Holing di Sulawesi

Penulis: Fadly Bahari

Diterbitkan:

Artikel ini menguji ulang lokasi Holing melalui pembacaan kronik Tiongkok, arah geografis, toponim, serta koridor Luwu–Mori. Dengan membandingkan Holing – Walaing, Po-li – Mori, To-po-teng – Tabating, Chen-la – Cendana, dan sejumlah nama lokal Sulawesi, artikel ini mengajukan hipotesis bahwa Holing mungkin berkaitan dengan jaringan kekuasaan kuno di Sulawesi, sekaligus membuka arah penelitian filologi, arkeologi, pemetaan, genetika, dan sumber lokal.

Holing di Sulawesi

Sebuah peta lama yang belum selesai dibaca

Di manakah letak negeri Holing yang disebut dalam kronik Tiongkok?

Pertanyaan ini telah dibicarakan selama puluhan tahun. Dalam historiografi Indonesia, Holing umumnya dihubungkan dengan Kalingga di Jawa. Po-li yang berada di sebelah timurnya diidentifikasi sebagai Bali. To-po-teng yang berada di sebelah baratnya dicari di Jawa Barat, Sumatra, atau Semenanjung Melayu. Sementara itu, Chen-la yang berada di sebelah utaranya dianggap merujuk pada kerajaan kuno di wilayah Kamboja.

Karena identifikasi tersebut telah lama muncul dalam buku sejarah, tulisan akademik, dan bahan pendidikan, susunannya perlahan tampak seperti kepastian. Padahal, umur suatu hipotesis tidak menentukan ketepatannya. Sebuah hipotesis yang telah bertahan puluhan tahun tetap perlu menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah semua unsur di dalamnya membentuk peta yang konsisten?

Kronik Dinasti Tang menggambarkan Holing sebagai negeri di kawasan laut selatan. Di sebelah timurnya terdapat Po-li, di sebelah baratnya To-po-teng, di sebelah utaranya Chen-la, dan di sebelah selatannya terbentang laut. Susunan arah tersebut merupakan salah satu kunci terpenting untuk membaca Holing. Namun justru pada bagian inilah identifikasi lama menghadapi persoalan geografis.

Jika Holing ditempatkan di Jawa Tengah, Po-li di Bali, dan Chen-la di Kamboja, hubungan utara-selatan yang digambarkan kronik menjadi sangat panjang dan terputus. Di antara pulau Jawa dan Kamboja terdapat Laut Jawa, Pulau Kalimantan, sebagian Laut Cina Selatan, serta sejumlah kawasan maritim dan daratan lain. Kalimantan bukan pulau kecil yang dapat diabaikan dalam deskripsi geografis. Ia merupakan daratan besar yang menempati ruang utama di antara Jawa dan daratan Asia Tenggara, dan tentu saja di sana ada suku / kerajaan yang berkuasa di wilayah tersebut.

Apakah kata "di utara" dalam kronik hanya menunjukkan arah yang sangat umum? Apakah ia menggambarkan jalur pelayaran dan bukan kedekatan wilayah? Ataukah beberapa identifikasi modern terhadap nama-nama tersebut perlu diperiksa kembali? karena jika "sebelah utara" yang dimaksud dalam kronik merujuk pada sempadan atau batas wilayah sebelah utara Holing, maka jelas, hipotesis yang selama ini bertahan selama puluhan tahun itu sangat bermasalah dalam persoalan geografis, karena dengan sendirinya hipotesis itu mengatakan bahwa seluruh wilayah kalimantan dan sebagian laut cina selatan adalah termasuk dalam wilayah holing.

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat tulisan ini. Tulisan ini tidak disusun sebagai polemik Sulawesi melawan Jawa. Tujuannya adalah menguji konsistensi peta sejarah. Jika Holing, Po-li, To-po-teng, dan Chen-la disebut dalam satu rangkaian arah, semua nama itu patut diperiksa sebagai satu sistem geografis.

Apa yang sebenarnya dikatakan sumber Tiongkok

Langkah pertama adalah memisahkan isi kronik dari identifikasi yang muncul kemudian. Sumber Tiongkok tidak mengatakan bahwa Holing terletak di Jawa. Ia juga tidak mengatakan bahwa Po-li adalah Bali, To-po-teng adalah suatu kerajaan di Jawa Barat, atau Chen-la adalah Kamboja modern. Nama-nama geografis modern tersebut merupakan hasil penafsiran para peneliti.

Yang diberikan sumber adalah nama yang telah ditranskripsikan ke dalam aksara Tionghoa, keterangan arah, beberapa ciri negeri, perjalanan utusan, hasil alam, tata kehidupan, dan hubungan dengan negeri-negeri lain.

Menurut berita yang kemudian dihimpun dalam sejarah Dinasti Tang, Holing berada di wilayah laut selatan. Negeri itu digambarkan kaya dan menghasilkan emas, perak, cula badak, gading, serta kulit penyu. Penduduknya mengenal tulisan dan ilmu perbintangan. Disebut pula adanya tempat di pegunungan yang menghasilkan air asin. Raja (Ratu Sima) dikatakan sering mengunjungi suatu tempat bernama Lang-pi-ya untuk menikmati pemandangan laut.

Selama ini pembacaan lokasi sering berangkat dari satu nama yang dianggap mirip, kemudian unsur lain disesuaikan dengan pilihan tersebut. Cara lain dapat ditempuh dengan memulai dari keseluruhan konfigurasi. Nama, arah, lingkungan, dan jalur perjalanan ditempatkan dalam satu matriks.

Dengan pendekatan ini, pertanyaannya bukan hanya nama modern apa yang paling mirip dengan Holing, tetapi juga apakah kandidat Holing mempunyai Po-li di sebelah timurnya, To-po-teng di sebelah baratnya, Chen-la di sebelah utaranya, dan laut di sebelah selatannya. Ciri pegunungan, sumber air asin, Lang-pi-ya, perdagangan, dan jalur pelayaran kemudian ikut diperiksa di dalam peta yang sama.

Ketika peta lama diletakkan di atas Jawa

Identifikasi Holing dengan Jawa mempunyai sejarah intelektual yang panjang. Salah satu alasan pentingnya adalah pembacaan L.-C. Damais terhadap nama Ho-ling sebagai transkripsi dari Walaing atau Walain. Nama Walaing memang muncul dalam lingkungan epigrafi Jawa. Damais kemudian menyusun argumen bahwa bentuk Tionghoa Holing dapat merujuk pada Walaing di Jawa.

Kajian Damais penting karena menggeser diskusi dari kemiripan Holing-Kalingga menuju persoalan fonetis yang lebih kompleks. Holing tidak harus dibaca sebagai Kaling. Ia dapat dibaca melalui bentuk yang lebih dekat dengan Walaing atau Walain.

Pembacaan fonetis dan penentuan lokasi, bagaimanapun, merupakan dua pekerjaan yang berbeda. Bentuk Walaing atau Walain dapat dibandingkan kembali dengan kandidat lain yang memiliki hubungan bunyi, geografi, dan sejarah kawasan.

Ketika model Jawa disusun lengkap, muncul konfigurasi berikut: Holing ditempatkan di Jawa Tengah; Po-li di sebelah timurnya dihubungkan dengan Bali; To-po-teng di sebelah baratnya dicari di Jawa Barat, Sumatra, atau Semenanjung Melayu; Chen-la di sebelah utaranya ditempatkan di Kamboja; dan bagian selatannya dianggap Samudra Hindia.

Bagian timur dan selatan masih dapat divisualisasikan secara umum. Bali memang berada di timur Jawa dan Samudra Hindia berada di selatannya. Tetapi sisi utara menghadirkan persoalan besar. Kamboja tidak berada tepat di utara Jawa Tengah dalam hubungan antarwilayah yang sederhana. Kalimantan menempati sebagian besar ruang di antaranya.

Jika arah dalam kronik hanya dimaksudkan sebagai orientasi sangat luas, maka hubungan Po-li di timur dan To-po-teng di barat juga perlu dibaca sebagai orientasi luas. Sebaliknya, jika arah tersebut cukup rinci untuk menentukan lokasi Holing, keberadaan Kalimantan harus masuk ke dalam pengujian.

Di sinilah pembacaan alternatif dari Sulawesi memperoleh ruang. Sulawesi tidak dimasukkan untuk mengganti satu pusat sejarah dengan pusat yang lain. Bentuk pulau itu, teluk-teluknya, jalur pegunungannya, dan kedekatan sejumlah toponim memungkinkan seluruh konfigurasi arah diuji kembali.

Holing sebagai Walaing dan pertanyaan Walenrang

Pembacaan Damais terhadap Holing sebagai Walaing atau Walain menghadirkan salah satu pintu masuk penting. Di Sulawesi Selatan terdapat Walenrang, wilayah yang mempunyai kedudukan penting dalam bentang sejarah Luwu.

Kemiripan Walaing-Walenrang mengundang pertanyaan mengenai bentuk nama yang lebih tua, perkembangan unsur akhir -rang, dan kemungkinan bahwa Walaing, Walain, Waling, serta Walen-rang berasal dari lingkungan penamaan yang berkaitan. Nama itu juga mungkin pernah menunjuk kawasan yang lebih luas daripada batas administratif Walenrang sekarang.

Dalam tradisi maritim di sekitar Teluk Bone dikenal ungkapan "angin Walenrang". Nama angin dapat menyimpan orientasi ruang masyarakat pelaut: arah datangnya angin, kawasan asal, atau bentang yang dikenali dari laut. Jika Walenrang pernah menjadi penanda arah bagi masyarakat Teluk Bone, cakupan namanya dalam ingatan maritim mungkin lebih luas daripada wilayah administratif modern.

Pembacaan Walaing-Walenrang juga berhubungan dengan perpindahan pusat pemerintahan Holing. Kronik menyebut perpindahan ke arah timur menuju Po-lu-chia-ssu. Dalam pembacaan Sulawesi, nama Balusu mendapat perhatian karena identik secara fonetis dengan Po-lu-chia-ssu. Pada hari ini, Balusu adalah nama sebuah kecamatan di Toraja Utara yang bisa dikatakan berdekatan dengan daerah Walenrang.

Pengamatan ini penting karena memperkuat kemungkinan bahwa Balusu dan Walenrang dahulu berada dalam satu bentang sosial-geografis yang berkesinambungan. Batas Kecamatan Balusu di Toraja Utara sekarang bersebelahan dengan wilayah Walenrang di Luwu, tetapi batas administratif tersebut merupakan pembagian modern yang belum tentu mencerminkan susunan wilayah pada masa lampau. Sebelum pembentukan kabupaten dan kecamatan, hubungan antarkawasan lebih mungkin mengikuti pegunungan, lembah, aliran sungai, jalur perdagangan, hubungan kekerabatan, serta lingkup kekuasaan adat.

Karena itu, Balusu dan Walenrang dapat dipertimbangkan sebagai dua bagian dari sebuah kawasan historis yang dahulu saling terhubung, atau bahkan pernah dipahami sebagai satu lingkungan wilayah sebelum dibelah oleh administrasi modern. Kedekatan ini juga memberi konteks geografis yang lebih kuat bagi pembacaan Holing sebagai Walaing atau Walenrang dan bagi keterangan tentang perpindahan pusatnya ke arah timur menuju Balusu (Po-lu-chia-ssu). Dalam susunan tersebut, perpindahan itu tidak harus dibayangkan sebagai perpindahan menuju negeri yang jauh, melainkan sebagai pergeseran pusat kekuasaan di dalam satu bentang pegunungan yang sama.

Peta posisi Balusu dan Walenrang di kawasan perbatasan Toraja Utara–Luwu. Balusu ditampilkan sebagai wilayah di sisi barat daya, sedangkan Walenrang mencakup kawasan gabungan Walenrang, Walenrang Barat, dan Walenrang Utara yang membentang ke arah timur dan utara. Peta ini memperlihatkan kedekatan geografis kedua wilayah tersebut.

Karatuan dan jejak pusat kekuasaan

Dalam pembacaan geografis Sulawesi, nama Karatuan atau Karataun menjadi unsur penting. Bentuk tersebut ditemukan di beberapa tempat, antara lain Karatuang di Tappalang, Karataun di Kalumpang, dan Karatuan di Bastem. Kata itu mengingatkan pada pusat kedudukan seorang ratu atau penguasa.

Kesamaan nama di beberapa lokasi dapat dibaca sebagai jejak perpindahan, pengulangan gelar pusat kekuasaan, atau jaringan kebudayaan yang menggunakan istilah politik serupa. Karatuan karena itu tidak harus dicari sebagai satu-satunya ibu kota. Ia dapat dibaca sebagai kategori tempat yang berhubungan dengan kedudukan penguasa.

Koridor Tappalang-Kalumpang-Bastem-Walenrang menghubungkan pesisir barat Sulawesi, lembah sungai, pegunungan, dan dataran Luwu. Sungai dan lintasan pegunungan memungkinkan pergerakan manusia, logam, hasil hutan, barang upeti, dan gagasan dari pesisir menuju pedalaman maupun sebaliknya.

Kalumpang sendiri telah lama dikenal sebagai kawasan penting dalam arkeologi Sulawesi. Lembah Karama memperlihatkan bahwa Sulawesi Barat merupakan salah satu jalur perpindahan manusia dan kebudayaan di kepulauan Indonesia.

Apabila Holing merupakan jaringan kekuasaan yang tumbuh dari hubungan pesisir-pedalaman, beberapa Karatuan dapat dibaca sebagai bagian dari lanskap politiknya. Model ini membayangkan kekuasaan melalui pusat-pusat yang saling terhubung, jalur sungai, pelabuhan, wilayah upeti, dan hubungan genealogis.

Po-li, Ma-li, Bo-ni, dan kawasan Malili-Mori

Dalam pembacaan lama, Po-li umumnya diidentifikasi sebagai Bali. Kemiripan bunyi Po-li - Bali menjadi salah satu penyangga penempatan Holing di Jawa. Namun sumber Tiongkok mengenal lebih dari satu bentuk untuk nama negeri tersebut.

Menurut Prof. Slamet Muljana, Po-li juga disebut Ma-li. Dalam bukunya Sriwijaya, ia merujuk pendapat Paul Pelliot yang didasarkan pada keserupaan bunyi Po-li - Ma-li dan keterangan Hsin T'ang Shu. Informasi ini memperluas pencarian karena kandidat negeri tersebut tidak hanya perlu dibandingkan dengan Bali, tetapi juga dengan toponim yang mempertahankan bentuk Ma-li.

Jika Karatuang di Tappalang, Karataun di Kalumpang, Karatuan di Bastem, Walenrang, Balusu, dan Palopo, ditempatkan sebagai satu lingkungan Holing yang pusatnya dapat berpindah, Po-li atau Ma-li perlu dicari di sebelah timurnya. Pada arah itu terdapat Malili dan kawasan Mori (kerajaan Mori).

Malili mempertahankan bentuk bunyi yang dekat dengan Ma-li dan berada di sebelah timur lingkungan Luwu serta pusat-pusat Karatuan yang diajukan dalam hipotesis ini. Di sebelah timur dan timur laut Malili terbentang wilayah Mori. Dalam sejarah Sulawesi, Mori tidak hanya merupakan nama kelompok penduduk, tetapi juga nama kawasan dan kerajaan yang berhubungan dengan Luwu, Bungku, Poso, Morowali, serta jalur pesisir timur Sulawesi.

Dalam pencermatan fonetik-artikulatoris, bentuk Mori dapat dibandingkan dengan variasi yang muncul melalui pertukaran konsonan pada posisi awal dan tengah: poni, poli, pori, podi, poti, boni, boli, bori, bodi, boti, woni, woli, wori, wodi, woti, moni, moli, mori, modi, dan moti. Deretan tersebut memperlihatkan ruang perubahan antara Mori, Moli, Poli, dan Boni. Dalam transkripsi lintas bahasa, sebuah nama akan disesuaikan dengan sistem bunyi serta karakter yang tersedia bagi pencatatnya.

Prof. Liang Liji memberikan informasi lain. Dalam Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis: 2000 Tahun Perjalanan Hubungan Tiongkok-Indonesia (2012, hlm. 42), ia menyebut bahwa negeri Po-li dalam kitab sejarah Tiongkok kuno juga dikenal sebagai Bo-ni atau Fo-ni.

Bentuk Bo-ni membuka kemungkinan hubungan dengan Boni atau Bone. Teluk Bone, yang dalam pemakaian lokal juga dikenal sebagai Teluk Boni, merupakan ruang laut utama yang menghubungkan Luwu, kawasan Bugis, dan jalur menuju Malili serta Mori.

Dengan demikian, Po-li hadir dalam rangkaian bentuk Po-li, Ma-li, Bo-ni atau Fo-ni, Malili, Mori, dan Boni. Hubungan ini dapat dibaca bersama posisi geografisnya. Malili dan Mori berada di sebelah timur lingkungan Luwu, sedangkan Teluk Boni menjadi ruang maritim yang menghubungkan kawasan tersebut dengan pesisir selatan dan baratnya.

Hipotesis Po-li sebagai kawasan Malili-Mori dibangun dari varian nama dalam sumber Tiongkok, posisi timur, sejarah hubungan Luwu-Mori, serta keberadaan Teluk Boni sebagai poros perairan kawasan.

Urutan negeri dalam perjalanan I-Tsing

Petunjuk mengenai posisi Po-li juga terdapat dalam Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan, catatan I-Tsing tentang ajaran Buddha dan negeri-negeri laut selatan. Dalam terjemahan yang dikutip Slamet Muljana, I-Tsing menyebut lebih dari sepuluh negeri di kawasan laut selatan.

Dihitung dari barat, yang pertama ialah negeri P'o-lu-shi, lalu negeri Mo-lo-yeu, yang sekarang menjadi negeri Shih-li-fo-shih, Mo-ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pen, P'o-li, K'u-lun, Fo-shih-pu-lo, I-shan dan Mo-chia-man. Masih ada beberapa pulau kecil-kecil lagi; tidak dapat disebut semuanya di sini.

Urutan setelah Holing disebut secara berangkai: Holing, Tan-tan, Pem-pen, Po-li, lalu K'u-lun.

Terjemahan lama Takakusu mengidentifikasi Tan-tan sebagai Natuna, Po-li sebagai Bali, dan K'u-lun sebagai Pulo Condore. Slamet Muljana menyoroti masalah yang muncul jika daftar itu dibaca dari barat menuju timur sementara Holing ditempatkan di Jawa. Jika Holing berada di Jawa, Tan-tan yang disebut sesudahnya harus dicari di sebelah timur Jawa. Penempatan Tan-tan di Natuna justru bergerak jauh ke arah barat laut. Pem-pen kemudian sering dilewati, sedangkan Po-li langsung disamakan dengan Bali.

Peta Sulawesi yang diajukan dalam hipotesis ini menghadirkan pembacaan lain: Tan-tan dibandingkan dengan Tentena; Pem-pen dengan Pompangeo; Po-li atau Ma-li dengan Malili, Malino, dan kawasan Mori; serta K'u-lun dengan Kolonodale dan Kolono.

Keempat kandidat itu berada dalam lingkungan Tengah dan timur pulau Sulawesi. Tentena berada di kawasan Poso. Pompangeo berada lebih ke timur dalam bentang pegunungan Sulawesi Tengah. Malino dan wilayah Mori terletak pada jalur berikutnya, sedangkan Kolonodale berada di pesisir Teluk Tolo dan menjadi salah satu pusat penting kawasan Mori. Lebih jauh ke tenggara terdapat Kolono di lingkungan Bungku.

Rangkaian regional yang terbentuk adalah Holing atau Luwu, kemudian Tentena, Pompangeo, Malino-Malili atau Mori, lalu Kolonodale-Kolono. Urutan ini dapat mengikuti lembah, pegunungan, sungai, teluk, dan pelabuhan yang dikenal masyarakat setempat. Dalam konteks Sulawesi, perjalanan antarnegeri dapat menggabungkan pelayaran pesisir dengan perjalanan darat melalui lembah.

Keterangan silang dari kronik Tiongkok

Identifikasi tersebut menjadi lebih terperinci ketika dibandingkan dengan berita Tiongkok lain yang dihimpun Slamet Muljana.

Po-li, Tan-tan dan Pem-pen

Berita Sui Shu menyatakan bahwa Po-li dapat dicapai melalui Chih-tu dan Tan-tan. Di sebelah selatan Po-li terletak Tan-tan dan Pem-pen. Kedua negeri itu disebut menyerahkan hasilnya sebagai upeti dan mempunyai adat serta hasil bumi yang serupa.

Jika Po-li ditempatkan di kawasan Malili-Mori, Tentena dan Pompangeo berada dalam lingkungan yang dapat dibaca pada sisi selatan atau barat dayanya menurut bentang perjalanan regional. Hubungan ketiganya membentuk gugus yang berdekatan.

Po-li dan Lo-tha

Berita Hsin T'ang Shu menyatakan bahwa Po-li juga disebut Ma-li. Negeri itu dapat dicapai melalui Chih-tu dan Tan-tan, mempunyai wilayah luas, dan berada di sebelah barat Lo-tha.

Dalam peta Sulawesi, Lo-tha dibandingkan dengan Routa di dekat Danau Towuti. Routa terletak di sebelah timur Malili. Susunannya menjadi Malili atau Mori sebagai Po-li-Ma-li, dengan Routa sebagai Lo-tha di sebelah timurnya.

Tan-tan dan To-lo-mo

Berita T'ung Tien susunan Tu You menyebut Tan-tan berada di sebelah barat laut To-lo-mo dan di sebelah tenggara Chen-chow.

Tan-tan dalam hipotesis ini dibandingkan dengan Tentena, sedangkan To-lo-mo dibandingkan dengan Beteleme. Tentena berada di sebelah barat laut Beteleme. Beteleme sendiri berada pada jalur menuju Mori, Malili, dan Danau Matano.

To-lo-po-ti dan Pem-pen

Berita Chiu T'ang Shu menyatakan bahwa To-lo-po-ti berbatasan di sebelah selatan dengan Pem-pen. To-lo-po-ti dibandingkan dengan Lepati, nama gunung atau bukit di Sulawesi Tengah. Unsur to dapat dipertimbangkan sebagai sebutan bagi orang atau kelompok dalam bahasa-bahasa Sulawesi. Bentuk itu dapat dibaca sebagai orang Lopoti atau Lepati, maupun wilayah yang berhubungan dengan Lepati.

Lepati terletak berdekatan dengan Pompangeo, kandidat Pem-pen. Hubungan keduanya menempatkan nama-nama dalam kronik pada satu gugus pegunungan Sulawesi Tengah.

Chih-tu dan Katu

Catatan perjalanan Ch'ang Chun tahun 607 menyebut pelayaran dari Kanton selama lebih dari dua puluh hari. Setelah melewati bentang laut dan pulau, rombongan sampai di pantai Chih-tu. Kapal ditambatkan, kemudian perjalanan menuju ibu kota memerlukan waktu lebih dari satu bulan.

Chih-tu dibandingkan dengan Katu, sebuah desa di Kecamatan Lore Tengah, Poso. Katu berada di pedalaman dan berdekatan dengan kawasan megalitik Lore Lindu, termasuk Pokekea. Posisi pedalamannya memberikan konteks bagi keterangan perjalanan panjang dari tempat kapal ditambatkan menuju pusat negeri.

Matriks toponim dalam peta Sulawesi

Peta hipotesis pembacaan toponim kronik Tiongkok di Sulawesi. Panah menunjukkan pasangan nama dan posisi relatif yang sedang diuji, bukan rute perjalanan dalam garis lurus. Dok. Fadly Bahari.

Peta hipotesis memperlihatkan bahwa pasangan nama tersebut tidak tersebar secara acak. Ia membentuk jaringan yang mengikuti Sulawesi Barat, pegunungan tengah, Luwu, Mori, dan Bungku.

Nama dalam kronik

Kandidat di Sulawesi

Hubungan geografis yang diuji

Holing atau Walaing

Karatuang, Karataun, Balusu, Bastem, Walenrang, Palopo, Masamba, Belopa

Lingkungan kedatuan dengan pusat yang dapat berpindah

Chih-tu

Katu

Wilayah pedalaman setelah tempat kapal ditambatkan

Tan-tan

Tentena

Disebut setelah Holing dan berada di barat laut kandidat To-lo-mo

Pem-pen

Pompangeo

Berdekatan dengan Lepati dan berada dalam jalur menuju Mori

To-lo-po-ti

Lepati

Berhubungan secara geografis dengan Pompangeo

To-lo-mo

Beteleme

Berada di tenggara Tentena

Po-li atau Ma-li

Malili, Malino, dan Mori

Berada di sebelah timur lingkungan Holing

Lo-tha

Routa

Berada di sebelah timur Malili

K'u-lun

Kolonodale dan Kolono

Muncul setelah Po-li dalam urutan I-Tsing

Kekuatan peta ini terletak pada pola. Kesesuaian yang diajukan mencakup bunyi, urutan penyebutan, posisi relatif, serta jalur yang mungkin menghubungkan setiap tempat.

Holing sebagai kedatuan dengan beberapa pusat

Peta tersebut membantu menjelaskan mengapa terdapat beberapa tempat yang dihubungkan dengan Holing: Karatuang di Tappalang, Karataun di Kalumpang, Balusu, Karatuan di Bastem, Palopo, Belopa, dan Masamba.

Karatuan di Bastem mempunyai hubungan dengan ciri alam yang disebut dalam kronik: sumber air asin di pegunungan Rante Balla. Batu Pasui di kawasan yang sama dapat diteliti dalam hubungannya dengan pengetahuan perbintangan dan penggunaan batu sebagai penanda bayangan atau gnomon.

“Batu Pasui” di Karatuan, Mitologisasi Batu Gnomon Peninggalan kerajaan Ho-ling

Batu Gnomon adalah jam matahari. Merupakan cara orang-orang di masa kuno untuk menentukan waktu, dengan memanfaatkan bayangan yang terbentuk ketika cahaya Matahari menerangi suatu objek (batu atau benda lainnya), sehingga objek tersebut membentuk bayangan.

Dalam kronik Cina, terdapat berita tentang orang-orang di kerajaan Ho-ling yang menggunakan batu gnomon untuk menentukan waktu.

“ Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut. Apabila pada pertengahan musim panas orang membangun gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke sebelah selatannya, dan panjangnya dua kaki empat inci. ” ( Sejarah Nasional Indonesia – Zaman Kuno, Edisi Pemutakhiran . 2008. hlm. 119)

Khusus untuk wilayah karatuan di Bastem (Basse Sang Tempe) kabupaten Luwu, di wilayah ini terdapat suatu mitos tentang “ batu pasui “. Pasui dalam bahasa tae' kurang lebih artinya “ pengisap ”, jadi “ batu pasui ” secara harafiah dapat dimaknai “ batu pengisap ”.

Batu Pasui terletak di atas bukit karatuan bastem. dalam mitosnya, dipercaya bahwa jika bayangan burung (yang terbang di langit) jatuh pada batu tersebut maka burung tersebut akan jatuh dan mati. Ini sebagaimana yang diungkapkan Puang F. Ratu, sesepuh pemangku Parengnge Karatuan – Basse Sang Tempe, ketika saya Mewawancarainya di kediamannya pada tanggal 8 Juni 2017.

Chen-la Isanapura dan gugus nama Sulawesi

Sisi utara merupakan bagian paling menantang dalam peta Holing. Chen-la lazim dihubungkan dengan kerajaan yang berkembang di daratan Asia Tenggara, terutama Kamboja dan sekitarnya. Ibu kotanya disebut Isanapura dan umumnya dihubungkan dengan kompleks Sambor Prei Kuk.

Sambor Prei Kuk mempunyai kompleks kuil bata, parit, tanggul, jalur lintasan, dan struktur perkotaan yang dikaji dalam hubungan dengan Isanapura. Pada saat yang sama, nama Chen-la dalam sumber Tiongkok menghadirkan persoalan tersendiri. George Coedes menyatakan bahwa nama tersebut tidak mempunyai padanan Sanskerta atau Khmer yang benar-benar menjelaskan bentuk Tionghoa lamanya.

Claude Jacques kemudian menunjukkan bahwa Funan dan Zhenla merupakan kategori yang dibentuk melalui pandangan sumber Tiongkok. Nama Zhenla tidak dikenal sebagai nama politik lokal dalam prasasti Khmer; prasasti setempat menggunakan nama pusat seperti Bhavapura dan Isanapura. Kajian tersebut mengajak pembaca memeriksa bagaimana istilah Tiongkok digunakan dan seberapa luas cakupannya.

Sumber Tiongkok menyebut bahwa Chen-la terbagi menjadi Lu Zhenla atau Chen-la Daratan dan Shui Zhenla atau Chen-la Air. Lu Zhenla juga disebut Wendan atau Polou. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa Chen-la dapat berfungsi sebagai istilah payung bagi beberapa kesatuan.

Dalam kompilasi tentang Zhenla, ibu kota disebut berpindah dari lingkungan Vat Phou ke Isanapura, kemudian ke Angkor yang ditranskripsikan sebagai Wuge. Sementara itu, Zhu Fan Zhi karya Zhao Rugua pada abad ke-13 menyebut ibu kota Chen-la dengan bentuk Lu-wu.

Terjemahan Hirth dan Rockhill menyebut Chen-la berada di selatan Chan-ch'eng, dengan laut di sebelah timur, P'u-kan di barat, dan Kia-lo-hi di selatan. Dari Quanzhou, negeri itu dapat dicapai sekitar satu bulan dengan angin yang baik. Ibu kotanya disebut Lu-wu.

Lu-wu biasanya dijelaskan sebagai bentuk yang berhubungan dengan Lovek atau Longvek di Kamboja. Namun penempatan waktu menimbulkan pertanyaan karena Lovek dikenal sebagai pusat kekuasaan pada masa lebih kemudian. Di sisi lain, bentuk Lu-wu juga sangat dekat dengan nama Luwu.

Wuge dapat dibandingkan dengan Wugi, Ugi, atau Bugis, sedangkan Polou dapat dibandingkan dengan Palu. Ketiganya membentuk gugus nama yang mempunyai kemiripan dengan entitas Sulawesi: Wuge - Wugi / Ugi; Lu-wu - Luwu; dan Polou - Palu.

Dalam bahasa lokal Sulawesi Selatan terdapat bentuk cenrana sebagai bentuk lain dari nama cendana. Toponim Cendana ditemukan di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, di sebelah utara lingkungan Luwu dan jalur Holing dalam peta hipotesis.

Hipotesis lain menghubungkan Tan-mei-liu dengan Malei atau Tana Malei di Tanjung Balaesang. Posisi Malei di sebelah barat kawasan Parigi Moutong dapat dibandingkan dengan keterangan dalam sejarah Dinasti Song mengenai sebuah negeri di sebelah barat Chen-la.

Susunan alternatif yang muncul adalah Chen-la - Cenrana - Cendana; Tan-mei-liu - Tana Malei; Polou - Palu; Lu-wu - Luwu; dan Wuge - Wugi / Ugi. Nama-nama ini perlu disusun menurut masa sumbernya untuk melihat kemungkinan pergeseran nama, perluasan istilah, penyatuan laporan, dan penggunaan kembali sebutan lama.

Dalam konteks Holing, Chen-la berfungsi sebagai penunjuk arah utara. Jika Chen-la ditempatkan di Sulawesi Tengah, hubungan utara-selatan dengan Luwu dan Walenrang menjadi lebih rapat. Palu, Parigi Moutong, Teluk Tomini, pegunungan tengah, dan Luwu membentuk bentang darat serta laut yang saling terhubung.

Laut di sebelah selatan

Keterangan bahwa di sebelah selatan Holing terdapat laut sangat mungkin merujuk pada laut teluk bone, terutama ketika yang menyebutkan letak geografis ini semasa ketika pusat Holing terletak di wilayah Wotu, Malangke dan Walerang.

Sumber air asin di pegunungan

Berita tentang air asin di pegunungan merupakan salah satu ciri Holing yang paling sering dibicarakan. Dalam pembacaan Jawa, ciri itu pernah dihubungkan dengan Bledug Kuwu di Grobogan. Di kawasan Luwu terdapat sumber air asin di Rante Balla, lingkungan pegunungan Latimojong. Ini sesuai dengan gambaran dalam kronik Cina bahwa sumber air asin itu terletak di wilayah pegunungan.

Lang-pi-ya - Langpiya dan Lampia

Kronik menyebut tempat bernama Lang-pi-ya yang dikunjungi raja untuk melihat laut. Dalam identifikasi Jawa, nama ini pernah dicari di sekitar Lasem atau Krapyak. Di Luwu Timur terdapat kawasan Lampia yang berbukit-bukit.

Kesamaan bentuk Lang-pi-ya-Langpiya sangat mencolok. Kandidat tersebut juga berada di dalam koridor Luwu, Malili, dan Mori. Lampia berada di ketinggian dengan pandangan menuju laut yang terbuka karena kawasan ini merupakan daerah perbukitan yang tepat berada di teluk. Pemandangan di tempat ini memang indah terutama untuk menikmati matahari terbenam. Demikianlah, ecocokannya meliputi nama dan lanskap.

Koridor Luwu-Mori sebagai ruang sejarah

Luwu dan Mori sebaiknya tidak dilihat melalui batas kabupaten atau provinsi masa kini. Kawasan sejarah terbentuk sebelum garis administratif modern.

Luwu mempunyai hubungan dengan Teluk Bone, pegunungan Latimojong, dataran tinggi Toraja, Malili, Danau Matano, pesisir timur Sulawesi, Mori, Bungku, dan Sulawesi Tengah. Besi, hasil hutan, damar, rotan, sagu, beras, kerbau, emas, serta hasil laut bergerak melalui jaringan tersebut.

Danau Matano dan kawasan sekitarnya dikenal karena sumber besi. Dalam sejarah yang lebih muda, besi Luwu mempunyai kedudukan penting dalam ekonomi dan simbolisme politik Sulawesi Selatan. Perdagangan besi mempertemukan masyarakat pedalaman, pengolah logam, penguasa, dan pelaut.

Mori juga menghasilkan dan memperdagangkan hasil pertanian, hasil hutan, serta barang logam. Dalam sejarahnya terdapat hubungan politik dengan Luwu. Sumber yang lebih jelas berasal dari masa belakangan, tetapi koridor geografis yang menghubungkan kedua wilayah itu telah terbentuk oleh sungai, lembah, dan pesisir jauh sebelumnya.

Sulawesi dalam sejarah manusia dan kebudayaan

Pembacaan sejarah Indonesia pernah terlalu lama menempatkan Jawa sebagai ukuran utama ketuaan dan peradaban. Pulau lain sering hadir setelah masuk ke dalam sumber kerajaan besar, prasasti, atau laporan kolonial. Penelitian arkeologi dan biomolekuler kini memperlihatkan gambaran yang jauh lebih luas.

Sulawesi mempunyai tradisi hunian manusia yang sangat panjang. Penanggalan baru terhadap seni cadas menunjukkan usia minimum sekitar 67.800 tahun untuk sebuah stensil tangan. Sebelumnya, adegan manusia dan babi di Leang Karampuang diberi usia minimum sekitar 51.200 tahun dan dipandang sebagai salah satu contoh tertua seni naratif.

Dari Sulawesi juga dilaporkan bukti sangat tua mengenai penggunaan habitual tumbuhan neuroaktif. Analisis terhadap gigi manusia dari lingkungan pemburu-peramu menemukan pola aus, residu arekolin, dan petunjuk penggunaan buah pinang pada masa sekitar 25.000-16.000 tahun lalu. Temuan ini memperlihatkan pengetahuan terhadap sifat tumbuhan dan tubuh manusia jauh sebelum berkembangnya pertanian.

Temuan-temuan tersebut mengubah cara Sulawesi dipandang: sebagai pulau yang sejak masa sangat awal dihuni manusia dengan kemampuan simbolis, pengetahuan lingkungan, pergerakan antarpulau, dan kebudayaan material yang kompleks. Sulawesi memiliki lintasan sejarahnya sendiri.

Madagaskar dan koridor pelaut Indonesia

Hubungan genetika antara penduduk Malagasy di Madagaskar dan populasi Indonesia juga mengubah gambaran tentang kemampuan pelayaran masyarakat kepulauan.

Pradiptajati Kusuma dan rekan-rekannya meneliti DNA mitokondria serta kromosom Y untuk memahami sumber populasi Indonesia dalam pemukiman Madagaskar. Hasil mereka menunjukkan sumber yang tersebar di sekitar Sulawesi Selatan, Kepulauan Sunda Kecil, dan Kalimantan Timur.

Pada data kromosom Y, populasi dengan afinitas tinggi terhadap Malagasy mencakup Mandar, Flores, Bajo, Dayak Kalimantan Timur, dan Lebbo'. Analisis optimasi menyoroti Mandar dan Lebbo' sebagai kombinasi yang dekat dengan keragaman paternal Malagasy.

Pada garis maternal, hubungan dengan Indonesia timur terlihat lebih kuat. Sumba berbagi jumlah haplotipe terbanyak, disusul Maluku Utara dan Bugis Sulawesi. Kombinasi Bugis, Bajo, dan Maluku Utara juga muncul dalam analisis sumber populasi.

Para peneliti mengusulkan kawasan Sulawesi Selatan, Kepulauan Sunda Kecil, dan Kalimantan Timur sebagai lingkungan sumber penting bagi pemukiman Madagaskar. Mereka juga mempertimbangkan peran kelompok pengembara laut.

Dalam kajian linguistik, Otto Dahl menempatkan bahasa Malagasy dekat dengan Ma'anyan, tetapi juga mencatat unsur-unsur yang mengarah ke Celebes atau Sulawesi. Perpaduan data bahasa dan genetika memperlihatkan kemungkinan populasi campuran dan jaringan pelayaran yang luas.

Konteks ini membantu membayangkan dunia maritim tempat nama Holing, Po-li, Lu-wu, Wuge, dan Polou beredar. Sebuah nama dapat dibawa pelaut, diterjemahkan oleh perantara, dicatat di pelabuhan lain, kemudian masuk ke kronik Tiongkok dalam bentuk yang telah berubah.

Luwu, Bugis, Bajo, dan cakrawala Samudra Hindia

Tradisi pelayaran Bugis, Makassar, Mandar, dan Bajo dikenal luas pada masa yang lebih dekat dengan kita. Jaringan laut di sekitar Sulawesi tentu mempunyai akar yang lebih panjang.

Dalam Capita Selecta: Sejarah Sulawesi Selatan, Andi Zainal Abidin Farid mencatat pertemuannya dengan Cyril A. Hromnik pada 1987. Menurut keterangan tersebut, Hromnik menyampaikan pandangan bahwa pada abad pertama hingga abad ke-10 terdapat pekerja yang dikirim dari suatu kerajaan Bugis tua menuju pertambangan emas di Afrika bagian selatan yang berhubungan dengan kegiatan orang India. Andi Zainal Abidin menghubungkan "kerajaan Bugis tua" itu dengan Luwu berdasarkan tradisi sejarah Sulawesi Selatan.

Rangkaian ini membuka bidang penelitian lintas Samudra Hindia: sejarah pertambangan emas Afrika, hubungan India-Afrika, pergerakan tenaga kerja, teknologi kapal, dan jaringan pelaut Nusantara.

Menyusun ulang matriks arah

Setelah seluruh unsur ditempatkan bersama, dua model pembacaan dapat dibandingkan sebagai berikut.

Keterangan kronik

Model yang lama dikenal

Model pengujian Sulawesi

Holing

Kalingga atau Walaing di Jawa

Walaing-Walenrang dalam lingkungan Luwu

Timur Po-li atau Ma-li

Bali

Malili-Mori

Barat To-po-teng

Jawa Barat, Sumatra, atau Semenanjung

Tabating atau To Boting

Utara Chen-la

Kamboja

Cendana dan koridor Sulawesi Tengah

Nama terkait Chen-la

Wendan dan Polou

Polou-Palu; Wendan tetap ditelusuri

Ibu kota Lu-wu

Lovek atau Longvek

Luwu

Wuge

Angkor dalam pembacaan umum

Wugi atau Ugi

Selatan

Samudra Hindia

Teluk Bone

Air asin di pegunungan

Bledug Kuwu

Rante Balla-Latimojong

Lang-pi-ya

Lasem atau Krapyak

Langpiya atau Lampia

Perpindahan pusat Holing ke timur

Pusat baru di Jawa

Balusu

Tabel ini merupakan peta kerja. Model Jawa memiliki tradisi epigrafi Walaing dan sejarah penelitian Jawa kuno. Model Sulawesi memperlihatkan kerapatan hubungan nama, arah, lingkungan, dan jaringan kawasan. Pertanyaan ilmiahnya adalah model mana yang dapat menjelaskan lebih banyak unsur secara koheren.

Hipotesis sebagai cara membuka penelitian

Dalam sains, hipotesis adalah cara menyusun pertanyaan yang dapat diuji. Ia tidak menjadi sah hanya karena ditulis dalam jurnal dan tidak kehilangan nilainya karena disampaikan melalui artikel populer.

Artikel sains populer dapat menjadi tempat lahirnya gagasan. Ia dapat mempertemukan temuan yang berada dalam disiplin berbeda: sejarah, linguistik, geografi, arkeologi, genetika, geologi, astronomi tradisional, dan pengetahuan masyarakat.

Pembaca perlu dapat melihat sumber yang digunakan, hubungan antardata, dan jalur yang dapat diteruskan oleh penelitian berikutnya. Hipotesis Holing di Sulawesi mempunyai sejumlah jalur yang nyata untuk dikembangkan.

Filologi Tionghoa

Setiap nama perlu dicatat dalam aksara aslinya, varian penulisan, masa penyusunan sumber, dan rekonstruksi bunyi Tionghoa pada zamannya. Holing, Walaing, Po-li, Ma-li, To-po-teng, Chen-la, Wuge, Lu-wu, Polou, dan Lang-pi-ya perlu dibandingkan melalui pelafalan historis.

Linguistik historis Sulawesi

Bentuk lama Walenrang, Mori, Malili, Tabating, Balusu, Langpiya, Cendana, Malei, Palu, dan Luwu dapat dikumpulkan dari lontara, tradisi lisan, peta kolonial, kamus bahasa, dan catatan misionaris. Perubahan bunyi kemudian dilihat dalam sejarah bahasa setempat.

Pemetaan jalur

Peta penelitian perlu memuat jalur sungai, lintasan gunung, teluk, pelabuhan, musim angin, dan arus laut. Arah dalam kronik dapat dibandingkan dengan arah perjalanan yang digunakan pelaut dan masyarakat pedalaman.

Arkeologi koridor Luwu-Mori

Penelitian dapat diarahkan pada situs permukiman, peleburan besi, sumber garam, pelabuhan lama, kubur, keramik asing, manik-manik, logam, dan jejak pertukaran. Danau Matano, Malili, Walenrang, Bastem, Rante Balla, Balusu, Mori, serta Bungku dapat ditempatkan dalam satu program penelitian regional.

Sumber lokal

Tradisi Luwu, silsilah, I La Galigo, cerita tentang Balusu, Boting, Karatuan, dan hubungan dengan Mori dapat dibaca sebagai arsip kebudayaan. Nama, struktur perjalanan, hubungan kekerabatan, dan gambaran pusat kekuasaan di dalamnya dapat dibandingkan dengan data luar.

Kronologi dan penelitian kolaboratif

Kronik Tang, perjalanan I-Tsing, Zhu Fan Zhi, tradisi Luwu, sumber Eropa, arkeologi, dan data genetika berasal dari masa berbeda. Garis waktu akan memperlihatkan kemungkinan kesinambungan, pergantian nama, migrasi, serta perluasan jaringan.

Penelitian ini berada di persimpangan banyak bidang. Sinolog dapat membaca teks Tionghoa, linguis historis menguji nama, arkeolog memetakan tinggalan, ahli pelayaran merekonstruksi rute, geolog meneliti sumber garam dan logam, sedangkan pemangku adat menjaga konteks pengetahuan lokal.

Membaca Sulawesi sebagai pusat jaringan

Sulawesi mempunyai bentuk yang unik. Empat semenanjungnya membuka pulau itu ke banyak laut sekaligus. Teluk Bone menghadap selatan, Selat Makassar menghubungkannya dengan Kalimantan dan Jawa, Teluk Tomini membuka jalur ke Maluku dan utara, sedangkan pesisir timurnya terhubung dengan Laut Banda.

Dalam dunia maritim, posisi seperti ini merupakan persimpangan. Luwu berada pada salah satu titik pentingnya. Di belakang pesisir terdapat pegunungan, sumber mineral, hutan, dan jalur menuju dataran tinggi. Di sebelah timur terdapat Malili, Matano, Mori, dan Morowali. Di sebelah barat terbuka jalan menuju Toraja, Mamasa, Kalumpang, dan pesisir Selat Makassar. Ke utara, jalur darat dan laut menuju Sulawesi Tengah. Ke selatan, Teluk Bone menghubungkannya dengan dunia Bugis.

Jika sebuah kerajaan atau jaringan politik berkembang di kawasan ini pada milenium pertama Masehi, penulis asing mungkin mengenalnya melalui salah satu pelabuhan, nama penguasa, kelompok pelaut, atau pusat perdagangan. Nama yang sampai ke Tiongkok tidak harus sama dengan nama yang digunakan penduduk untuk seluruh negerinya.

Kemungkinan inilah yang membuat pembacaan Holing di Sulawesi layak dilanjutkan.

Penutup sebuah undangan untuk membuka kembali peta

Persoalan Holing belum selesai hanya karena satu lokasi telah lama diterima. Peta sejarah perlu dibaca kembali ketika susunan lama menghasilkan pertanyaan yang belum terjawab dan ketika wilayah lain menghadirkan konfigurasi yang kaya.

Hipotesis Sulawesi menyatukan pembacaan Holing sebagai Walaing atau Walain; kemungkinan hubungan Walaing dengan Walenrang; Po-li atau Ma-li dengan Malili dan Mori; To-po-teng dengan Tabating atau To Boting; Chen-la dengan Cendana; Polou dengan Palu; Lu-wu dengan Luwu; Wuge dengan Wugi atau Ugi; Lang-pi-ya dengan Langpiya atau Lampia; air asin pegunungan dengan Rante Balla; perpindahan pusat ke timur dengan Balusu; serta koridor sejarah Luwu-Mori yang menghubungkan seluruhnya.

Kekuatan utama hipotesis ini berada pada pola. Nama-nama tersebut tidak muncul sebagai titik terpisah, tetapi membentuk gugus geografis di Sulawesi. Arah timur, barat, utara, dan selatan dapat dibaca dalam ruang yang saling berhubungan. Gunung, sumber garam, teluk, jalur besi, pelabuhan, dan tradisi pelayaran ikut berada di dalam peta yang sama.

Pekerjaan berikutnya adalah memperjelas pola itu melalui penelitian bahasa, pembacaan ulang kronik, pemetaan jalur, dan arkeologi kawasan. Kemungkinan Sulawesi membuka susunan geografis yang terlalu penting untuk diabaikan.

Pertanyaan "Holing di Sulawesi?" karena itu bukan akhir perdebatan. Ia adalah undangan untuk membuka kembali peta.

Daftar pustaka pilihan

Abidin Farid, Andi Zainal. Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan. Makassar: Social Politic Genius.

Coedes, George. Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha.

Dahl, Otto Christian. Malgache et Maanyan. Oslo: Egede Instituttet, 1951.

Damais, Louis-Charles. "Etudes sino-indonesiennes III: La transcription chinoise Ho-ling comme designation de Java." Bulletin de l'Ecole francaise d'Extreme-Orient 52, no. 1, 1964, hlm. 93-141.

Hirth, Friedrich dan W. W. Rockhill. Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi. St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911.

Jacques, Claude. "Funan, Zhenla: The Reality Concealed by These Chinese Views of Indochina." Dalam Early South East Asia: Essays in Archaeology, History and Historical Geography. Oxford University Press, 1979, hlm. 371-379.

Kusuma, Pradiptajati, Murray P. Cox, Denis Pierron, dkk. "Mitochondrial DNA and the Y Chromosome Suggest the Settlement of Madagascar by Indonesian Sea Nomad Populations." BMC Genomics 16, 2015.

Liang Liji. Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis: 2000 Tahun Perjalanan Hubungan Tiongkok-Indonesia. Jakarta, 2012.

Muljana, Slamet. Sriwijaya. Yogyakarta: LKiS, 2006.

Oktaviana, Adhi Agus, dkk. "Narrative Cave Art in Indonesia by 51,200 Years Ago." Nature 631, 2024.

Oktaviana, Adhi Agus, dkk. "Rock Art from at Least 67,800 Years Ago in Sulawesi." Nature, 2025.

Poelinggomang, Edward L. Kerajaan Mori: Sejarah dari Sulawesi Tengah. Edisi kedua. LOBO: Annals of Sulawesi Research, 2023.

Shimoda, Ichita dan Takeshi Nakagawa. "Distribution of the Remains and Central Area of the Monuments: A Study on a Structure of the Ancient City Isanapura Part I." Journal of Architecture and Planning 71, no. 602, 2006, hlm. 211-218.

Takakusu, J. A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago by I-Tsing. Oxford: Clarendon Press, 1896.