Dari Panggung ke Pewarisan: Surya Dewi Bungawara dan Regenerasi Seni Tradisi Luwu

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Surya Dewi Bungawara merupakan pelaku budaya Luwu yang aktif melestarikan seni tari tradisional melalui Sanggar Cenning Ati. Sebagai generasi penerus maestro Haji Sibenteng, ia memadukan pendidikan, pembinaan seni, dan dokumentasi budaya untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya Luwu di tengah perubahan zaman.

Dari Panggung ke Pewarisan: Surya Dewi Bungawara dan Regenerasi Seni Tradisi Luwu

"Setiap kebudayaan bertahan bukan hanya karena memiliki masa lalu, tetapi karena selalu menemukan generasi yang bersedia melanjutkannya."

Dalam perjalanan kebudayaan Luwu, pewarisan tidak hanya berlangsung melalui manuskrip, lembaga adat, atau upacara tradisi. Ia juga hidup melalui keluarga-keluarga seniman yang menjaga pengetahuan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu sosok yang memperlihatkan kesinambungan tersebut adalah Surya Dewi Bungawara, S.ST.Par., pelaku budaya yang dikenal sebagai putri maestro seni tradisi Haji Sibenteng.

Meski tumbuh di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya, Surya Dewi membangun jejaknya sendiri melalui pendidikan, pembinaan seni, dan keterlibatan aktif dalam pelestarian tari tradisional Luwu.

Tumbuh dalam Lingkungan Seni Tradisi

Surya Dewi Bungawara lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang akrab dengan kesenian tradisional Luwu. Kehidupan sehari-harinya dipenuhi oleh latihan tari, lagu daerah, dan berbagai aktivitas kebudayaan yang dijalani Haji Sibenteng selama puluhan tahun sebagai maestro seni tradisional.

Lingkungan tersebut menjadi ruang belajar pertamanya. Ia tidak hanya mengenal bentuk-bentuk pertunjukan, tetapi juga memahami nilai, etika, dan filosofi yang menyertai setiap karya seni tradisi.

Menapaki Jalan Pelestarian Budaya

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengandalkan pewarisan secara lisan, Surya Dewi tumbuh pada masa ketika pelestarian budaya membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis.

Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Terapan Pariwisata (S.ST.Par.), ia memadukan pemahaman akademik dengan pengalaman praktik di lapangan. Perpaduan tersebut memberinya perspektif bahwa kebudayaan tidak hanya harus dipentaskan, tetapi juga dikelola, didokumentasikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Peran dalam Sanggar Cenning Ati

Salah satu kontribusi penting Surya Dewi adalah keterlibatannya sebagai penanggung jawab bidang tari Sanggar Cenning Ati.

Melalui sanggar ini, ia terlibat dalam pembinaan generasi muda, penyelenggaraan latihan tari, serta berbagai kegiatan pelestarian seni tradisional Luwu. Peran tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya berlangsung melalui proses pendidikan yang berkesinambungan, bukan hanya melalui pertunjukan di atas panggung.

Bagi Banua Sappa', kerja-kerja seperti ini merupakan fondasi penting keberlanjutan warisan budaya takbenda.

Menjadi Rujukan dalam Kajian Akademik

Peran Surya Dewi juga tercatat dalam dunia akademik.

Dalam penelitian Universitas Negeri Makassar mengenai Tari Katendon-tendon Masirenda-renda masyarakat Rongkong, ia menjadi salah satu narasumber utama bersama tokoh adat dan pelaku seni lainnya.

Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuannya mengenai seni tradisi telah menjadi bagian dari sumber pengetahuan yang digunakan dalam penelitian ilmiah. Posisi ini penting karena mempertemukan pengetahuan tradisional dengan dunia akademik melalui proses dokumentasi yang lebih sistematis.

Regenerasi Warisan Haji Sibenteng

Salah satu hal yang menarik dari perjalanan Surya Dewi Bungawara adalah keberhasilannya melanjutkan warisan budaya tanpa sekadar menjadi bayang-bayang generasi sebelumnya.

Jika Haji Sibenteng dikenal sebagai maestro yang menghidupkan lagu dan tari tradisional melalui panggung-panggung pertunjukan, Surya Dewi memperluas ruang pengabdian tersebut melalui pembinaan, organisasi sanggar, serta keterlibatan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian budaya.

Perjalanan keduanya memperlihatkan bahwa pewarisan budaya tidak selalu berlangsung dalam bentuk yang sama. Nilai-nilai tradisi dapat terus hidup melalui cara-cara baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Makna bagi Kebudayaan Luwu

Dalam ekosistem Banua Sappa', Surya Dewi Bungawara mewakili generasi pelestari budaya yang menjembatani tradisi dengan masa depan.

Ia menunjukkan bahwa keberlangsungan kebudayaan bergantung pada hadirnya generasi yang tidak hanya mampu menguasai teknik kesenian, tetapi juga memahami pentingnya dokumentasi, pendidikan, dan regenerasi.

Melalui kiprahnya, Surya Dewi menjadi bagian dari mata rantai panjang yang menjaga agar seni tradisional Luwu tetap hidup sebagai praktik budaya, bukan sekadar kenangan sejarah.