Tenun Rongkong: Kain Terakhir dari Negeri di Atas Awan Luwu Utara
Penulis: Fadly Bahari
Diterbitkan:
Di pegunungan sebelah barat Masamba, masyarakat adat Rongkong masih merawat warisan tenun leluhur yang kini nyaris punah — sehelai kain yang merajut sejarah, kepercayaan, dan identitas Tana Rongkong, salah satu wilayah adat tertua di Luwu Raya.

Jauh dari hiruk pikuk Kota Palopo, di ketinggian 800 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, terhampar sebuah kecamatan pegunungan bernama Rongkong. Wilayah ini berjarak sekitar 60 kilometer sebelah barat Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara, dan hanya bisa dicapai melalui jalur berkelok yang menembus punggung bukit. Di tanah tinggi inilah sebuah komunitas adat bertahan dengan cara hidup yang jauh berbeda dari masyarakat pesisir Luwu — dan menyimpan salah satu kerajinan tenun paling langka di Sulawesi Selatan.
Tanah yang Diberkati
Nama "Rongkong" oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan kata marongko, yang berarti berkah. Tana Rongkong pun dipahami secara turun-temurun sebagai tanah yang diberkati. Secara administratif, wilayah adat ini terdiri dari beberapa desa di pegunungan, antara lain Limbong, Rinding Allo, Komba, Kanandede, Marampa, Minanga, dan Pengkendekan.
Menurut penuturan tokoh adat setempat, Rongkong secara historis merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kedatuan Luwu, kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang pusatnya berada di kawasan Malangke dan kemudian Palopo. Meski demikian, masyarakat Rongkong mengembangkan struktur pemerintahan adatnya sendiri yang khas, berbeda dari sistem kedatuan di dataran rendah.
Tomakaka dan Kehidupan yang Egaliter
Alih-alih dipimpin oleh datu atau bangsawan kerajaan, masyarakat Rongkong dipimpin oleh seorang tokoh adat bergelar Tomakaka. Tomakaka Rongkong saat ini adalah Bata Manurun — mantan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) wilayah Tana Luwu (periode 2009-2014 dan 2014-2020), yang beberapa tahun terakhir mendorong pemerintah Kabupaten Luwu Utara untuk menetapkan Rongkong sebagai wilayah adat resmi.
Kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Rongkong dikenal relatif egaliter, tanpa kesenjangan yang mencolok antarwarga. Mereka umumnya bertani sekali dalam setahun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, lalu menyimpan hasil panen dalam lumbung tradisional yang disebut alang atau bandala — sebuah sistem yang mencerminkan etos kebersamaan dan kecukupan, bukan akumulasi.
Benang yang Menyimpan Ingatan
Di tengah kehidupan agraris pegunungan itu, menenun menjadi bagian dari warisan leluhur yang diajarkan turun-temurun, terutama di Dusun Salurante, Desa Rinding Allo. Para penenun Rongkong secara tradisional mengolah pewarna dari bahan alam — antara lain daun tarum untuk menghasilkan warna biru-hitam, dan akar mengkudu untuk gradasi merah dan cokelat — sehingga kain tenun Rongkong umumnya tampil dalam palet warna merah, cokelat, dan hitam yang khas.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Paratiwi (Universitas Negeri Makassar) mencatat setidaknya enam motif utama dalam tenun Rongkong: Ulu Karua, Sekong Sirenden Sipomandi, Lampa-lampa, Rundun Lolo, Pori Lonjong, dan Pori Situtu. Motif Ulu Karua, misalnya, diambil dari kata "ulu" yang berarti kepala atau sosok yang dituakan, merujuk pada garis kepemimpinan dan leluhur komunitas. Secara umum, para peneliti menyimpulkan bahwa setiap motif tenun Rongkong bukan sekadar hiasan, melainkan representasi ikatan masyarakat dengan leluhur sekaligus pedoman nilai hidup sehari-hari — meski makna rinci dari kelima motif lainnya belum terdokumentasi secara luas dan masih menjadi bahan kajian lebih lanjut.
Kerajinan yang Nyaris Punah
Yang membuat tenun Rongkong istimewa sekaligus mengkhawatirkan adalah statusnya hari ini: jumlah penenun yang masih menguasai teknik dan makna motif leluhur ini disebut tinggal terhitung jari. Regenerasi menjadi tantangan nyata di tengah arus migrasi generasi muda ke kota dan minimnya dokumentasi tertulis mengenai teknik serta filosofi di baliknya.
Upaya pengakuan Rongkong sebagai wilayah adat resmi oleh AMAN dan pemerintah daerah, di satu sisi, membuka peluang agar warisan budaya non-bendawi seperti tenun ini turut mendapat perhatian dan perlindungan — bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai bagian hidup dari identitas Tana Rongkong yang terus dijaga di antara kabut pegunungan Luwu Utara.
Bagi Banua Sappa, kisah Rongkong adalah pengingat bahwa peta budaya Luwu Raya tidak berhenti di istana dan pesisir. Di lipatan pegunungannya, tersimpan pula jejak-jejak peradaban yang menenun sejarah mereka sendiri, seutas demi seutas benang.
Sumber dan referensi: