artistik tersebut tetap menghormati masyarakat yang telah mewariskan cerita itu selama berabad-abad?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membentuk seluruh proses pra-produksi I La Galigo.

Membangun Jembatan Antara Dunia Seni dan Dunia Adat

Dalam kesaksiannya, Rhoda menjelaskan bahwa pekerjaan terbesarnya bukan sekadar mencari pendanaan atau mengatur produksi.

Tugas yang jauh lebih rumit adalah membangun jembatan antara berbagai dunia yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Ia mempertemukan Robert Wilson dengan para budayawan Indonesia.

Ia menghubungkan proses kreatif dengan penelitian akademik.

Ia mengajak ahli bahasa Bugis, filolog, antropolog, dan peneliti untuk ikut menyusun kerangka cerita yang akan dipentaskan.

Nama-nama seperti Muhammad Salim, Christian Pelras, dan Prof. Fachruddin Ambo Enre menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mereka membantu memastikan bahwa adaptasi artistik tetap berpijak pada pemahaman yang benar terhadap isi Sureq I La Galigo.

Di saat yang sama, Rhoda juga bekerja bersama seniman Indonesia, termasuk koreografer Restu Kusumaningrum dan komposer Rahayu Supanggah, agar pertunjukan tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tetap berakar pada kekayaan budaya Nusantara.

Produksi I La Galigo akhirnya berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan antropologi, filologi, musik, tari, teater, dan tradisi lisan dalam satu panggung yang sama.

Meminta Izin kepada Tanah yang Melahirkan Kisah

Salah satu bagian paling menyentuh dalam penuturan Rhoda Grauer bukanlah ketika ia berbicara tentang Robert Wilson ataupun proses latihan para aktor.

Yang paling berkesan justru ketika ia menceritakan keputusan tim produksi untuk datang ke Luwu.

Bagi Rhoda, persetujuan para akademisi belum cukup.

Sureq I La Galigo bukan sekadar manuskrip yang tersimpan di perpustakaan. Ia adalah bagian dari ingatan hidup masyarakat Bugis.

Karena itu, sebelum pertunjukan dipersiapkan lebih jauh, tim produksi merasa perlu meminta restu kepada komunitas yang selama berabad-abad menjaga warisan tersebut.

Melalui budayawan Luwu Anthon Andi Pangerang, mereka bertemu dengan tokoh adat untuk menyampaikan maksud membawa I La Galigo ke panggung internasional.

Bagi sebagian orang, langkah ini mungkin hanya bersifat simbolis.

Namun bagi Rhoda, penghormatan kepada masyarakat pemilik tradisi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proyek.

Momen itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya persoalan hak cipta atau penelitian ilmiah, melainkan juga hubungan etis antara sebuah karya dengan masyarakat yang melahirkannya.

Ketika Tirai Akhirnya Terbuka

Setelah bertahun-tahun menjalani penelitian, penyusunan naskah, konsultasi budaya, latihan artistik, dan kerja kolaboratif lintas negara, I La Galigo akhirnya dipentaskan untuk pertama kalinya pada tahun 2004.

Pertunjukan tersebut kemudian berkeliling ke berbagai kota di dunia dan memperkenalkan nama La Galigo kepada khalayak internasional.

Bagi banyak penonton, pertunjukan itu merupakan pengalaman artistik.

Namun bagi Rhoda Grauer, sebagaimana tergambar dalam penuturannya, pementasan tersebut adalah hasil dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum lampu panggung dinyalakan.

Perjalanan itu dimulai dari rasa ingin tahu seorang antropolog terhadap Bissu, berkembang menjadi kekaguman terhadap Sureq I La Galigo, lalu berubah menjadi tekad untuk memperkenalkan warisan budaya Bugis kepada dunia tanpa melepaskannya dari akar tempat ia berasal.

Warisan yang Lebih Besar dari Sebuah Pertunjukan

Dua dekade setelah pementasan perdananya, I La Galigo masih dikenang sebagai salah satu proyek teater lintas budaya paling penting yang pernah lahir dari Indonesia.

Warisan itu tidak hanya berupa dokumentasi pertunjukan atau pujian kritikus seni.

Yang lebih penting adalah terbukanya ruang percakapan baru mengenai sejarah, sastra, dan kebudayaan Luwu di tingkat internasional.

Dalam sejarah tersebut, nama Rhoda Grauer menempati posisi yang unik.

Ia bukan penulis Sureq I La Galigo.

Ia bukan pewaris tradisi Bugis.

Namun melalui rasa ingin tahu, ketekunan penelitian, dan kemampuannya membangun kolaborasi lintas disiplin, ia menjadi salah satu sosok yang membuka jalan agar kisah yang lahir di tanah Luwu berabad-abad lalu dapat berbicara kepada dunia.