Malangke: Ketika Ibu Kota Berpenduduk Belasan Ribu Jiwa Itu Tiba-Tiba Ditinggalkan
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Sebelum Palopo berdiri sebagai jantung Kedatuan Luwu, ada Malangke — kota pelabuhan ramai di tepi Teluk Bone yang sempat menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan, sebelum ditinggalkan penghuninya sekitar empat abad silam.

Hari ini nama Malangke lebih dikenal sebagai kecamatan tenang di Kabupaten Luwu Utara, tempat peziarah singgah di kompleks makam Datuk Sulaiman. Namun jauh sebelum itu, kawasan di muara sungai yang bermuara ke Teluk Bone ini pernah menjadi ibu kota Kedatuan Luwu — kerajaan yang oleh banyak peneliti dianggap salah satu polity tertua di Sulawesi Selatan. Jejak kejayaannya perlahan tenggelam dalam catatan sejarah, menyisakan pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab tuntas: mengapa sebuah kota yang begitu ramai bisa ditinggalkan begitu saja?
Kota Pelabuhan di Jalur Perdagangan Besi
Menurut penelusuran arkeologis dan sejarah lisan, wilayah pesisir utara Teluk Bone tempat Malangke berada bukanlah kawasan sepi. Kajian arkeologi-sejarah yang dilakukan David Bulbeck dan Ian Caldwell dalam proyek riset atas jejak industri besi Luwu mencatat kawasan ini sebagai salah satu pusat permukiman utama orang Bugis di tanah Luwu, berdampingan dengan Bua, Ponrang, dan Cerekang di dekat Malili — kawasan yang oleh sebagian tradisi lisan dikaitkan dengan situs legendaris Ussu', tempat mitos Batara Guru turun dari Boting Langi' dalam epos Sureq Galigo.
Malangke tumbuh besar berkat posisinya sebagai muara jalur perdagangan bijih besi yang mengalir dari pedalaman pegunungan Rongkong dan Nuha — kawasan yang menghasilkan besi bermutu tinggi dengan kandungan nikel alami, sering disebut "pamor Luwu". Sebagai kota pelabuhan, Malangke menjadi titik temu antara hasil tambang pedalaman dan kapal-kapal pedagang dari luar Sulawesi. Sejumlah kajian memperkirakan penduduk kota ini sempat mencapai belasan ribu jiwa pada abad ke-16, sebuah jumlah yang tergolong besar untuk permukiman di kawasan itu pada masanya.
Titik Balik: Islam dan Akhir Sebuah Era
Kedatuan Luwu memasuki babak baru menjelang awal abad ke-17. Datu Luwu saat itu, La Patiware' Daeng Parabbung, memeluk Islam dan bergelar Sultan Muhammad Wali Mu'zhir al-Din — peristiwa yang dalam berbagai sumber lokal populer ditandai pada tahun 1603, meski sejumlah rujukan akademik mencatat penanggalannya jatuh pada awal Februari 1605. Proses islamisasi ini tidak lepas dari peran Datuk Sulaiman, ulama pengembara asal Minangkabau yang menetap dan wafat di Pattimang, tak jauh dari pusat kota Malangke, dan hingga kini makamnya masih diziarahi.
Perubahan besar dalam tata nilai dan kepercayaan itu rupanya berbarengan dengan pergeseran ekonomi. Harga komoditas besi — tulang punggung kemakmuran Malangke selama berabad-abad — mulai menurun, sementara potensi perdagangan baru justru terbuka ke arah barat, ke dataran tinggi Toraja. Kombinasi faktor keagamaan dan ekonomi inilah yang oleh para sejarawan diduga menjadi pendorong di balik keputusan besar yang menyusul: meninggalkan Malangke.
Kota yang Ditinggalkan
Sekitar tahun 1620, Malangke sebagai pusat Kedatuan Luwu ditinggalkan. Bukan direbut musuh atau dihancurkan perang, melainkan — menurut catatan berbagai sumber — ditinggalkan secara relatif tiba-tiba oleh penghuninya. Ibu kota baru kemudian didirikan di sebelah barat, di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Palopo, di bawah kepemimpinan Datu Pati Pasaung Toampanangi dan para penerusnya. Di kota baru inilah kelak berdiri Masjid Jami Tua Palopo (1604/1605) dan kompleks Istana Kedatuan yang menjadi pusat pemerintahan Luwu selama tiga abad berikutnya, hingga masa kolonial.
Namun perpindahan ini tidak serta-merta membawa kejayaan instan. Catatan perjalanan penjelajah Inggris James Brooke — yang kelak dikenal sebagai "Rajah Putih" Sarawak — ketika singgah di Palopo pada bulan April 1840 dalam pelayarannya melintasi Sulawesi, melukiskan kota itu sebagai "kota yang menyedihkan, terdiri dari sekitar 300 rumah yang tersebar dan tak terawat." Gambaran ini menunjukkan bahwa proses pemulihan Kedatuan Luwu pasca-kepindahan dari Malangke berjalan panjang dan tidak mudah, jauh dari puncak kejayaan yang pernah dicapai kota pelabuhan lamanya.
Warisan yang Tersisa
Kini, jejak fisik Malangke sebagai kota besar nyaris tak berbekas di permukaan tanah — tergantikan sawah, permukiman, dan jalan kabupaten yang tenang. Yang tersisa dan masih dapat disaksikan langsung adalah kompleks Makam Datuk Sulaiman di Pattimang, penanda paling nyata dari babak sejarah ketika kota ini masih menjadi pusat kekuasaan dan titik masuk Islam di Sulawesi Selatan. Selebihnya, kisah kejayaan dan keruntuhan Malangke lebih banyak hidup dalam catatan penjelajah asing, hasil kajian arkeologi, dan tradisi lisan masyarakat Luwu Utara.
Kisah Malangke menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah kerajaan besar sering kali bukan garis lurus dari satu istana megah ke istana megah berikutnya, melainkan rangkaian perpindahan, penyesuaian, dan kadang keputusan yang alasannya tak sepenuhnya terwariskan ke generasi berikutnya. Bagi Luwu hari ini, Malangke adalah pengingat akan babak awal yang sama pentingnya dengan Palopo — sebuah ibu kota yang pernah ramai, lalu sunyi, namun tidak pernah benar-benar dilupakan.
Sumber & referensi:
Bulbeck, D. & Caldwell, I., Land of Iron: The Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana Valley (ringkasan tersedia di Academia.edu)